Demokrasi ala Dusun Jengkol

Posted on 06/04/2009

18


repost: politikana.com

Tahun 2004, di saat banyak orang mulai ramai membicarakan soal Pemilu untuk memilih wakil rakyat, gaung keramaian itu rupanya tidak cukup menarik minat warga Dusun Jengkol, Desa Kedungboto, Kec. Limbangan, Kab. Kendal. Warga dusun terpencil yang terletak di pojok selatan Kab. Kendal berbatasan dengan Kab. Temanggung, dengan jumlah penduduk sekitar 600 jiwa, terbagi dalam 144 KK ini memiliki kesadaran berpikir yang berbeda dalam berdemokrasi. Bagi mereka, seorang Kepala Dusun (Kadus) lebih penting perannya dibandingkan dengan Kepala Desa, Bupati, bahkan anggota DPR.

Dalam memilih seorang pemimpin dusun pun, mereka tidak melakukan cara-cara seperti di dusun-dusun yang lain, yang umumnya untuk memilih seorang Kadus harus ada dana ganti rugi karena warga harus meluangkan waktu untuk mengikuti pemilihan.

Yang terjadi justru sebaliknya…

Adalah seorang Mistari (sekarang 38 tahun), satu di antara 4 orang warga Dusun Jengkol yang berhasil lulus SMP, menjadi kandidat Kadus. Padahal, Mistari sendiri telah beberapa lama tinggal di perantauan di Kota Bandung, bahkan sudah berkeluarga di perantauan. Rupanya warga Jengkol mengharapkan seorang pemimpin yang bisa mengayomi warga, serta berpikiran maju untuk membangun desa. Maklumlah, Dusun Jengkol cukup terisolir. Dipisahkan oleh sungai yang cukup besar, tidak ada jembatan, jalanan berbatu yang sulit dilewati, bahkan di musim hujan seringkali Dusun Jengkol benar-benar terisolir karena tidak ada sarana transportasi yang bisa menyeberangi sungai.

mistari

Dari hasil kesepakatan yang dilakukan dalam beberapa rembug dusun, berangkatlah beberapa tokoh masyarakat menuju ke Kota Bandung untuk menemui Mistari dan meminta agar Mistari berkenan kembali ke desa untuk menerima amanat sebagai Kadus. Kunjungan pertama tidak membuahkan hasil, mereka pulang dengan tangan hampa karena Mistari menyatakan tidak sanggup untuk melaksanakan amanat tersebut. Pada kunjungan selanjutnya, warga Dusun Jengkol terpaksa melibatkan orang tua Mistari untuk meluluhkan hati Mistari agar bersedia menerima amanat kepemimpinan. Walhasil, Mistari pun akhirnya bersedia, dan pulanglah Mistari beserta anak dan istrinya, boyong kembali dusun terpencil tersebut. Kedatangan Mistari di kampung halaman disambut warga dengan penuh gembira, haru, dan berharap. Seketika itu Mistari menangis dan suasana haru menyelimuti warga yang hadir menyambut kedatangan Mistari. Masih dalam keharuan, Mistari pun dengan suara yang terisak menguatkan pernyataan kesanggupannya.

Kesanggupan saja ternyata tidak memuluskan jalan Mistari untuk menjadi pemimpin dusun. Berbagai persyaratan administratif menuntut tersedianya dana yang cukup yang ternyata Mistari tidak sanggup memenuhinya. Kembali warga Dusun Jengkol menyatakan bahwa ketidak-mampuan Mistari untuk memenuhi persyaratan administratif sudah mereka pikirkan. Warga Dusun Jengkol bergotong-royong, mengumpulkan sepuluh ribu rupiah setiap kepala keluarga.

Sekarang Mistari telah menjadi seorang pemimpin dusun terpencil dengan tanggung jawab yang sangat besar karena keterpinggiran dusunnya.

Beberapa prestasi telah diraih, diantaranya telah berhasil dibangun instalasi air bersih untuk kebutuhan warga Dusun Jengkol. Namun, sampai saat ini belum berhasil mengusulkan kepada pemerintah agar dibangun jembatan guna memperlancar transportasi yang nantinya akan memacu perkembangan perekonomian.

—–

Diangkat dari kisah nyata warga Dusun Jengkol, oleh Arifin al Indandit (081326942797), pegiat Persyarikatan Sekolah Rakyat, Kendal, Jateng.

Posted in: Cangkrukan