Relativitas

Posted on 25/05/2009

34


Mendengar kata “relativitas” banyak orang akan tertuju ke Albert Einstein (1879-1955). Ya maklum saja, si jabrik itu adalah perumus teori relativitas yang terkenal itu. Namun saya bukan fisikawan. Walaupun saya suka Fisika, itungan si jabrik itu terlalu berat buat otak saya. Saking beratnya, saya sempat menuduh, si jabrik itu bukan jenius, melainkan autis.

catatan relativitas einstein

Relativitas, -relativity-, asal katanya dari relative, dalam Bahasa Indonesia sering ditulis relatifitas. Saya tidak tahu, mengapa kata itu diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Di dalam Bahasa Indonesia sendiri sudah ada kata NISBI (sepertinya saya perlu bertanya kepada Guru Bahasa Indonesia).

Nisbi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring:

nis·bi a hanya terlihat (pasti; terukur) kalau dibandingkan dng yg lain; dapat begini atau begitu; bergantung kpd orang yg memandang; tidak mutlak; relatif: betapa — nya moral itu; cantik itu — , bergantung kpd yg melihat;
me·nis·bi·kan v membuat atau menjadikan nisbi;
ke·nis·bi·an n hal nisbi

Relativitas sama dengan kenisbian.

Dalam urusan Fisika, mislnya; dua sepeda motor yang sedang balapan dengan kecepatan 100kmpj, antara keduanya relatif lambat geraknya. Terhadap jalan, relatif cepat sekali geraknya.

Dalam urusan sosial, misalnya; politikus berusia 40 tahun dikatakan muda. Di dunia olahraga, Michael Schumacher  dibilang pembalap gaek ketika masih membalap di usia 38 tahun, Bahkan pemain bulu tangkis rata-rata pensiun di usia 30an.

Dikatakan dingin karena ada yang panas…

Dikatakan tinggi karena ada yang rendah…

Dikatakan bodoh karena ada yang pandai…

Itu saya sebut posisi relatif.

Mungkin saya abnormal ketika membayangkan alam semesta ini adalah sebuah wadah berisi banyak sekali kelereng. Wadah itu selalu bergoyang sehingga kelereng-kelereng itu teraduk di dalamnya. Banyak sekali butir-butir debu yang menempel di kelereng yang selalu berpindah antara kelereng satu ke kelereng lain. Di situ bisa terjadi variasi yang tak terbatas. Kelereng adalah segmen waktu, -entah seberapa mili, mikro, nano, atau piko detik.  Butir-butir debu adalah masing-masing dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Dan masing-masing berposisi relatif dalam segala besaran, satu sama lain. Mungkin saya keliru!

Dari pemahaman pendek itu, saya menyangkal mesin waktu dalam fiksi ilmiah. Mesin waktu hanya bisa membawa debu ke kelereng tertentu yang pernah dihinggapinya, kemudian memilih meloncat ke kelereng yang lain. Tetapi tetap saja tidak bisa sama sekali mengatur gerak kelereng dan butir-butir debu. Sekali lagi, mungkin saya keliru!

Tiba-tiba saya menyadari, waktu itu adalah salah satu ciptaan Tuhan. Hanya Tuhan sendiri yang sama sekali tidak tergantung pada waktu, karena Tuhan bukan bagian dari wadah, kelereng, dan debu. Yang ini saya yakin tidak keliru!…

gambar dari http://www.forumsains.com

Posted in: Catatan Sela