Susahnya Migrasi

Posted on 03/12/2008

38


Ini bukan soal migrasi konten kemarin yang masih banyak menyisakan ketertinggalan, melainkan susahnya migrasi ke opensource. Kok susah sih? Kok sangat berlawanan dengan gembar-gembor di majalah Infolinux???

Ceritanya begini:

Di kantor saya, hampir semua komputer dan laptop saya pasang dualboot atau dual OS, Windows dan Linux -kebanyakan turunan Debian, khusus untuk saya, hhmmm… saya lebih suka Mandriva. Nah… kebetulan ada program baru, dimana dari pendana program tersebut dianggarkan juga pembelian laptop yang ditangani dari Jakarta. Ketika si lappy datang ke Solo, ternyata isinya juga dual OS yakni Windows dan Ubuntu Linux. Ehem… saya senang sekali, dan ketika beberapa minggu kemudian Windows-nya ngadat karena serangan bermacam virus -biasa, user sering ceroboh-, saya mendiamkan saja. Maksud hati biar ada keterpaksaan untuk menggunakan Linux, apa daya….

Tiba-tiba saya ingat kata-kata Budi Rahardjo dalam sebuah Opini di Infolinux, Mei 2007; “Semua Karena Kebiasaan”…

Yeach… semua karena kebiasaan. Termasuk kebiasaan selama lebih dari dua dasawarsa cuma tahu OS dari Microsoft saja.

Sejujurnya, saya juga termasuk itu. Sejarah saya mengenal Komputer sejak tahun 1989, saya menggunakan DOS, kemudian 1992 baru mengenal Windows 3.0, selanjutnya Windows 3.1, Windows 95, Windows Me, Windows 2000, Windows NT, Windows XP, sampai Windows Vista. Jujur pula, dalam kurun waktu 1989 sampai sekarang, hanya kurang dari 30% saya benar-benar menggunakan FOSS -free operating system and software, diantaranya Redhat, Mandrake, Slackware, Debian, IGOS, Fedora, Opensuse, Ubuntu, dan Mandriva. Itu bukan karena saya lebih suka membajak, melainkan lingkungan di beberapa tempat dimana saya bekerja kebanyakan menggunakan Windows. Minat saya untuk belajar tidak mendapat dukungan yang memadai, padahal, sampai sekarang pun dapat dikatakan saya jarang sekali memiliki komputer pribadi. Hanya karena kebetulan mendapat fasilitaslah saya selalu dapat menggunakannya. Anak-anak di rumah juga bisa bermain komputer kalau kebetulan ada serpisan yang opname beberapa hari di rumah. Untungnya, opnaman itu sering banget, sehingga jarang sekali ada jeda yang cukup lama, dimana anak-anak tidak bisa menggunakan komputer. Tentu saja dengan begitu anak-anak juga bisa mengenal berbagai macam operating system. Lagi-lagi, Windows (bajakan) menduduki ranking tertinggi.

Kembali ke kebiasaan tadi, si lappy yang brodol Windowsnya tentunya mau tidak mau hanya bisa dipakai Linuxnya. Ternyata ada juga yang kesulitan menggunakannya. Tanpa basa-basi, Lappy tadi ganti dibrodoli Linuxnya, diinstall ulang Microsoft Windows -bajakan lagi. Alasannya, digunakan untuk keperluan edit film. Nah.. soal ini memang di Linux kelas meja makan memang belum banyak pilihan yang cukup handal. Perhitungan saya pun meleset, tadinya saya mengira, lappy itu hanya digunakan untuk ketik mengetik laporan kegiatan dan laporan keuangan, juga presentasi. Artinya, dengan OpenOffice pun sudah cukup memadai. Beberapa keperluan lain misalnya bekerja dengan gambar sederhana, bekerja dengan portable data format, berinternet, mencetak, dan bekerja dalam jaringan lokal, apalagi cuma nyetel lagu dan film, sudah bisa disubstitusi dengan baik. Pada awalnya saya maklum saja, karena memang Linux belum bisa memberikan alternatif yang cukup baik. Ternyata, pembrodolan Linux itu karena ybs tidak bisa menggunakan eksternal harddisk 800GB karena tidak bisa memasang drivernya, sedangkan driver hanya tersedia untuk Microsoft Windows.
Weleh-weleh… Menurut saya, waktu yang digunakan untuk instalasi ulang jauh lebih lama dibandingkan mencari solusi di forum-forum Linux yang tersebar di seantero dunia maya. Saya tidak menyalahkan siapapun, juga tidak membenarkan siapapun, kembalinya ya “Semua karena kebiasaan”…

Dalam hati saya meneruskan, termasuk kebiasaan malas belajar

Beruntung, saya tidak begitu malas, sehingga pakai OS apa saja saya cukup bisa menggunakannya. Lagian saya tidak pilih-pilih, pokoknya kompi yang ada di depan mata langsung saja dipakai, mau pakai Linux, Windows, Mac, dlsb… sepanjang bisa memenuhi kebutuhan saya yang tidak pernah rumit-rumit, tidaklah menjadi masalah.

*sayang sekali, posting kali ini juga menggunakan Windows bajakan, saya bermasalah dengan modem bluetooth di Ubuntu saya berkaitan dengan hape andalan yang masih di bengkel. Pakai hape pinjaman, jadul, lelet banget -nyebelin-, juga ga mau konek ke Ubuntu. Huhh, saya benar-benar bodoh tapi sok tahu…

Tagged: ,