Jakarta menakjubkan: Stasiun dan Kereta Api

Posted on 11/09/2008

25


suatu waktu aku pernah naik kereta api, siang dari solo ke jakarta. biasanya aku selalu jalan malam hari kecuali kalau balik dari jakarta ke semarang atau ke solo. kali itu spesial, berhubung dikejar target, aku ke jakarta siang-siang (terakhir kalinya aku naik kereta siang dari jawa ke jakarta adalah tahun 1998).

dasar sial, ranselku ilang. isinya pakaian, laporan-laporan, dan laptop, juga blackberry gendut yang baru ditebus beberapa minggu, juga barang-barang kecil lainnya.

kalau jalan malam, aku selalu tidur di bawah (lantai) walau di kereta eksekutif sekalipun, beralas selimut berbantal ransel. aku selalu merasa aman. sekali jalan siang malah kena petaka. sialan!… selalu saja naik kereta bisnis membuat aku lebih waspada, kalau naik eksekutif selalu merasa aman. itu salahnya. ransel hilang justru di kereta eksekutif. laporan pada polsuska juga tidak ada pengaruhnya sama sekali.

dulu, di tahun 80-90an, kereta bisnis/utama adalah kereta terbaik di negeri ini. sejalan dengan waktu, gerbong-gerbong yang semakin uzur tak lagi layak dijual mahal, digantikan dengan kereta eksekutif yang nyaman ber-AC.
di suatu akhir pekan aku pulang ke solo, karena kehabisan uang, juga habis pula tiket kereta eksekutif terpaksa naik bisnis, senja utama solo. lumayan juga. sewa gelaran 3000 rupiah, tidur di pojokan, bangun-bangun sudah sampai jogja. sejam kemudian sudah bertemu komputer kesayangan.

kisah nyata di jatinegara:

beberapa kali pulang ke jawa liwat stasiun jatinegara membuat beberapa hal cukup apal. pernah ada seorang tua yang kelihatan gundah gulana. duduk di lantai di sebelahku, tiba-tiba membuka pembicaraan bahwa dia terlantar. mencari anaknya yang kerja di jakarta tapi nggak ketemu. berceritalah dia (selanjutnya berbahasa jawa) bahwa asalnya dari sebuah desa di boyolali jateng. mau pulang uang tinggal tigarebu, rencana dia mau nggandul loko. mendengar cerita itu, aku -yang sangat berpengalaman sejak SMA naik kereta, loko, truck, bus tanpa bayar- enteng saja kasih saran. “sampean naik saja kereta bengawan sampai ke solo, nanti mbayar di atas langsung sama kondektur. paling-paling dikasih sepuluh rebu kondekturnya nggak apa-apa”. trus aku belikan sebotol akua dan aku beri uang duapuluh rebu. ketika kereta bengawan sudah mampir di jatinegara, dia aku suruh naik. blas… ilanglah dia di tengah kerumunan orang. aku -dalam hati- bersyukur bahwa sekarang tidak lagi mengalami kejadian ngandul-ngandul loko.

beberapa waktu sesudah itu, aku kembali mampir di jatinegara karena mau pulang ke jawa. we…e…e…e… kok ketemu lagi sama orang itu. duduklah dia di sebelahku. membuka pembicaraan yang hampir sama dengan beberapa waktu lalu aku ketemu. hhmmm… sebelum dia selesai bercerita, aku memberi nasehat,

“pak!, kalau sampean mau nipu orang itu cari sasaran lain saja. saya sudah apal raine sampean, lagian kalau sampean cari duit caranya jangan kayak gini. nanti rejekine sampean nggak barokah, sampean itu mau bikin malu wong jowo ya?”.

bapake itu diam dan kelihatan malu buangets, kemudian minta maaf. ketika aku ambil fotonya dia melengos, akhirnya kena juga satu jepretan buram. aku yang sudah puas beruneg-uneg trus keluarin dompet, ambil sepuluh rebu trus aku berikan pada bapak itu (untuk menebus dosa karena aku sudah marah-marah padanya, hehehe…). sebelum dia berkata-kata lebih lanjut aku tinggal pergi saja.

dasar jakarta menyebalkan, ada-ada saja cara orang mencari nafkah.

yang menarik di perjalanan:

melihat-lihat bermacam stasiun yang beraneka gaya. ada beberapa stasiun yang aku suka karena tidak menggunakan lagu standard ting-tang-ting-tong seperti biasanya. aku catat: stasiun semarang tawang, sering mengumandangkan lagu empat penari, stasiun purwokerto (atau kroya, aku lupa), sering mengumandangkan lagu di tepinya sungai serayu. hampir semua stasiun kereta di negeri ini adalah peninggalan masa penjajah belanda tengik. untung saja negeri ini pernah dijajah, coba saja kalau tidak pernah, mana bisa punya banyak stasiun yang megah.

Pernahkah saudara dua kali bertemu penipu yang sama? Kalau iya, maafkan saja, mumpung bulan Puasa…

Posted in: Aeng-aeng