Mata Pencaharian

Posted on 07/06/2009

30


Dua puluh dua tahun sudah saya meninggalkan bangku SMA. Tentu saja bertemu dengan kawan lama merupakan kegembiraan yang luar biasa. Memang sih, ada beberapa kawan yang sampai sekarang masih berhubungan, bahkan sesekali dalam kegiatan yang sama. Cukup banyak yang masih diketahui keberadaanya, namun, sebagian besar  sudah tidak terlacak sama sekali. Internet ternyata cukup membantu menemukan kembali sebagian dari kawan-kawan lama. Media-media socio networking menjadi ajang yang menyenangkan untuk menelusuri kembali jejak kawan lama.Ternyata banyak juga yang menjadi Jamaah Febukiyah, Frensteriyah, Plurkiyah, dan lain sebagainya… Sayangnya, setahu saya, hanya sedikit yang menjadi Jamaah Bloggeriyah…

Ketika bertemu kembali, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, selalu saja ada pertanyaan yang sama. Sekarang dimana, anakmu berapa, kerja apa? Pertanyaan lain tentunya masih banyak, tapi, saya mencatat, tiga pertanyaan itu yang paling sering diajukan. Menjawab soal domisili gampang saja. Dari mulai nama jalan, kampung, rt/rw, kelurahan atau desa, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi… gampang sekali dijawab. pertanyaan kedua juga masih gampang menjawabnya. Beberapa kawan kesulitan menjawab karena ada juga yang menjelang usia 40th masih membujang/melajang. Ada juga yang bingung karena jumlah istrinya lebih dari satu… haks…

Bagi banyak orang, pertanyaan ketiga juga sangat gampang menjawabnya. Namun, bagi saya justru paling susah untuk mengatakannya. Sudah 8 tahun ini saya tidak punya pekerjaan tetap. Saya tidak menerima gaji, atau mempunyai penghasilan tetap dari suatu usaha/bisnis tertentu. Dalam tempo yang cukup lama (beberapa bulan), saya pernah secara rutin menerima honor, bukan gaji. Honor artinya penghormatan, dalam hal ini penghormatan atas sesuatu kegiatan yang saya lakukan, berhubungan dengan keahlian atau ketrampilan yang saya miliki. Ini bisa saja bernilai lebih besar daripada gaji pada umumnya, namun lebih sering seadanya saja. Penerima honor tentu saja tidak bisa menganggap honor yang dimilikinya sebagai penghasilan tetap.

Itu pendapat saya saja.

Saat merenungkan tentang penghasilan, pekerjaan, mata pencaharian… saya teringat tulisan kawan saya Anwar Holid aka Wartax, pemilik blog bertajuk [HALAMAN GANJIL]

Saya akan kutip tulisan Wartax tentang Mata Pencaharian, namun, tulisan itu bukan dari blognya, melainkan dari arsip email yang dikirimkan kepada saya pada pertengahan 2004. Saya masih menyimpannya di arsip Outlook Express. Sebelum menggunakan Linux, saya adalah pengguna setia OE. Secara periodik, saya mengarsipkan email ke dalam disket, harddisk, CD, flashdisk. Dalam urusan ini saya cukup telaten, bahkan sampai sekarang saya masih mempunyai arsip email sejak tahun 2002. Sebagian besar dalam format .dbx-nya OE.

Ini salah satunya. Cukup panjang (harap bersabar membacanya) dan mungkin tidak ada hubungannya dengan apa yang saya rasakan tentang pekerjaan. Karena itu, silahkan berkomentar apa saja, tapi jangan bertanya apa pekerjaan saya… Hehehe…

Here you go!..

halaman_ganjil-logotipe1

[HALAMAN GANJIL]

Mata Pencaharian
—————-

>> Anwar Holid, seorang dengan profesi tertentu.

