mbah Tamsir: sang pemukul bedug

Posted on 29/09/2008

24


Dulu sewaktu aku tinggal di Limbangan, Kendal, pernah akrab dengan seorang tua yang khusyuk. Beliau dipanggil mbah Tamsir oleh orang-orang di kampung Limbangan. Sehari-hari mbah Tamsir selalu mengawal waktu-waktu sholat di Masjid Besar Limbangan. Bila hari Jum’at tiba, mbah Tamsir selalu datang paling awal, menyiapkan segala uborampe untuk Jum’atan, juga memukul bedug sampai tiba saat khotib menyampaikan khotbah.

Entah kenapa aku merasa dekat dengan mbah Tamsir. Hampir setiap akhir Ramadhan aku selalu memberikan sekedar buah tangan berupa sarung atau baju batik. Mbah Tamsir sangat senang, dan setiap kali melihat senyumnya aku merasa damai. Sekarang tidak lagi. Itu karena beberapa bulan lalu mbah Tamsir sudah berpulang ke Rahmatullah. Sayang sekali aku terlambat mengetahuinya, maklum semenjak berdomisili di kota Solo aku jarang-jarang berkunjung ke Limbangan.

Posted in: Cangkrukan