rindu senyuman

Posted on 21/01/2009

48


Sejak anak-anak masih kecil, saya jarang menungguinya. Maklum, karena saya harus bepergian ke berbagai kota untuk melaksanakan kewajiban berkaitan dengan pekerjaan. Seringkali saya merasa ngerindu, ingin bertemu anak-anak, bercanda, dan bermain. Jujur saja, saya malah jarang merasakan rindu dan kangen pada ibunya anak-anak, atau pada perempuan lain. Entah mengapa, saya begitu terpesona dengan anak-anak. Melihat tingkahnya, senyumannya yang ceria, saya merasa sangat bahagia. Ketika mereka sakit atau merajuk, hati terasa teriris, sedih tak terkira. Ketika bapak saya meninggal dunia, saya menangis, namun segera sadar. Ketika anak saya yang kedua meninggal, sebagian hidup saya seakan hilang tak tergantikan.

Saya tidak banyak mengajarkan sesuatu apapun pada anak-anak. Hanya satu hal saja yang selalu saya tekankan, yaitu kejujuran dalam hal apapun. Saya akan marah besar bila anak-anak ketahuan tidak jujur, sebaliknya akan memaafkan setiap kesalahan yang diperbuat bilamana telah jujur mengakuinya.

Dari kecil hingga sekarang, saya selalu merasakan anak-anak sangat gembira menantikan bapaknya pulang. Sungguh hal yang membahagiakan melihat anak-anak yang berebutan bergelantungan di lengan bapaknya, menyambut apapun pemberian walaupun hanya sebutir permen, secuil coklat, atau recehan. Ketika sudah beranjak besar, mereka berebutan meminjam laptop bapaknya untuk bermain-main, mendengarkan musik, dan melihat-lihat apakah ada gambar baru yang dijepret bapaknya di tengah perjalanan. Si adik yang selalu mengganggu dan si kakak yang pura-pura marah pun akhirnya memberikannya kepada adiknya, dan si adik akan senyum-senyum penuh kemenangan. Pemandangan yang yang menyenangkan, mengharukan, membahagiakan dan itulah rindu senyuman.

diki dan nanin bermain komputer, nanin selalu mengganggu

nanin tertawa berhasil menguasai permainan, kakaknya menyingkir

Ketika anak-anak beranjak remaja dan mulai kelihatan bakatnya, kecerdasannya, prestasinya, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari, saya tersadar, itu semua ternyata bukan peran saya, melainkan peran ibunya. Sungguh berkali-kali saya heran melihat kepintaran anak-anak, ketrampilan anak-anak, mereka sudah pintar mengaji, berprestasi di sekolah, sehat, mudah bergaul, suka berteman dan jarang sekali bermusuhan, mereka juga disiplin dan penurut. Pasti karena peran ibunya, bukan peran saya.

Jadi… Siapa lagi yang merendahkan peran perempuan??? Itu salah besar!!!

Tagged: , ,
Posted in: Fam