KADANG-KADANG saya keluar rumah ketika malam, untuk beberapa keperluan yang tak bisa diduga. Bisa jadi untuk beli lauk, mi instan, menelepon seseorang, beli sate, atau memenuhi keinginan istri dan anak minta dibelikan sesuatu. Pertokoan di tempat saya tinggal adanya di pinggir jalan besar. Di awal jalan utama menuju rumah saya itu ada tempat sampah yang digunakan seluruh warga setempat membuang sampah, kotoran, dan barang tak dipakainya. Sampah dari tempat itu biasanya diangkut ke TPA seminggu dua kali. Untuk hal itu, kami warga harus membayar Rp.3000,-, yang ditarik paksa ketika bayar listrik. Karena tak terlalu besar, tempat sampah itu cepat penuh. Kalau sudah penuh, Anda semua bisa membayangkan bagaimana baunya. Juga kotornya. Kalau menumpuk berlebih, sampahnya bisa berceceran di sekitarnya. Tentu saja tempat sampah seperti itu gelap, apalagi jika malam. Yang mengherankan, setiap kali saya keluar rumah ketika malam, barangkali saat itu sudah pukul 20.00 WIB, masih saja terlihat bayangan pemulung yang mencari-cari barang berharga di antara barang buangan di dalam kegelapan seperti itu. Setiap kali saya melihat bahwa masih ada orang yang berharap mendapatkan rezeki dari tempat sampah itu, hati saya selalu merasa gelisah. Tak tenang. Apalagi dalam gelap. Anda pasti bingung bagaimana ada seseorang bisa membedakan sesuatu yang masih bisa diolah lagi jadi komoditas atau dijual untuk mendapatkan uang. Belum kotornya tempat itu. Bukan itusaja, namun juga pasti penuh kuman, berbau busuk, lembab, menusuk hitung.

Saya sering gelisah memikirkan pemulung sampah itu. Gila, bagaimana mungkin saya tega menyaksikan ada orang yang masih mengais rezeki dan keuntungan di tengah situasi absurd seperti itu. Ketika malam pada jam seperti itu, saya biasanya sudah makam malam, bercengkerama dengan istri dan anak, nonton televisi, membaca buku, bercanda-canda, mendengar cerita pengalaman seharian istri dan anak. Sedikit lebih malam, bila anak kami sudah tidur, wajar jika kami bisa siap-siap bercinta. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya seandainya saya mengalami hidup seperti tukang sampah itu; jam delapan malam masih ada di tempat kerja. Dan tempat kerjanya adalah tempat sampah yang gelap, yang bahkan oleh pemerintah setempat diberi lampu agar warga yang membuang sampah di malam hari tak salah lempar. Saya sendiri rasanya tak pernah membuang sampah yang masih bisa digunakan ulang. Mungkin sekali-dua kali pernah, tapi kami pastilah sudah lupa. Sampah yang rutin saya buang adalah sampah organik, bekas sayur atau bumbu, sisa daging yang dimasak istri, debu hasil menyapu, kertas, dan sebagainya. Kami tak pernah membuang baju bekas, misalnya. Sebab kain bekas seperti itu biasanya kemudian dijadikan lap. Anda bisa bayangkan, dalam lingkaran kemungkinan rezeki pemulung itu, nyaris tak ada yang bisa diharapkannya didapat dari keluarga saya. Alangkah menyedihkan. Anda tak bisa berspekulasi bahwa di tempat sampah itu bisa ditemukan emas, intan, atau berlian; jadi Anda harus hati-hati memperkirakan pendapatan mereka per hari atau per bulan. Mungkin bisa kurang dari ongkos transportasi dalam kota Anda. Memang di antara kita semua pasti yang pernah bekerja sampai larut malam, tapi pasti tidak di tempat sampah. Kantor kita adalah selalu tempat yang cukup nyaman untuk bekerja. Di temani komputer yang bisa memutar musik kesukaan kita apa saja, bisa memainkan film yang mungkin ingin diam-diam ditonton sendirian karena kalau ketahuan orang lain bisa berabe, tersambung ke internet, hingga bisa menulis email ke siapa pun, atau mencurahkan pikiran tentang apa pun. Kalau lapar, kita bisa meminta office boy membuatkan mi atau kopi. Kalau bosan, kita bisa keluar. Mungkin mencari nasi goreng atau ke cafe. Hidup yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh seorang pemulung sampah. Satu juga, jangan lupa, kita kerja larut itu biasanya untuk mencari tambahan, memenuhi target, atau mengejar bonus—bukan sebuah rutin. Dan kalau berhasil dilakukan, kita mendapat pujian. Keadaan yang sangat nyaman.

