Biopori dan (curhat tentang) HAKI

Posted on 29/03/2008

3


Beberapa waktu lalu saya membaca-baca di blog Lita Uditomo, ada artikel menarik tentang ketertarikan Lita pada teknologi resapan yang dikembangkan IPB yang bernama “biopori”. Sebetulnya sudah hampir setahun ini saya mengenal teknologi itu. Awalnya melihat di tayangan televisi, kemudian mencari-cari referensi di buku, internet, dan akhirnya mempraktekkan sendiri. Saat ini saya mengelola kira-kira 60 lubang resapan di lingkungan saya. Sekedar hobby, dan mengamati untuk kepuasan pribadi. Kalaupun bermanfaat bagi orang lain, itu hanya saya anggap “efek samping” saja. Ketertarikan akan teknologi itu karena di belakang rumah saya berdiri sebuah tower SUTT, yang melintas di tengah perkampungan, dan akhirnya rapat dikelilingi rumah-rumah warga. Itu membuat lahan kosong yang hanya ditumbuhi rumpun-rumpun pisang dan sebuah tegakan tower SUTT tersebut tidak mempunyai saluran pembuangan air. Bila hujan tiba, areal seluas kira-kira 300 meter persegi itu berubah menjadi danau kecil yang dalamnya bisa mencapai setengah meter. Malamnya, dapat dipastikan di danau itu ramai sekali terdengar suara kodok bernyanyi, kang-kung-kang-keng-kong…
Saya yang prihatin melihat danau dadakan yang muncul tiap kali turun hujan, terlalu malu (saya takut di-cap sok pinter) untuk mengusulkan kepada pak RT dan pak RW setempat serta warga sekitar untuk membuat saluran pembuangan melewati rumah salah satu warga. Diam-diam saya mencoba membuat lubang-lubang seperti yang saya pernah lihat di televisi, yang katanya efektif untuk meningkatkan daya resap tanah. Alat pengebornya meniru bor tukang sumur dengan ukuran lebih kecil. Pesan di tukang las dengan biaya tidak lebih dari 50ribu. Saya membuat beberapa lubang sedalam kira-kira satu meter, dengan diameter kira-kira 10cm. Secara tepatnya saya tidak mengukurnya karena hanya coba-coba meniru dari referensi seadanya yang saya tahu. Jumlahnya pun saya tidak tahu dengan pasti karena tidak saya menghitungnya, juga karena dibuat secara acak baik tempat maupun waktunya. Tentu saja saya tidak berani membuat lubang terlalu dekat dengan tower SUTT, saya khawatir kalau mengganggu struktur tanah di sekitar tower yang mungkin bisa mempengaruhi kestabilannya. Saya juga membuat beberapa lubang serupa di depan rumah di antara tanaman hias dan di sela-sela pelataran semen yang telah pecah. Beberapa lubang juga saya buat di pekarangan tetangga. Setiap lubang yang selesai dibuat, diisi padat dengan serasah dedaunan atau potongan rerumputan yang tumbuh liar di sekitar lahan kosong itu. Pikirku, sekalian bersih-bersih, hehehe… Lubang-lubang yang terletak di pekarangan ditutup dengan besi cor berbentuk kres (#=silang) sebagai antisipasi agar tidak ada kaki anak-anak yang “kejeblos” masuk lubang. Maklum, rumah kami adalah markas anak-anak kampung teman Diki dan Nanin. Lubang buatan saya itu yang paling tua berumur kira-kira 6 (enam) bulan. Yang paling baru belum ada sebulan. Sesekali, kalau sempat, lubang-lubang itu saya tambah isinya agar tetap padat. Beberapa lubang yang telah cukup lama pernah saya kosongkan isinya dan diganti serasah dedaunan baru. Hasil kurasan, secara fisik materialnya mirip sekali dengan kompos yang biasa dijual di kios tanaman hias, wajar saja karena itu hasil pembusukan serasah dedaunan dan rerumputan. Sudah pasti itu adalah kompos. Saya pernah mencoba memakai “kompos” itu untuk media tanam. Hasilnya sangat bagus. Tanaman pot cukup subur dan bertahan lebih lama dibandingkan pot yang memakai media tanam tanah biasa yang dipupuk macam-macam pupuk pabrikan yang dibeli di kios tanaman hias. Bagaimana hasil resapannya? Setelah saya amati beberapa lama, saya memastikan telah terjadi kemajuan. Danau indah itu lenyap lebih cepat dari biasanya. Sayangnya saya mengukur hanya memakai perasaan saja, tidak menggunakan indikator-indikator tertentu. Maklumlah, saya terlalu bodoh untuk menjadi seorang peneliti. Diam-diam lagi nih…. Saya menjadi sangat kagum pada penemu teknologi biopori ini. Dalam hati dan tindakan, saya sangat menghargai karyanya. Nah… setelah membuka blog mbak Lita itu, saya kembali menelusuri www.biopori.com yang mana situs itu selama beberapa waktu menjadi salah satu referensi saya dalam membuat lubang-lubang. Saya pikir sudak ada perubahan, tetapi ternyata masih saja ada hal yang mengganjal. Karena ganjelan itu akhirnya saya menulis surat ke sekretariat@biopori.com. Berikut ini surat saya dan jawabannya.

