Vastenburg

Posted on 24/12/2008

18


Annual Report: Keprihatinan Akhir Tahun

gambar dari http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?p=27060320

Akhir-akhir ini saya sangat tertarik soal pro-kontra alih fungsi benteng Vastenburg di Solo menjadi hotel. Di mailing list Bengawan, komunitas blogger Solo, saya mencoba mengajak diskusi. Mungkin saja karena topiknya kurang menarik sehingga tidak banyak yang urun rembug. Mungkin juga karena memang perhatian mereka terhadap Kota Solo tidak begitu kental, lebih banyak memperhatikan dunia maya. Mungkin juga saya yang kurang pandai berbahasa sehingga kurang mengena. Berikut ini diskusinya:

Andy MSE
Di satu sisi, banyak yang membela karena menganggap Vastenburg adalah cagar budaya, (budaya sing ngendi aku juga bingung)… Di sisi lain, banyak juga yang oke-oke saja bila beralih fungsi menjadi hotel. (Ini terutama pendapat dari kaum investor, toh Vastenburg adalah warisan kolonial yang selama ini tidak ada
gunanya)…
Oke deh! Lupakan soal pro dan kontra, justru saya ingin mengajak sedulur sekalian untuk berdiskusi (kali ini serius), tentang siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan bilamana Vastenburg tetap begitu-begitu saja dan bilamana Vastenburg beralih fungsi.

Pertanyaan kuncinya adalah:
Vastenburg tetap begitu, siapa paling diuntungkan, siapa paling dirugikan?
Vastenburg beralih fungsi menjadi hotel, siapa paling diuntungkan, siapa paling dirugikan?

Mr.Bambang
Bangunan bangunan lama yang mengandung nilai sejarah biasanya memang masuk cagar budaya. Seperti kalau di Jakarta ada kawasan kota tua yang sampai saat ini terus dijaga bangunannya, tidak boleh direnovasi total kecuali kalau benarbenar rusak parah baru diperbaiki yang rusak saja dengan menyesuaikan bentuk asli. Kebanyakan bangunan tua yang dulunya kantor pemerintahan belanda itu dialihfungsikan sebagai museum. Tapi disitu juga ada kafe kafe bahkan diskotek.
Menjadikan benteng Vastenburg sebagai hotel sebenarnya akan membuatnya menjadi jauh lebih tertata dan menguntungkan secara komersial. Tapi keberadaanya sebagai tempat publik sekaligus cagar budaya menjadi sangat terbatasi.
Mungkin bisa diambil jalan tengah yaitu sebagai cagar budaya, kawasan publik untuk nongkrong, tempat poto poto dan sebagainya tapi tetap bisa menghasilkan keuntungan. Misalnya ya dengan mendirikan kafe kafe di situ. Sehingga wisatawan yang mengunjungi tempat itu bisa semakin betah menikmati suasana di situ. Di situ juga bisa dijadikan untuk
ajang seni dan sebagainya.
Eh, tapi saya belum pernah masuk ke benteng itu lo. Cuman lihat dari luar saja kalau pas lewat. Itupun dulu sepertinya kurang terurus, saya gak tahu seperti apa kondisi sekarang.

Andy MSE
Tidak sesuai pertanyaan… hehehe

Imron
NKRI ini juga warisan kolonial mas. Sistem drainase di Solo (dan juga kota2 di Indonesia lainnya) juga warisan kolonial mas. Hayo, dihancurkan semuanya kalau begitu. hahahahahhaha
UNTUNG dan RUGI, itu adalah pola pikir pemodal alias kapitalis. Berpikir soal untung dan rugi semata. BTW tawaran untuk diskusi ini cukup menarik sebenarnya, tapi janganlah dibatasi soal dengan keuntungan dan kerugian begitu dung.

Andy MSE
Kalau ada gunanya dipakai ya nggak apa-apa… misalnya stasiun sepur itu, bendungan, dll…
Pertanyaan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan sebenarnya kan bagian dari pemetaan untuk mencari solusi sikap. Bukan soal kapitalis atau enggak. Tawaran anda, metodenya gimana???

Wahyu Nurdianto
semoga benteng Vastenburg ga dihancurkan… terserah mau diapakan, pokoke tetep ngadeg.

Andy MSE
Wah… Wahyu ini termasuk kelompok ogah diskusi alias kelompok pokoke, hehehe

Hasssan
Kalo ini saya setuju dengan mas imron, emang jangan dibatasi konteksnya tentang untung rugi aja.
Sedangkan pendapat saya sendiri tentang benteng ini, kalo emang dijadikan hotel lebih mengarah ke komersial, gak terlalu bermanfaat untuk masyarakat solo sendiri.
Bercandanya: “Mendingan dihibahkan ke komunitas bengawan aja buat nongkrong2 sekaligus hotspotan. Lumayankan area seluas itu bisa buat nampung orang seribuan.wekekekek… *berharap*.”
Seriusnya: “Area sekitar situ kan banyak pusat-pusat perbelanjaan, banyak area yang sudah dibeton, jadi benteng ini dijadikan area terbuka untuk refreshing masyarakat aja, adal jangan dibeton juga, kasihan sama
air hujan yang gak bisa kembali ke Bumi gara-gara terhalang beton. Sedang bentengnya biar berdiri aja. Toh ada nilai sejarahnya. Save Solo, SAVE OUR EARTH!!!.”