Tukang sampah itu pastilah tidak sedang mencari tambahan pendapatan. Gila saja ada yang menjadi pemulung sebagai pekerjaan tambahan. Memang sih ada satu-dua mahasiswa yang bekerja sebagai pemulung, tapi tentu saja itu suatu keistimewaan. Kita bisa berspekulasi bahwa setelah lulus, dia pastilah ingin mengenang profesinya sebagai pemulung itu dengan romantisme setinggi langit, penuh heroisme. Seperti seseorang yang bisa bercerita dengan bangga, dirinya berperan serta menumbangkan rezim otoriter dengan sekali-dua kali mengikuti demo mahasiswa besar-besaran di masa rusuh. Seandainya tukang sampah itu berkeluarga seperti saya, perkirakanlah waktunya bersama istri dan anak. Kapan dia bisa bercengkerama bersama mereka? Berkumpul, makan bersama. Di siang hari? Di pagi hari? Di malam segelap itu saja mereka masih giat mencari nafkah, tentu di siang hari mereka kekurangan tempat sampah yang masih kosong dari jarahan pemulung lain. Dalam keadaan seperti itu, interaksi bersama mereka pastilah kurang. Dari sana, muncullah klise yang bisa kita bayangkan. Istrinya saat itu mungkin masih sempat memberi dia sarapan sebelum pergi, anaknya masih sempat menyaksikan ayahnya dalam keadaan normal. Dia pergi ke tempat sampah dengan pakaian kotor, kumal, penuh noda. Anda pernah bayangkan pasangan seperti bisa itu bercinta dengan wajar? Kapan mereka melakukannya? Ketika tengah malam saat dia pulang sehabis seharian kerja sampai lebih dari jam delapan malam? Dia pastilah butuh waktu untuk membersihkan diri sebelum bercinta, makan, dan lain sebagainya. Anda pernah tahu ada pasangan tidak mau bercinta karena terganggu mulutnya bau? Badannya yang berkeringat sehabis kerja hingga sore membuat selera rusak dan berahinya lenyap? Itu kondisi biasa bagi pekerja biasa seperti kita pada umumnya. Jangankan itu, pasangan normal bisa gagal bercinta hanya karena bajunya bau pengap kena asap kendaraan. Bila seperti itu, kita tinggal sikat gigi, atau mandi. Kalau tetap tak mau, kita bisa bersabar sampai segalanya kembali normal. Seperti apa normal bagi seorang pemulung? Seperti kata saya, tempat kerja dia tak memungkinkannya bisa bersih. Jangankan itu, pakaiannya sudah busuk sejak berangkat kerja. Kadang-kadang mereka tak mengenakan sandal. Sungguh sebuah kelas sosial yang mengejutkan ada di sebelah kita. Kita bisa menyaksikannya. Coba saya, Anda pernah membuang sampah paling berharga seperti apa? Pernah Anda membuang rongsokan mobil? Casing komputer, atau bekas cd, barangkali? Seberapa berharga sampah yang pernah Anda buang? Bisa ditukar dengan segelas Cocacola bila diuangkan kembali? Kita lebih suka menyimpan barang yang tak diperlukan daripada membuangnya untuk dimanfaatkan ulang bagi pemulung di tempat sampah itu. Apa yang sebenarnya sudah tidak berfungsi di rumah Anda, dan belum juga dibuang? Saya punya baju tersimpan di koper, tak pernah dipakai, tapi tak juga rela dibuang. Di rumah saya juga ada botol-botol bekas, tapi tak boleh dibuang. Sayang. Bahkan mainan-mainan yang sebenarnya sudah tak ada gunanya. Dibiarkan menumpuk mengisi ruang. Sandal-sandal butut, sepatu usang, kaset rusak. Untuk apa kita semua masih menyimpannya? Tak ditemukan oleh pemulung itu? Yang ditemukan pemulung di tempat sampah adalah kardus tempat kita membeli mi instan, kantong plastik bekas kita belanja banyak-banyak di super market, kotak bekas kosmetik atau susu, celana dalam, sepatu, minuman dalam gelas, botol kaleng. Di tempat sampah seperti itu tentu bohong kalau pemulung pernah mendapatkan barang seharga seratus ribu jika dijual ulang.

