Sarasehan Blogger ala Solo

Posted on 01/12/2008

42


Sebetulnya beberapa kawan blogger Solo sudah posting tulisan serupa, dan pasti tulisannya lebih serius daripada tulisan saya, namun saya nggak enak hati kalau nggak ikut-ikutan bercerita. Setidaknya dari tulisan ini bisa diungkapkan sedikit uneg-uneg di hati saya yang mungkin saja berbeda dengan kawan-kawan blogger Solo lainnya.

Sebetulnya juga, hari Minggu, 30 November 2008 yang lalu kejar-mengejar dengan waktu. Pagi masih di Limbangan, Kendal, dan harus segera pulang karena ada undangan pernikahan Endang, seorang kawan Pattiro Jakarta yang asli Solo di Masjid Fatimah Singosaren. Ternyata, mengendarai motor dalam keadaan sakit gigi yang penuh sredut-senut jadi nggak bisa ngebut. Terlambat deh! Untungnya masih ada cukup waktu untuk menghadiri sarasehan, walaupun terlambat juga.

Sampai di SGM -SoloGrandMall, tempat sarasehan, pertama kali saya ketemu Blontank, seorang jurnalis, juga seniman, juga budayawan muda yang cukup dikenal di kota Solo. Kepadanya saya tanya tentang Kurnia, ternyata nggak hadir karena sedang mengikuti sesuatu test (jarene cpns) di Jakarta. Trus tanya tentang Dony, ternyata ada. Sungguh mengejutkan, si Dony yang dalam bayangan saya kurus seperti gambar avatarnya, ternyata seorang pemuda yang kekar, tinggi besar. Pokoke medeni bocah… Karena nggak ada teman yang saya kenal, ya saya jadi ngobrol sok akrab dengan Donny sambil mendengarkan cuap-cuap beberapa orang di meja panel di depan, dan selanjutnya di sesi istirahat sempat kenalan langsung dengan Iqbal yang kalem tapi responsif, Arif Di Solo (link-nya lupa) yang tidak seganteng fotonya, Herman yang cerdas,   Anto yang antusias, Wisnu yang trengginas, Fauzan yang dahsyat, Zoraya yang cantik tapi blognya baru satu tulisan, Nisa yang punya kepekaan sosial tinggi namun rendah hati,  Ayu yang ngakunya perempuan biasa tapi blognya bagus sekali, Badoer yang jago jualan lewat blognya, juga seorang bapak muda yang bersemangat dari KomunitasHistoria (saya nggak tahu namanya padahal ballpoint-nya masih kebawa  saya), dan lain-lain. Itu adalah nama-nama yang saya ajak ngobrol walaupun sekelebatan namun cukup berkesan. Sekali saya mencoba mengajak seseorang cewek bersama pacarnya untuk berkenalan, ternyata belum punya blog (waduh). Saya juga kehilangan Lady Elen yang minggu sebelumnya hadir, dan sempat protes di blog ini karena fotonya nggak ada.

Blontank yang bergaya dan Andy MSE yang tersenyum kecut pringas-pringis menahan sakit gigi >> gambar dari Dony.

Sayangnya, sampai sore tadi saya belum melihat postingan tentang Sarasehan Blogger Solo di http://www.kentingan.wordpress.com, yang kontennya katanya digadhang-gadhang sebagai bakal calon blog komunitas, tentunya nanti nggak nge-subdomain gratisan lagi (saya pikir, saya terlambat posting, ternyata ada yang lebih lambat, hehehe…). Untungnya di PasarSolo (berkat Mas Iqbal) sudah lebih dulu, dan saya merasa sepertinya PasarSolo justru malah layak dijadikan blog komunitas, tapi saya juga belum jelas maksud dan tujuan PasarSolo. Jangan-jangan saya malahan yang keliru nangkep informasi (maklum wes tuwir).

Suasana Sarasehan Blogger Solo 30/11/2008 >>gambar dari Mas Iqbal.

Di sarasehan itu juga sudah muncul beberapa usulan nama antara lain bengawan (klasik banget), solobloggeraddict (cah enom), subosukawonosraten (katrok, susah nulisnya), pokoknya bermacem-macem usulan, namun belum disepakati nantinya pakai nama apa, yang jelas, nama harus menunjukkan identitas kota Solo dan sekitarnya. Sedangkan ekstensi domain ada yang usul dot net, tapi lebih banyak yang cenderung menggunakan dot org.

Bagi saya, apapun namanya yang penting komunitasnya solid.

Catatan kecil dari saya pribadi: Ternyata masih banyak blogger yang merasa rendah diri karena mesin yang dipakainya, mereka menggunakan blogspot dan wordpress yang gratis, padahal banyak juga yang pakai domain sendiri tapi blognya biasa-biasa saja. Banyak pula yang pakai gratisan tapi blognya bagus. Salah satunya adalah Ayu, yang justru menurut saya alamatnya keren sekali karena nge-subdomain di ormawa.uns.ac.id.  Ada juga beberapa remaja yang sangat antusias untuk cari duit dari weblognya, saya yang tidak pengalaman soal itu tentu saja tidak bisa kasih banyak komentar. Kalau saya, sesuai blog yang saya gunakan ini, tidak begitu suka me-ngojek-kan blog, melainkan lebih banyak berkonsentrasi untuk menulis, walaupun saya tetap mendukung siapapun yang menggunakan weblognya untuk cari duit. Badoer lebih jago soal itu.

Harapan saya, dengan adanya komunitas blogger yang akan segera dibentuk, akan mempererat jalinan silaturahmi, apapun jenis mesinnya, apapun topik blognya, mau nulis soal pribadi, sejarah, realitas sosial, kritik, opini, uneg-uneg, curhat, jualan liwat blog, atau mau apa saja, menurut saya, bila berkumpul dalam komunitas pasti akan mendapatkan banyak keuntungan. Saya membayangkan, bilamana ada 50 anggota komunitas (saja), dan masing-masing mau menyumbang satu tulisan sekali dalam 3 bulan, tentunya blog komunitas itu akan ada apdet sekitar 2 hari sekali. Tentunya ini bisa menjadi modal untuk membangun blog yang kuat. Saya masih percaya bahwa nyawa sebuah website/weblog adalah pada kontennya, bukan pada tampilannya, bukan pada trafik dan pageranknya. Dua yang terakhir pasti akan mengikuti bilamana konten yang menjadi nyawa selalu diperbaharui.

Di penghujung sarasehan yang diakhiri pada jam 16.30, saya masih sempat kirmah (mikir omah), berhubung saya tidak ikut makan siang karena gigi yang sredut-senut, saya nyawut dua bungkusan kotak karton jatah  makan siang untuk oleh-oleh Diki dan Nanin. Lumayan…

———————
*mohon maaf, senjata andalan saya masih di bengkel, jadi gambar yang menyertai tulisan ini juga nyawut sana-sini.

Posted in: Cangkrukan