Parkinson

Posted on 19/02/2008

9


seusai tahajud ku merenung lagi
siapa dimana diri hina ini
lama ku tertidur dalam duniaku
nanarku memandang alam sekelilingku

beribu mujahid berguguran sudah
beribu pun tampak semakin merentah
namun kebatilan tak kunjung sirna
bahkan semakin menyesatkan dunia

kini tiba saat ‘tuk bangkitkan diri
hidup dan matiku untukmu berjihad
dalam Islam kutemukan diri
hidup di jalan-Nya atau mati syahid.

(renungan kader, oleh Ahmad Aris Muryasani)


Syair di atas adalah petikan dari sebuah lagu yang berjudul Renungan Kader. Lagu itu sangat dikenal di kalangan kaum muda Muhammadiyah. Pengarangnya Ahmad Aris Muryasani. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah Jawa Tengah, –sekarang organisasi itu tidak ada lagi berganti menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)– Emmmm…. aku tidak begitu mengenal Muhammadiyah dan anak-anak organisasinya.

Itu bagiku tidak penting…

Tapi… menurutku menarik membicarakan seorang Ahmad Aris Muryasani.

Beliau seorang yang cerdas. Bersekolah SD dan SMP di desa di lereng gunung Ungaran, SMA di sekolah favorit di Semarang, SMA 3. Akhirnya jadi Insinyur Sipil lulusan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang. Waktu remaja pernah menjuarai lomba mengarang tingkat nasional. Itu di tahun 1980an. Dengan uang hadiah lomba itu, beliau membeli buku-buku dan sebuah gitar yang bagus. Maklumlah, beliau mahir bermain gitar tunggal. Ahmad Aris Muryasani juga dikenal sebagai seorang yang pintar melucu, guyonan, dan membanyol. Tak heran, dimana pun dia berada, selalu banyak kawan akrab.

Sebagai seorang lelaki, beliau juga sangat jantan. Itu terbukti pada waktu melamar seorang gadis yang sekarang menjadi istrinya, beliau berangkat sendiri tanpa disertai orangtuanya, hanya ditemani seorang kawan sebagai penunjuk jalan dan aku. Istrinya yang sekarang menjabat sebagai anggota DPRD Kota Batam, dulu adalah kawan kuliahku seangkatan di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang. Ada yang sangat lucu waktu proses melamar gadis pujaannya itu. Maksud hati berbahasa Jawa yang halus –kromo inggil– apa daya macet di tengah karena bingung membahasakan ungkapan hatinya. Akhirnya, dengan meremas-remas tangan yang berkeringat dan muka merah padam, beliau berkata malu-malu “Emmh… Pakai bahasa Indonesia saja ya pak! bu!”…

Hahahaha…

Sekarang beliau menetap di Batam, mempunyai 3 orang anak, yang pertama cowok, sudah kuliah di Fakultas Kedokteran UNDIP, yang kedua cewek, masih SMP di Batam, dan yang ketiga cowok juga, bersekolah di SD.

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengannya, bahkan sempat tinggal beberapa hari di rumahnya. Wajahnya yang dulu selalu ceria dan penuh semangat seakan sirna. Berganti dengan raut murung dan depresi. Aku tahu pasti, bukan seperti itu raut yang sebenarnya. Di dalam hatinya, di dalam jiwanya masih bergelora semangat dan optimisme. Raut muka murung dan depresi itu karena beliau menderita Parkinson. Dengan gelora semangatnya, beliau masih beraktivitas, bepergian sendiri dengan sedan matic-nya,walaupun sebagian jari-jari tangan kirinya sudah kaku, sulit untuk digerakkan, pun sedikit mengalami kesulitan mengganti transmisi.

Ketika aku harus kembali ke habitat untuk meneruskan aktivitasku seperti biasa, beliau bersama Yudi -sopir pribadinya- mengantar aku ke Bandara Hang Nadim. Sambil menunggu keberangkatan pesawat, kami makan nasi padang bersama.

Ketika berpamitan, aku memeluknya, tak kuasa menahan air mata, aku menangis di pelukannya. Dan pura-pura terburu-buru untuk menyembunyikan airmataku. Rupanya aku baru menyadari bahwa aku sangat menyayanginya. Beliau, Ahmad Aris Muryasani adalah kakakku yang kedua.

Semoga kau diberi ketabahan menghadapi cobaan hidupmu. Seperti katamu, hidup di jalan-Nya atau mati syahid.

Posted in: Fam