Orang yang mencari nafkah sebagai pemulung seperti itu tidak hanya satu sebagaimana yang saya lihat jika kebetulan keluar malam-malam. Dalam titik ekstrem, kadang-kadang manusia memang gila dalam mencari nafkah. Menjadi pemulung sampah adalah ekstrem bagi saya. Tentu hanya kegilaan yang bisa memaksa saya memilih mata pencaharian sebagai pemulung. Nyaris dalam keadaan terdesak dahulu, saya pernah menawarkan diri sebagai pencuci piring di sebuah hotel kepada teman saya yang profesinya adalah pelayan hotel. Kata teman saya, janganlah. Kamu tidak akan kuat jadi pencuci piring. Lagi pula nggak cocok. Memang kenapa? paksa saya. Seingat saya, sejumlah penulis yang pernah saya baca riwayat hidupnya, ada yang pernah berprofesi sebagai tukang reparasi mobil, tukang kayu, dan lain sebagainya. Saya pikir, pencuci piring adalah profesi yang rasanya bisa saya kuasai dengan mudah. Setidak-tidaknya saya terbiasa mencuci sendiri sejak kecil. Rasanya tak ada masalah. Tapi hingga kini profesinya saya rasanya masih normal, dekat dengan kemampuan yang saya miliki. Belum mencapai titik ekstrem. Apa saja profesi yang menurut saya ada di titik ekstrem? Barangkali profesi yang di luar jangkauan prakiraan akal sehat biasa. Contohnya adalah bintang film porno. Berani membayangkan seseorang mendapatkan nafkah dari persetubuhan yang dilakukannya di hadapan kamera, dengan orang lain, kemudian dijual ke mana-mana? Tapi nyatanya banyak juga orang yang berprofesi sebagai bintang porno. Berbeda dengan pemulung yang saya ceritakan tadi, hidup mereka tentu saja ada yang jadi sangat kaya. Pernah di sebuah acara televisi berisi kisah kalangan jet set, seorang lelaki diberitakan begitu kaya menjadi bintang porno. Rumah mewahnya penuh dengan barang berharga, hidupnya enak, segalanya nyaris ada, termasuk seorang istri. Tapi katanya, “Istri saya selalu sedih setiap kali saya pergi kerja.” Tentu saja, istri mana yang bisa tenang bila tahu suaminya bersanggama dengan perempuan lain, meski beralasan syarat pekerjaan, meski dalam suatu adegan, sebagai bintang film porno. Kita tidak tahu bagaimana hubungan psikologi dan cinta suami-istri yang seperti itu.

