Parijotho

Posted on 08/11/2008

45


Bagi masyarakat Jawa, apalagi pecinta kesenian tradisional, tentunya sudah akrab dengan Tembang Macapat Sinom Parijotho, gubahan Sunan Muria.

Raden Umar Syaid atau Raden Said, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Muria adalah salah seorang dari 9 Wali di Tanah Jawa yang terkenal dengan sebutan Walisanga atau Walisongo. Beliau adalah salah seorang penyokong Kerajaan Demak Bintoro, dan ikut berperan dalam mendirikan Masjid Demak. Mendapat gelar Sunan Muria, karena beliau berdakwah di kalangan rakyat jelata di daerah-daerah di lereng Gunung Muria di sebelah utara kota Kudus sekarang, sampai wafatnya pun beliau dimakamkan di Gunung Muria. Sama seperti ayahnya -Sunan Kalijaga,- dan adik iparnya -Sunan Kudus-, dalam berdakwah, Sunan Muria mempertahankan kesenian Jawa yang sangat digemari masyarakat pada saat itu. Beliaulah pencipta gending Sinom dan Kinanti.

Saya tidak akan bercerita tentang tembang-tembang dan gending-gending Jawa itu, melainkan tentang tumbuhan yang (bisa jadi) menginspirasi Sunan Muria dalam menggubah Sinom Parijotho.

Di Jawa, lazim disebut PARIJOTHO, sedang di Kalimantan (Balikpapan) ada buah semacam Parijotho yang disebut Karamunting. Saya tidak tahu persis, apakah Parijotho bersaudara Karamunting. Parijotho sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Just Another Blog-M, juga di BLOG-EM, dan lagi-lagi juga ada di Blog-Em, secara biologi, diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom:
Plantae (tumbuhan)

Subkingdom:
Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio:
Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio:
Magnoliophyta (berbunga)

Kelas:
Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub-kelas:
Rosidae

Ordo:
Myrtales

Familia:
Melastomataceae

Genus:
Medinella

Spesies:
Medinella speciosa L.

Ciri fisik:
Perdu, tegak, tinggi 1-2 meter.

Ekologi dan penyebaran:
Merupakan tumbuhan liar di lereng-lereng gunung atau di hutan-hutan dan kadang dibudidayakan sebagai tanaman hias. Tumbuh baik pada tanah yang berhumus tinggi dan lembab, pada ketinggian 800 m sampai 2.300 m di atas permukaan laut. Berbunga pada bulan November-Januari dan waktu panen yang tepat bulan Maret-Mei.

Bagian yang digunakan:
Daun dan buah dalam keadaan segar atau setelah dikeringkan.

Kegunaan:
Anti-bakteri, obat sariawan dan anti radang.

Khasiat dan pemanfaatan:

  1. Obat sariawan: buah parijoto segar sebanyak 5 gram, dicuci, ditumbuk halus dan larutkan dalam 100 ml air matang kemudian gunakan untuk berkumur-kumur, sedangkan sisanya diminum.
  2. Obat diare: daun parijoto segar sebanyak 20 gram, dicuci direbus. dengan 400 ml air sampai mendidih selama 15 menit, disaring, setelah dingin diminum 2 kali sehari pagi dan sore.

Kandungan kimia:
Daun dan buah parijoto mengandung saponin dan kardenolin, di samping itu buahnya juga mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tanin.

Parijotho banyak dijumpai di desa-desa di lereng Gunung Muria. Dipercaya, terutama oleh penduduk pedesaan, wanita hamil yang makan rujak buah Parijotho bersama dengan buah Delima akan dikaruniai anak yang ganteng atau cantik serta soleh solihah. (Kira-kira ibu dari Cah Sholeh ini dulu ngidam Parijotho nggak ya??? –sekedar informasi, nama sebenarnya dari Cah Sholeh adalah Andy Muryanto, tuh kan… ada murya-nya)…

Baru-baru ini, saya menjumpai Parijotho di lereng Ungaran. Subur Wahyudi, salah seorang pegiat Sekolah Rakyat yang kini sudah tidak aktif lagi, sekarang membudidayakan Parijotho dalam jumlah yang cukup banyak. Menurut Subur yang berdomisili di Kawasan Candi Gedongsongo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang itu, Parijotho selain bermanfaat untuk kesehatan, terutama untuk wanita hamil, juga mempunyai nilai ekonomis yang cukup bagus. Itulah yang mendorong Subur untuk mengembangkannya, baik memperbanyak melalui biji maupun dengan mencangkoknya.

Ketika saya mencoba mencicipi buah Parijotho yang telah matang yang berwarna merah tua itu, rasanya masam sedikit sepet, namun segar. Memang benar, cocok sekali untuk rujakan. Melihat bentuk fisik tanaman, bunga, dan buah parijotho, saya malah menginginkannya untuk tanaman hias. Sayang sekali, Parijotho tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Mungkin sekali tidak cocok bila dikembangkan di dataran rendah seperti di Solo.

Bila sedulur berkeinginan untuk mencoba buah Parijotho dari lereng Ungaran, silahkan kontak Subur Wahyudi melalui www.sekorakyat.co.cc.

Posted in: Fren, Plesiran