Bicara yang baik… atau Diam

Posted on 23/01/2009

59


Setiap kali melewati Semarang atau Kendal, saya memastikan untuk berkunjung ke rumah ibu. Rasanya kurang pas kalau sudah dekat kok tidak mampir. Maklum domisili saya sekarang cukup jauh dan tidak memungkinkan untuk sering-sering berkunjung. Maklum pula ibu saya adalah seorang janda, dan beliau tinggal tanpa anak-anak di dekatnya, hanya bersama Markumi yang sekarang pun sibuk dengan bayinya sendiri.

Setiap kali bertemu, selalu saja ada petuah-petuah dari beliau. Seringkali terdengar lucu karena anak-anaknya yang sudah dewasa masih saja mendapatkan petuah seperti anak-anak yang masih kecil. Tapi, begitulah orang tua. Saya yakin, dimana-mana juga sama saja. Sering pula, petuah-petuah beliau menyitir petuah agung para nabi, sehingga kami mendengarnya dengan tekun.

Mungkin kegemarannya berpetuah sudah sedemikian mendarah-daging, karena ibu -di sekitar tempat tinggalnya- terkenal sebagai ustadzah, mubalighoh, yang sering berbicara di banyak tempat atas undangan banyak orang. Pun beliau sejak tahun 1960an mengelola pengajian anak-anak di rumah yang sekarang berkembang menjadi Majelis Taklim Nur Minal Islam dan TPQ Nur Minal Islam.

Selain gemar berpetuah, ibu saya juga gemar menyanyi dan menulis. Kebanyakan nyanyian berkaitan dengan lagu anak-anak untuk diajarkan kepada murid-murid di TPQ. Sedangkan kegemaran menulis, isinya selalu petuah-petuah, lagi-lagi sering menyitir petuah agung para nabi. Medianya, bisa apa saja. Banyak tulisan tersebar di kertas-kertas, buku-buku, bahkan petuah-petuah beliau pun tertulis di dinding dan di pintu. Ini salah satu tulisan beliau, “Bicara yang baik, atau Diam“…

bicara yang baik, atau diam

Bila melihatnya, dalam hati saya selalu berkata, “Ibu ini kok aeng-aeng wae, nge-blog kan lebih enjoy daripada nulis di pintu!”…

Posted in: Aeng-aeng