Menjadi pelacur menurut saya juga sebuah pilihan mata pencaharian ekstrem. Tentu anggapan ini berhubungan erat dengan moral. Tapi rasanya aneh bekerja dengan menawarkan kemaluan, kelamin sendiri, diawali persetubuhan, berakhir dalam klimaks. Tapi berapa banyak coba orang yang mencari nafkah dengan cara seperti itu. Barangkali justru karena peminatnya juga banyak. Jadi transaksi bisa kencang dan secara ekonomi harganya bisa mahal. Apalagi yang kelas atas—hasilnya bisa dituai sendiri banyak-banyak, sementara yang dikeruk negara bisa sedikit, berbeda dengan pelacuran dalam lokalisasi. Di negara mana pun, pelacuran merupakan penyumbang pendapatan yang dominan, karena itu dalam lingkarnya, yang berkepentingan terhadap pelacuran itu banyak sekali, bukan semata-mata para pelaku transaksinya yang didesak oleh kebutuhan sesaat: pembeli dengan hasratnya, penjual dengan tubuh dan kelaminnya. Memang sih kebanyakan orang juga berprofesi dengan mengandalkan salah satu keahlian yang dikuasai anggota tubuhnya. Misalnya tukang kayu; dia mengandalkan keterampilan tangan, kekuatan, dan kehalusannya mengolah kayu, termasuk memanfaatkan penglihatan. Tukang masak memaksimalkan tangan, lidah, dan indra perasa. Pesepak bola menawarkan keterampilan kaki mengolah bola, mengocek, atau mengumpannya, termasuk kegesitan dan kepintaran berpura-pura celaka di tempat mematikan. Tapi kenapa kita tidak menganggap itu ekstrem? Ada apa dengan pelacuran? Apa karena kegiatan itu adalah zina? Pernah suatu tengah malam saya ada di jalan kota J, di pinggir hotel, tak jauh dari sebuah universitas terkemuka kota itu. Perempuan—saya yakin tak salah lihat—dengan berbagai pakaian seronok berkeliaran, berkumpul-kumpul, menghampiri jendela-jendela mobil yang menepi. Jujur saja, saya tak pernah menyaksikan praktik pelacuran. Tapi menurut berita, seperti itulah dimulainya transaksi itu. Normalnya, orang biasa tidur ketika tengah malam, untuk istirahat, karena pagi hingga sore mereka akan kerja keras. Yang dilakukan pelacur dan pembelinya ini berbeda; tengah malam adalah masa ketika mereka sangat aktif, saling bertukar kepentingan, mendapatkan penghasilan, mengeluarkan biaya, sampai pagi, baru kemudian pergi tidur ketika matahari beranjak terbit. Kehidupan seperti itu kerap luput dari perhatian; bukan saja karena pelacuran adalah sesuatu yang tercela, melainkan ditambah karena pada dasarnya kita tak mau mengakui bentuk kemaksiatan atau kotoran yang kita hasilkan sendiri, namun sekaligus sebenarnya tak bisa dihindari. Coba perkirakan, mana ada orang yang dengan berani bilang, “Ya, saya hidup dari melacur”. Atau, “Saya mencari pelacur dan membayarnya untuk menyelesaikan kebutuhan seksual.” Atau pengakuan yang lebih jelas, “Ya, biaya pendidikan saya ditanggung dari melacur.” Ada rasa jijik di situ, kita tak ingin hal itu diketahui orang lain. Padahal betapa banyak orang yang mendapatkan uang dan nafkah dari pekerjaan seperti itu. Bayangkan seandainya orangtua kita mendapatkan matapencahariannya dari melacur, menjadi germo, bandar judi, gembong judi, dari bertaruh, menjadi tukang pukul atau pembunuh, membuat rumah bordil, atau dari hasil bertransaksi narkotika. Orang selalu ingin membungkus sesuatu yang secara umum dianggap busuk (dan sangat mungkin faktanya memang demikian) dengan mistifikasi dan pemakluman, dengan istilah yang bisa menyembunyikan itu. Seorang pelacur, germo, penipu, perampok, sangat mungkin menyembunyikan profesinya dengan mengatakan bahwa dirinya berdagang, wiraswasta, pengusaha, atau seorang entrepreneur.

