Wereng Coklat

Posted on 24/04/2009

34


Sedulur sekalian sudah tahu wereng coklat kan? Itu lho, hama padi yang seringkali menjadi momok bagi petani! Ya, wereng coklat memang termasuk musuh tanaman padi. Gerombolan wereng itu merusak tanaman padi sehingga malas mengeluarkan bulir-bulir padi yang diharapkan petani.

Kemarin, waktu cangkrukan di sebuah perempatan di tengah kota Semarang, ada pembicaraan ramai di antara tukang ojek, calo-calo bus, pengamen, pedagang asongan, tukang parkir, dan beberapa orang yang kebetulan nongkrong di sana, termasuk saya. Mereka membicarakan “Wereng Coklat” yang kebetulan sedang mengadakan razia tidak jauh dari perempatan itu.

wereng coklat

Tanpa mengurangi hormat saya kepada aparat, terpaksa saya sampaikan istilah itu apa adanya. “Wereng Coklat” yang dimaksud di cangkrukan itu tak lain dan tak bukan adalah para polisi yang sedang mengadakan razia. Maklum saja, banyak dari mereka pernah menjadi korban “Wereng Coklat“, yang bila mengadakan razia tampak seolah-olah bagai kegiatan mencari mangsa alias mencari duit di jalan raya. Masa-masa bulan puasa, lebaran, juga di masa kampanye pemilu, merupakan masa paceklik bagi “Wereng Coklat“. Lalu lintas yang luar biasa sibuk, tidak memberi kesempatan untuk mengadakan razia. Mereka disibukkan mengatur lalu lintas yang dipenuhi pengguna jalan yang banyak juga yang bandel. Masa-masa sesudah keramaian usai, biasanya mereka kembali mengadakan razia, sering pula tampak seperti balas dendam, sedikit kesalahan akan menuai tilang.

Seorang pengguna sepeda motor malah punya hitung-hitungan sendiri. Dia tidak mempunyai SIM -Surat Ijin Mengemudi. Alasannya, sepanjang pengalamannnya, dia rata-rata kena tilang setahun sekali. Dia selalu mengurus tilangnya di Pengadilan, sama sekali tidak pernah langsung kepada polisi. Artinya, dia hanya kena denda 20-30ribu saja. Dalam lima tahun -sesuai masa berlaku SIM- dia paling-paling mengeluarkan biaya 100-150 ribu saja. Itu lebih murah dibandingkan mengeluarkan biaya pengurusan SIM yang mencapai 200ribuan.

Lho… kok SIM semahal itu sih? Menurut pak polisi murah kok, tidak sampai 100 ribu!!!…

Ya, memang sekitar 100ribuan saja. Itu bila semuanya berjalan lancar dan tertib. Pengalaman seorang kawan saya -pegiat Sekolah Rakyat di Kendal-, pada waktu Ujian SIM dia gagal di ujian prakteknya. Saran pak polisi, daripada mengulang juga belum tentu berhasil, dia diminta mencari sertipikat lulus kursus setir… Hopo tumon, nyetir sepedamotor kok pakek kursus bersertipikat??? Kenyataannya, di tempat kursus (setir mobil) yang ditunjukkan oleh pak polisi itu menyediakan juga sertipikat lulus belajar nyetir sepeda motor. Biayanya cuma 150 ribu saja. (lmao) Totalnya???… Podho wae… Tetep mahalllll…

Saya hanya senyum-senyum saja di tengah ramainya diskusi informal itu. Dalam hati, jujur saya menilai, mengabdi sebagai “Wereng Coklat“… ops… mksudnya sebagai polisi sungguh berat. Berusaha tertib akan dinilai kaku bahkan kejam, melenceng sedikit pasti menuai kritik.

Jadi harus bagaimana??? Ada pengalaman menarik saat ngurus SIM atau saat kena tilang???

Posted in: Cangkrukan