Andy MSE
Usul Hasssan bagus sekali, trus pembatasan konteksnya gimana usulmu?

Hasssan
gini mas, kalo istilah untung-rugi lebih mengarah ke sisi ekonominya, padahal kan itu ada nilai sejarahnya. Diubah aja jadi manfaat banteng vastenburg. bisa manfaat dari sisi ekonomi, sejarah, budaya, lingkungan
dan lainnya. *usul lho…IMHO*

Benra
Kang hasssan: menulis di bagian awal ………..”sekedar menambahkan. disitukan tertulis kalo “Vastenburg adalah warisan kolonial yang selama ini tidak ada gunanya”, kalo sistem drainasekan ada gunanya…………..
dari statmen ini, saya menganggap vastenburg tidak seperti drainase yang ada gunanya jadi ya dihancurkan saja. tapi, kemudian kang hasssan menulis lagi di akhir postingannya “…………..Sedang bentengnya biar berdiri aja. Toh ada nilai sejarahnya”
Kalau saya sambungkan dua pernyataan tadi, sebenarnya kang Hassan mau bilang, meski warisan kolonial, vastenburg yang (sudah) tidak ada gunanya lagi itu, tetap saja biarkan tetap berdiri, karena ada nilai sejarahnya.
Nilai sejarah. Itulah konteksnya mas. Dan soal sejarah, maka yang dibicarakan bukan klah euntungan atau kerugian melainkan kemanfaatannya. Apa manfaat dari bangunan kumuh seperti itu? mungkin begitu pertanyaan yang diajukan berikutnya ya. ya biar belajar sejarah hehehehe. Sejarah kelam bangsa ini, agar kita tidak terperosok ke penjajahan lagi (meski kenyataannya kita tidak pernah merdeka ya).
Saya setuju dengan pendapat kang hasssan, agar benteng itu jadi kawasan terbuka. Masalahnya, tempat itu secara de jure adalah milik pribadi.

Dony Alfan
Vastenburg mangkrak karena sudah menjadi milik pribadi, jadi pemerintah/Pemkot tak bisa cawe2. Seandainya masih milik ‘negara’, saya yakin Vastenburg juga akan terkena proyek revitalisasi. Coba tengok betapa indahnya Balekambang sekarang, padahal dulu kumuh. Maka saya yakin, Jokowi akan melakukan hal yang sama seandainya Vastenburg itu masih milik negara. Tapi kenyataannya Vastenburg kan milik cukong.
Kalo Vastenberg itu jadi hotel, toh orang miskin seperti saya juga gak bakal berani masuk ke dalam hotel.Coba deh bandingkan dengan benteng Vredenburg Jogja, yang bisa menjadi tempat wisata, tempat publik. Kenapa kita tidak bercermin saja dari pengelolaan benteng Vredenburg.
Tapi, lagi2 Vastenburg itu milik pribadi, maka visi2 positif soal pengelolaan benteng masih seperti ilusi. Termasuk ilusi pula kalo sampeyan mengusulkan supaya Vastenburg itu dihancurkan, dan dijadikan pelacuran sekalian. Karena semua keputusan ada di tangan si cukong – yang sudah pasti lihai memainkan dadu dan kartu…
Vastenburg tetap begitu, yang diuntungkan tidak ada, yang dirugikan cukong.
Vastenburg jadi hotel, yang diuntungkan pemilik tanah dan hotel, Pemkot karena bisa menarik pajak lebih besar, dan pemuda2 nganggur di sekitar hotel karena bisa jadi bell boy, tukang parkir atau satpam. Yang dirugikan orang Solo maupun orang Indonesia yang tak ingin melupakan sejarah bangsanya.

Andy MSE
Yups… sangat menarik.. Dony Alfan sudah memberi gambaran lebih jelas…
Untuk menghindari diskusi yang beralih ke soal bahasa, bagaimana kalau pertanyaan siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan diganti dengan: “Siapa yang menerima manfaat/dampak positif paling banyak dan siapa yang menerima dampak negatif yang paling banyak bilamana Vastenburg tetap seperti itu, dan bilamana Vastenburg beralih fungsi menjadi hotel???

Diskusi selanjutnya terputus dan sudah tidak menarik lagi. Hanya ada dua tanggapan sebagai berikut:

Badoer
Biarlah benteng itu tetap ada, jikapun jd hotel, hotelny tetap menggunakan arsitektur luar, tanpa menghilangkan wujud aslinya.. Jdiny disni senang, disana senang “malah nyanyi”

yojinbo daigoro
Kalaupun itu mau dijadikan aset negara katanya dijual murah lho (isunya) cuma 500M kalo ada yang mau beli?
mestinya penjualan kaos itu digalakkan dan hasil penjualan jika mencapai 500M digunakan untuk menebus benteng itu atas nama warga SOLO…………ayo sopo sing rung nduwe kaose??? ndang tuku…

Catatan: Ternyata tidak mudah untuk mengajak diskusi dengan jernih, walaupun kepada komunitas blogger kota Solo yang seharusnya mempunyai perhatian yang cukup kepada kotanya. Bagaimanapun juga, saya masih mengharapkan banyak diskusi yang lebih memperhatikan Kota Solo di mailing list Blogger Bengawan .

Tagged:
Posted in: Cangkrukan