Hadiah Yang Dahsyat

Posted on 28/01/2008


Hari ini 28/01/2008, adalah hari dimakamkannya Soeharto, mantan Presiden RI ke 2. Berbarengan dengan ulang tahun ke 8 (delapan) anakku yang kedua, cewek manis bernama Nanin.

Dua minggu sebelumnya Nanin menerima rapor semester satu di kelas 2 SD Ngadirejo 4, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
“Rangking Satu!”… teriaknya dengan gembira ketika aku keluar dari kelasnya sehabis mengambil rapor. Tak sabar, dia menagih janji hadiah untuk prestasinya. Ibunya yang sedang kehabisan uang belanja mengingatkan dengan sabar, “Kalau bapak ibu tidak bisa membelikan hadiah sekarang, ya nanti barengan kalau mas Diki terima rapor seminggu lagi, atau, kalau masih bapak belum punya cukup uang nanti sekalian hadiah Ulang Tahun!”… Nanin mengangguk setuju. Hadiah yang dimintanya adalah makan bersama di restoran Bebek Goreng kesukaannya.

Hadiah serupa dijanjikan untuk Diki, kakak Nanin yang sudah kelas 7 (tujuh) SMP, ditambah hadiah novel Harry Potter terbaru yang terbit di Indonesia tanggal 13 Januari lalu. Syarat dan ketentuan berlaku, –bila rangking 1-3–.
Apa lacur… ketika Diki terima rapor, dia hanya rangking 8 dari 42 murid di kelasnya, atau rangking 9 paralel dari 253 murid kelas 7 di SMP-nya.
Bebek Goreng tertunda lagi karena syarat dan ketentuan tidak terpenuhi. Nanin marah-marah pada kakaknya;
“Kamu sih, tidak mau berusaha. Begini jadinya kalau kamu tidak rangking 3, bebek gorengnya nggak jadi kan?”.
Aku tersenyum saja, dan diam-diam keesokan harinya membeli novel Harry Potter 7 (Harry Potter and the Deathly Hallows)… Karena uangnya mepet, akhirnya beli yang sampul biasa seharga Rp. 150.000,-.
Buku itu aku simpan dan aku baca sendiri sampai tamat. Pikirku, nanti toh aku berikan kepada Diki. Sejujurnya, aku sudah cukup bangga dengan prestasinya, jauh melampaui prestasiku dan prestasi ibunya waktu sekolah dulu.
Menjelang Ulang Tahun Nanin, ibunya membujuk untuk mengganti bebek goreng dengan cumi-cumi (ikan sotong) hitam masakan ibunya sendiri. Nanin yang masih kecewa kepada kakaknya akhirnya setuju juga. Tapi, secara khusus Nanin minta es krim kepadaku. Aku pun setuju sambil mengingatkan kalau dia tidak boleh terlalu banyak minum es karena khawatir amandelnya bengkak.
Sehari sebelum Ulang Tahun Nanin, aku pergi ke toko elektronik dan memesan kulkas mungil kapasitas 150 liter. Beberapa tahun tinggal di Solo, ternyata aku begitu miskin sehingga membeli kulkas paling kecil pun aku tidak mampu. Dari toko elektronik aku bergegas pulang dan menunggu kiriman datang. Ketika bertemu Diki yang sedang asyik membaca Naruto, aku berikan kepadanya buku Harry Potter, yang diterimanya dengan penuh senyuman. Dia tahu, syarat dan ketentuan tidak terpenuhi tapi bapaknya sudah cukup bangga dengan prestasinya. Terharu dengan hadiah yang tetap diberikan, Diki mengatakan kepadaku bahwa dia bertekad untuk memperbaiki prestasinya. Nada suaranya menyiratkan ancaman pada Agam, teman sekelasnya yang kali ini menduduki rangking satu.
Nanin merengut iri karena kakaknya tetap mendapatkan hadiah. Buru-buru aku menenangkannya dengan berkata; “Hadiah untukmu nanti akan datang”… Nanin menoleh kepadaku, melayangkan pandangan bertanya-tanya. Aku diam saja, memeluknya, menenangkannya dengan cerita-cerita lucu…
Terhibur oleh tawanya sendiri, dia tidak menyadari bahwa kiriman kulkas telah datang. Diki dan Nanin bergegas menyambut kiriman, menerka-nerka, membaca tulisan di paket terbungkus kardus besar.
“Pak, ini apa? kulkas ya? buat siapa?”, Nanin menyergah terheran-heran.
“Itu hadiah ulang tahun untuk anak bapak yang rangking satu”, kataku pelan.
Diki dan Nanin kelihatan sangat gembira.
Nanin menggeleng-gelengkan kepala, pelan hampir berbisik dia berkata, “Wow… hadiah ulang tahun yang dahsyat“. Di pikirannya, mungkin nanti dia bermaksud menyimpan es krim kesukaannya.
Aku dan istriku saling berpandangan, ternyata ada kebahagiaan yang sangat besar di tengah kegembiraan anak-anak. Dan kami tersenyum penuh haru, melupakan semua kejadian buruk di antara kami…

Posted in: Fam