Musrenbang

Posted on 05/02/2009

45


Musrenbang, kependekan dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan, sejatinya adalah forum penjaringan aspirasi masyarakat yang diselenggarakan secara berjenjang dari tingkat kelurahan, kecamatan, dan kota atau kabupaten. Hasilnya adalah Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan tahunan. Di tingkat nasional, untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Pusat yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan tahunan nasional, Pemerintah menyelenggarakan Musrenbang Pusat, Musrenbang Propinsi dan Musrenbang Nasional.

Saya ndak akan membahas jauh-jauh sampai musrenbang propinsi dan pusat. Mumet ndase!!!

Membahas soal Musrenbang di tingkat rendah (desa/kelurahan) sekalipun ternyata banyak hal menarik dan aeng-aeng. Di beberapa daerah kebetulan saya mendapatkan informasi yang menggelikan. Musrenbang yang seharusnya menjadi ajang masyarakat berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan malah ndak berfungsi sama sekali. Kok bisa? Ternyata ada juga pak lurah dan pak kades yang bersama perangkatnya membuat begitu saja perencanaan pembangunan. Ada juga yang pokoknya bikin forum dengan mengundang orang-orang “pilihan” saja, dan setelah itu terbitlah berbagai macam usulan pembangunan.

Lho kok you know??

Ya I know lah!!

Di beberapa persewaan komputer dan pengetikan yang saya miliki di beberapa tempat (lain kota, lain kabupaten), bulan kemarin ketika ramai-ramainya musrenbangkel-musrenbangdes, dapat dipastikan pengguna jasa pengetikan melonjak. Seringkali typiste saya kebingungan membaca orek-orekan bakalan usulan perencanaan pembangunan yang akan diajukan ke musrenbang di tingkat yang lebih tinggi. Hal yang sama (banjir ketikan) datang lagi di saat menjelang jatuh tempo laporan penggunaan anggaran.

baganalurperbaikanjuknismusrenbang-konsultasipublik

Duh… Melihat hal seperti itu, saya jadi mikir, tentunya aspirasi masyarakat yang sebenar-benarnya masih bersembunyi, partisipasi masyarakat masih banyak yang bersifat partisipatif-manipulatif saja. Belum lagi ketika usulan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Pasti ada saja yang hilang karena tidak disetujui atau dianggap masuk daftar prioritas nomor buncit, dan usulan itu digantikan oleh usulan lain yang bisa jadi tidak berasal dari musrenbang di tingkat sebelumnya. Ketika masuk lagi ke Forum SKPD dan selanjutnya dibawa ke Musrenbang Kota atau Kabupaten, dapat dipastikan ada tarik ulur berkaitan kepentingan berbagai pihak. Ketika digodok lebih lanjut oleh Panitia Anggaran di Legislatif, pasti juga masih ada tarik-tarikan kepentingan -pasti ada yang membela si siapa yang menaikkan jadi anggota-. Akhirnya, belum tentu kepentingan masyarakat yang diutamakan.

Ops… itu hanya sinyalemen saya saja. Semoga itu hanya ada di bayang-bayang pikiran saya, tidak terjadi dalam kenyataan.

Trus… apa yang harus kita lakukan???

Setiap warga masyarakat berhak untuk ikut berpartisipasi dan menyampaikan aspirasinya dalam perencanaan pembangunan, juga berhak berpartisipasi dalam pengawasan pembangunan.

Sesekali, coba deh ikut Musrenbang!

———————————————————————

Ditulis oleh: Andy MSE, Pegiat Sekolah Rakyat.

Gambar diambil dari: Pattiro Magelang.

———————————————————————

Info: Penyelenggaraan Musrenbang telah dimulai. Bagi warga Surakarta, silahkan menyimak:

Peraturan Walikota Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Pedoman Penyelenggaraan dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan, Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan, Forum Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kota.

Tagged:
Posted in: Catatan Sela