SMS Gateway ala Sekolah Rakyat

Posted on 02/12/2008

23


Di Sekolah Rakyat di Limbangan Kendal ada mainan baru -sebetulnya sudah lama. Kami menyebutnya SMS Gateway, walaupun kenyataannya jauh dari teknologi SMS Gateway. Alatnya sederhana, cuma seperangkat komputer yang sehari-hari digunakan untuk bekerja, sebuah pesawat telepon seluler  keluaran lama, kabel data, dan software yang diunduh bebas dari internet (pilihannya banyak sekali dan belum mikir apakah legal atau bajakan).

Cara kerjanya juga sangat sederhana, karena software itu memudahkan untuk kirim dan terima sms secara massal.  Pemanfaatannya juga masih sak karepe dewe. Namun, saya mencatat ini adalah inovasi yang cukup brilian, apalagi memanfaatkan seadanya peralatan.

Di Limbangan dan sekitarnya, Sekolah Rakyat mempunyai dampingan komunitas petani. Tentu saja sebagai petani juga butuh informasi yang ap-tu-det. Biasanya soal harga saprotan dan harga komoditi di pasar lokal. Salah satu cara mendapatkan informasi dengan cepat adalah melalui SMS Gateway yang dikelola oleh Sekolah Rakyat. Hanya butuh satu orang penyedia informasi saprotan (dimintakan kerelaan seorang pemilik toko sarana pertanian), dan satu orang penyedia informasi komoditi pertanian (diminta kerelaan pedagang di pasar komoditi pertanian). Kedua orang tersebut mengirimkan satu SMS setiap hari ke nomor  Sekolah Rakyat yang digunakan sebagai gerbang. SMS itu kemudian diteruskan secara massal ke nomor-nomor petani yang tergabung dalam keanggotaan SMS Gateway. Didukung oleh beroperasinya 5 operator seluler di Limbangan dan sekitarnya, tidak ada kesulitan dalam penerimaan dan pengiriman SMS.

Beberapa pertanyaan pada awal assessment yang meragukan ternyata sudah memperoleh jawaban antara lain:

  1. Apakah petani butuh informasi?
    Ternyata butuh juga, sangat jelas yang dibutuhkan petani terutama soal informasi harga saprotan, sedangkan harga komoditi kurang dibutuhkan. Namun, ada keunikan keluarga petani di Limbangan, biasanya, dan banyak sekali, bu tani yang nyambi adhang-adhang alias berdagang hasil pertanian dengan teknik jemput bola langsung ke desa-desa. Ini menjawab pertanyaan apakah petani butuh informasi harga komoditi. Informasi harga komoditi juga dipergunakan untuk mensiasati waktu yang tepat untuk menjual hasil pertanian yang bisa diolah pasca panen dan disimpan dlam beberapa waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh harga maksimal. Selain itu, informasi harga komoditi bisa dipakai untuk ber-strategi mengenai tanaman apa yang akan dipilih untuk dibudidayakan di periode tanam mendatang.
  2. Apakah ada manfaatnya bagi pemberi informasi?
    Ternyata ada. Siapa si pemberi informasi diinformasikan kepada para petani, sehingga untuk memperoleh jaminan harga yang sesuai SMS, pemberi informasi akan menjadi pilihan utama  sebagai tempat untuk membeli saprotan dan menjual komoditi. Asyik kan???
  3. Apakah petani di pedesaan punya hape?
    Ternyata punya juga. Memang tidak semua petani punya hape yang bisa digunakan untuk menerima informasi dari SMS Gateway, namun, di jaman sekarang ini, walaupun petani di pedesaan secara pribadi tidak punya hape, bilamana mereka mempunyai anak yang bersekolah setingkat SMP atau SMA, dapat dipastikan anaknya punya hape yang bisa digunakan sebagai sarana penerima pesan. Keren kan? Hare gene anak pak tani kok ga punya hape!!!
  4. Darimana pengelola SMS Gateway mendapatkan biaya untuk mengirim SMS ke banyak petani?
    Ternyata tidak ada masalah dengan pembiayaan. Berdasarkan pengalaman, tingkat harga SMS paling rendah ke semua operator adalah 40 rupiah (tanpa memperhitungkan bonus). Dengan dua SMS ke anggota sekitar 50 orang, artinya ada 100 SMS setiap hari, total sejumlah 3000 SMS per bulan, membutuhkan biaya 120 ribu rupiah per bulan. Dibagi jumlah petani yang 50 orang itu, masing-masing terbebani 2400 rupiah per bulan. Kenyataannya, para petani sangat tidak keberatan untuk iuran 5000 rupiah per bulan. Artinya, ada keuntungan lebih dari 50%. Walaupun begitu, sesuai dengan nafas pemberdayaan masyarakat, keuntungan itu tidak digunakan untuk semata-mata kepentingan pengelola SMS Gateway, melainkan dikembalikan lagi kepada petani dalam wujud pemeliharaan peralatan dan pembiayaan pengelola untuk menjamin keberlangsungan SSM Gateway. Juga digunakan untuk mengirimkan SMS tambahan yang berisi informasi lain yang bermanfaat. Selain itu, sisa dana bisa digunakan sebagai uang meja bilamana ada pertemuan paguyuban petani SMS Gateway.

Kebayang, bekerja untuk masyarakat saja sangat jelas sisanya, apalagi kalau mengelola SMS premium semacam “ketik reg sepasi anu”… Huah…

Jelasnya pula, kami saat ini butuh kritik, saran, sumbangan pikiran, juga barangkali informasi tentang teknologi yang lebih baik dan mudah diaplikasikan. Ada yang bisa memberikan informasi???

Tagged: