LKS oh LKS…

Posted on 16/03/2009

97


Adik-adik yang masih sekolah pasti kenal dengan LKS. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang berstatus wali murid pasti juga kenal LKS. Yang sekarang masih kuliah, sangat mungkin juga pernah menggunakan LKS. Yang sudah tuwir, mungkin tidak mengalami menggunakan LKS sewaktu bersekolah dulu.

lks

LKS adalah Lembar Kerja Siswa. Berwujud sebuah buku, seringkali tipis saja, dan berisi kumpulan soal-soal mata pelajaran sekolah. Ada yang untuk Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama, bahkan ada pula yang diperuntukkan Sekolah Lanjutan Atas. Judul-judul buku LKS seringkali heboh dan mengesankan bahwa dengan menggunakan LKS akan dapat dicapai prestasi yang luar biasa. Simak saja judul-judul LKS pada gambar; ada SMART, PRISMA, MEDALI, CERDIK, PINTAR, dan lain sebagainya. Biasanya, LKS dibuat atau diterbitkan oleh pihak swasta dan dijual di sekolah melalui guru mata pelajaran, tentu saja seijin pihak sekolah.

Menilik manfaatnya, LKS bisa digunakan sebagai sarana memacu siswa untuk lebih memahami pelajaran di sekolah. Guru-guru pun sering menggunakan soal-soal dalam LKS sebagai PR -pekerjaan rumah- untuk siswa. Ada anggapan bahwa semakin banyak berlatih mengerjakan soal yang bervariasi akan membantu siswa meningkatkan prestasi belajarnya. Sebagian besar dapat dikatakan benar.

Namun, ditengarai, banyak guru-guru yang menggunakan LKS karena memudahkan mereka dalam membuat soal, kasarnya, mereka malas atau enggan membuat soal sendiri untuk keperluan siswanya. Padahal itu adalah kewajiban mereka sebagai guru. Keberadaan LKS juga semakin memperjelas posisi siswa sebagai pasar di dunia pendidikan. Kok bisa begitu???… Ya, karena biaya pembelian LKS biasanya dibebankan kepada siswa. Artinya, ada sebagian kewajiban guru (membuat soal untuk siswanya) yang dialihkan kepada pihak lain (pembuat/penerbit LKS), dan biaya pengalihan itu menjadi beban siswa (karena harus membeli LKS).

Menurut penuturan Bu Noor, seorang mantan guru SMK dan SMP di Kendal – Jawa Tengah, pihak penjual LKS seringkali memberikan iming-iming komisi dalam jumlah atau prosentase tertentu bagi guru ataupun pihak sekolah yang bersedia menjual LKS kepada siswanya. Ada pula guru yang termakan iming-iming itu yang setengah memaksa siswa untuk membeli LKS dan mengaitkan dengan nilai yang akan diberikan di rapor siswa.

Piye jal ki???

tulisan ini sudah dipublikasikan di: www.politikana.com

Posted in: Catatan Sela