Surat saya seperti ini:
————————–
Saya senang baca2 di http://www.biopori.com, tapi saya tidak sepakat dengan kalimat di bagian bawah: “Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi situs ini dalam bentuk maupun media apapun tanpa ijin tertulis dari Tim Biopori IPB”. Menurut saya, sebaiknya tulisannya adalah: “Reproduksi sebagian atau seluruh konten situs ini diperkenankan untuk keperluan non komersial dan wajib mencantumkan rujukan/sumber aslinya”. Seandainya teknologi anda bebas disebarluaskan, artinya Tim Biopori telah melakukan “amal sholeh” yang tak terhingga nilainya. Kira2 sudah 6 bulan ini saya mempraktekkan teknologi ini, hanya dengan belajar di televisi, internet, buku-buku, dan praktek langsung. Hasilnya sangat baik. Saat ini saya mengelola hampir 60 lubang di lngkungan sekitar tempat tinggal saya sebagai hoby. Malah, beberapa kali saya menguras isi lubang dan mengisi ulang dengan serasah dedaunan yang baru. Hasil kurasan saya pakai untuk media tanaman hias. Hasilnya bagus. Apakah dengan begini saya akan dituntut kerena melanggar HAKI????

Andy MSE
————————–

Ini jawaban dari Tim Biopori:
————————–
From: sekretariat@biopori.com
Date: Friday, March 28, 2008 6:05 AM
To: Andy MSE
Subject: Re: Teknologi lubang

Saya senang baca2 di http://www.biopori.com, tapi saya tidak sepakat dengan kalimat di bagian bawah: “Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi situs ini dalam bentuk maupun media apapun tanpa ijin tertulis dari Tim Biopori IPB”.

Mohon maaf, kami perlu tegas dalam hal ini sebagai saran edukasi bagi masyarakat agar dapat saling menghargai hasil karya orang lain. Selain itu dengan adanya komnukinasi melalui permohonan reproduksi kami dapat memonitor di media apa saja tulisan ini direproduksi sehingga kami dapat melakukan koreksi (bila diperlukan) bila ada penyimpangan ataupun modifikasi dari tulisan tersebut.

Kira2 sudah 6 bulan ini saya mempraktekkan teknologi ini, hanya dengan belajar di televisi, internet, buku-buku, dan praktek langsung. Hasilnya sangat baik. Saat ini saya mengelola hampir 60 lubang di lngkungan sekitar tempat tinggal saya sebagai hoby. Malah, beberapa kali saya menguras isi lubang dan mengisi ulang dengan serasah dedaunan yang baru. Hasil kurasan saya pakai untuk media tanaman hias. Hasilnya bagus. Apakah dengan begini saya akan dituntut kerena melanggar HAKI????

Yang anda lakukan adalah masalah aplikasi itu syah-syah saja dilakukan, karena kami menyebarkan teknologi ini adalah untuk diaplikasikan.

Salam
————————–

Saya heran, lembaga besar yang dibiayai oleh uang publik ternyata belum ikhlas membuka ruang selebar-lebarnya (masih pelit) untuk membagi karya kepada publik. Menurut saya, bebas berbagi karya tidak akan menjadikan miskin dan tidak akan mengurangi penghargaan orang lain. Sangat wajar bila Bill Gates bisa orang terkaya di dunia karena jualannya sukses. Sebaliknya yang tidak berniat jualan seperti Linus Torvalds pun ternyata tidak menjadi “kere” karena buah pikirannya dikembangkan secara bebas. Di Indonesia juga ada yang tidak pelit berbagi karya semisal Kang Onno W Purbo (saya sepakat dengan pendapat beliau soal hak cipta). Berapa lembar perpustakaan Onno yang di-share dengan gratis? Cukup banyak!… Mari bermain asumsi sejenak!… Bila rata-rata satu lembar file dokumen membutuhkan space 20KB, maka akan ada 50lb per MB, atau 50.000lb per GB. Menurut file ini, perpus Onno total ada 3,7GB… Jadi, perpus gratis Onno terdiri dari 50.000 x 3,7 = 185.000 lembar. Taruhlah sepertiganya adalah file gambar dan lain-lain. Setidaknya masih ada 120ribu lembar bacaan gratis. Terlepas dari berapa banyak lembaran perpus Onno, saya mempunyai keyakinan bahwa isi perpus Onno itu tentunya tidak omong kosong belaka. Sama seperti Linus Torvalds, saya yakin kang Onno tidak menjadi miskin karena membagi buah pikirannya secara gratis. Penghargaan publik kepada mereka, saya juga sangat yakin tidak sedikitpun berkurang. Justru, amal sholeh mereka semakin bertambah.

Sepakatkah anda? Ataukah saya sedang ngelantur ya???