Wahyu Bintang Karainan

Posted on 23/02/2008

4


Bapak baru tahu mama-mu hamil ketika bapak sedang terbaring di Rumah Sakit. Tulang pundak bapak patah karena jatuh dari sepeda motor. Ketika perut mama-mu semakin membesar, terpaksa mama-mu berhenti bekerja.

Jadilah mama-mu hidup bersama bapak.

Berpindah-pindah, terlunta-lunta, karena keadaan ekonomi yang sangat buruk. Bahkan ketika kamu lahir pun keadaan ekonomi masih belum berubah. Terpaksa untuk membayar biaya persalinan bapak harus pinjam uang ke Sekolah Rakyat.

Jadilah kau anak Pattiro Sekolah Rakyat.

Kamu lahir pagi-pagi sekali, sekitar jam 4 dini hari sebelum subuh. Dengan berat 4,2 kg dan panjang 50cm, kau tampak besar sekali. Selama seminggu, bapak tidak meninggalkanmu dan mama-mu sedikitpun. Mulai dari mengurus ari-arimu, mencuci, memasak tiap hari, semua bapak lakukan sendiri karena hanya itu yang bisa bapak lakukan untuk menunjukkan cintaku padamu. Bapak memberimu nama “Wahyu Bintang”, karena waktu menunggui mama-mu melahirkan bapak terpaksa tidur di emperan klinik, menunggu, berdebar-debar sambil menatap bintang. Direktur Sekolah Rakyat menambahi namamu dengan “Karainan”, artinya kepagian.

Jadilah namamu “Wahyu Bintang Karainan”.

Menurut Pak Direktur, ada temannya yang bernama Lintang Karainan. Ah… bapak gak peduli, toh bapak gak kenal. Tapi sejujurnya, namamu jadi bagus sekali. Seorang teman bapak yang eksentrik menambahi nama depan “Titis”. Namamu bertambah panjang.

Jadilah namamu “Titis Wahyu Bintang Karainan”.

Ketika usiamu baru 3 (tiga) bulan, bapak dan mama-mu pindah ke sebuah perumahan. Hampir satu tahun kami hidup dalam ketenangan, walaupun masih saja kekurangan. Banyak kawan bapak datang berkunjung ke rumah itu. Pernah, seorang kawan bapak yang alim dan kejawen datang berkunjung. Dia kelihatan senang denganmu.

Ketika pulang, dia berpesan agar namamu ditambahi dengan “Hyang Wekas”. Aku merasa aneh, karena nama itu adalah gelar raja Jawa kuno. Namamu sudah terlalu panjang.

Jadilah namamu “Hyang Wekas Titis Wahyu Bintang Karainan”

Tapi, bapak dan mama-mu lebih nyaman bila namamu “Wahyu Bintang Karainan” saja. Bapak suka memanggimu “Reina”, mama lebih suka memanggilmu “Raina”. Ah sama saja… Tetap saja kau gadis cilik yang cantik dan ceria.

Ketika usiamu lewat satu tahun, mama-mu mengajakmu pindah ke kota asalnya…

Jadilah kau jauh dari bapak. Walaupun begitu setiap kali kita bertemu, bapak akan memastikan bahwa senyum manismu masih selalu ada. Seperti cinta bapak dan mama padamu, yang tak akan luntur sepanjang masa.

Posted in: Fam