Pleret

Posted on 10/05/2009

50


Semarang kaline banjir…

Sebagai sebuah kota pantai, Semarang sangat unik. Ada kawasan kota atas yang terbentang dari ujung timur di Tembalang, kawasan Gombel, kawasan Candi, sampai ke ujung barat di Ngaliyan. Di tengah-tengahnya dibelah oleh sungai.  Kawasan kota bawah yang terbentuk dari endapan aluvial di jaman baheula terbentang luas dan berkembang menjadi pusat kota yang menjadi ibukota Propinsi Jawa Tengah itu. Lanskap yang unik itu menjadikan Semarang penuh dengan daya tarik, sekaligus petaka yang sampai sekarang tak kunjung berakhir.

Dataran yang bermula dari endapan aluvial yang semakin menurun menimbulkan ancaman rob yang bisa datang tak terduga baik di musim kemarau, apalagi di musim hujan. Sungai-sungai yang bermuara di Semarang setia mengirim banjir terutama di puncak musim hujan. Berbagai upaya telah dilakukan, namun sampai sekarang belum juga menghilangkan sama sekali ancaman bencana itu.

Upaya-upaya pengendalian banjir Semarang sejatinya telah dilakukan sejak dulu. Sejauh ini tidak ditemui catatan pengendalian banjir sebelum masa penjajahan Belanda. Mungkin karena waktu itu wilayah Asem Arang belum menjadi kota. Di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda barulah dilakukan berbagai upaya pengendalian banjir. Ada tiga Kanal Besar yang dibangun pada masa itu yaitu Banjir Kanal Kali Baru (1872), Banjir Kanal Barat (1892), dan Banjir Kanal Timur (1900). Selain itu juga dirancang 10 subsystem jaringan drainase kota yang belum seluruhnya selesai.

bendungan/pleret banjir kanal barat yang indah...

Di masa kemerdekaan sampai sekarang, masih terus dilakukan upaya-upaya pengendalian banjir.  Normalisasi Kali Semarang, Pembangunan Polder Tawang, dan pembangunan stasiun-stasiun pompa pengendali banjir adalah contohnya. Namun upaya itu masih belum cukup meredam keganasan alam.

Rob masih mengancam, banjir kiriman juga masih perlu diwaspadai.

Ah sudahlah… Ini hanya cerita yang tak memberikan solusi apa-apa…

Saya hanya akan sedikit bercerita, saya pernah merasa dekat dengan Banjir Kanal Barat. Maklum, masa SMA dan beberapa tahun sesudahnya, saya tinggal di dekat tanggul timur kanal barat itu. Di sebuah kampung bernama Lemah Gempal atau Brokenland.😀

Di puncak musim hujan, seringkali saya “nonton” banjir di Kanal Barat yang mendapat kiriman air dari Kali Kreo, Kali Kripik, dan Kali Garang. Ketiga sungai itu berhulu di wilayah gunung Ungaran.

asyik banget lho di bawah pohon rindang di pinggir pleret... adhem...

Di musim kemarau, saya sering nongkrong di perahu tambang yang menjual jasa penyeberangan. Sering pula, -menyesuaikan musimnya-, memancing udang, belanak, kutuk, bloso,  dan ikan-ikan lain seadanya. Saat bulan puasa dan cuaca cerah, asyik sekali nongkrong di Pleret (Bendungan) melihat anak-anak yang bermain air di bendung. Tentu saja, acara mandi di sungai itu hanya di luar musim banjir…

Hah… sampai sekarang juga masih ada lho!!!…

plorotan di badan bendung yang berlumut

Asyik bangets…

Posted in: Plesiran