Pembunuh, menjadi anggota organisasi sejenis mafia, kejahatan terorganisasi, atau perampok menurut saya juga bisa dikategorikan ekstrem. Banyak alasan bisa diajukan untuk menerangkan itu; Anda bisa memahaminya dari film-film mafia atau gangster, fiksi, atau kisah nyata. Tapi barangkali pemahaman saya banyak keterbatasannya, jadi nyaris selalu gagal memahami kenapa ada orang bersikeras memutuskan menjadi pembunuh, umpamanya. Pemahaman saya bukan didasari karena mencabut nyawa adalah hak urusan Tuhan, melainkan kenapa seseorang sampai harus melukai orang lain untuk mendapat rezeki dan nafkah. Kata dasarnya adalah “mencari sesuap nasi.” Bayangkan, untuk mendapatkan penghidupannya, orang sampai harus melenyapkan orang lain dari muka bumi, mencelakai seseorang, melanggar hukum (meski ini juga sangat bisa diperdebatkan), merampas milik orang lain, menyuap, korupsi, menipu dan mengelabui. Padahal untuk mempertahankan hidup itu kan bisa disama-ratakan. Tapi ternyata manusia senantiasa memiliki kadar berbeda-beda. Tepatnya, nyaris selalu tak mau disamakan. Inginnya unik, beda sendiri, lebih berkarakter. Tampak sama seolah-olah merupakan tabu, aib, bisa ditertawakan. Padahal apa salahnya? Kenapa untuk mendapatkan penghidupan saja orang harus begitu kejam dan intoleran, mudah tersinggung, curiga, inginnya menghancurkan? Demi sesuap nasi atau mempertahankan hidupnya itu mereka merasa heroik bila bisa berkorban. Tapi bisa jadi memang demikianlah dedikasi, pengabdian, dan ketaatan. Di titik ekstrem seperti itu, orang ternyata bisa menjadi apa saja untuk mempertahankan hidup, menjaga kepentingan, melindungi kelas dan golongan, dan mengembangkan kebesaran diri. Membela kepentingannya, memaksa orang lain agar paham, cenderung menganggap pendapat orang lain cacat. Orang tak rela jika harus mengalami kegagalan. Orang ingin dari waktu ke waktu terus bergaji lebih besar dari sebelumnya, tak ingin melepaskan gelar yang pernah diraihnya, dan mati-matian mempertahankannya. Mereka baru malu atau tahu diri setelah kalah dan dipecundangi, baik dengan jujur atau curang. Padahal, bagaimanapun tubuhnya, dia tetap manusia biasa, tak kurang tak lebih. Sama segala-galanya. Mereka akan beristirahat ketika capai, makan ketika lapar, buang kotoran ketika sampai waktunya, berdoa ketika terdesak, mengembara bila terusir, berusaha mencari pertahanan ketika terdesak. Tak ada beda-bedanya, tak ada istimewanya. Yang menakjubkan, orang silih berganti hidup dalam titik ekstrem seperti itu, dan rasanya bisa baik-baik saja bertahan. Barangkali orang cenderung keras kepala, dan memang tak mau begitu saja berubah. Orang kerap tidak puas, mengeluh, kecewa; tapi begitu sedikit saja merasa nyaman, dia tak akan beranjak dari keadaan semula.

Contoh lain profesi ekstrem adalah petinju profesional. Meski berbeda dengan pelacur yang mengandalkan tubuh dan alat kelamin, atau dengan guru yang mengandalkan tangan, mulut, dan pengetahuannya, petinju menggunakan daya pukul, kekuatan tinjunya, ketahanannya dihajar, dan kesabarannya menghadapi penyiksaan. Di sisi lain dia harus gesit, berusaha merobohkan lawan secepatnya, dan menyiksanya sebisa mungkin agar memperoleh kemenangan. Kita bisa menyatakan tinju adalah olahraga, karena di sana ada kontrol, keterampilan, sportivitas; tapi jika memikirkan bahwa seseorang harus tersiksa lebih dahulu sebelum mendapatkan nafkah, alangkah miris membayangkan kenyataan itu. Petinju adalah contoh paling jelas betapa manusia bisa memperlakukan tubuhnya bagaimanapun demi mendapatkan penghidupan. Memang betul petinju secara layak melatih tubuh sebagaimana mestinya agar mampu menghadapi risiko terburuk, tapi memikirkan ada orang yang tega memperlakukan tubuhnya begitu rupa demi mempertahankan kehidupan, saya kehilangan kemampuan memahami sedikit hal.

Saya curiga dengan kecenderungan ini, meskipun tahu pasti bahwa manusia itu tak bisa memperkirakan masa depan dan terlalu kerap mengulang kesalahan, sementara kesempatan menjadi manusia selalu yang pertama kali—jadi secara pribadi, semua orang itu tak punya referensi, kecuali dari orang yang lebih dulu muncul. Mengira-ngira titik ekstrem itu, saya kadang-kadang merasa sensasional sendiri. Saya pernah bilang realitas seperti itu pada seorang teman, tapi komentarnya mengagetkan. “Sebenarnya fenomena itu biasa saja; cuma kita saja yang sering gagal memahaminya.” Yang gugup menyaksikan pemandangan itu ternyata saya sendiri, persis karena sebenarnya realitas yang saya ketahui terlalu sedikit, sedangkan sisanya terlalu banyak. Saya sendiri ragu, apakah sedikit pengetahuan tentang realitas itu akan mengubah pandangan saya tentang ekstremitas atau normalitas. Soalnya pandangan atau tingkat ekstremitas bagi setiap orang berbeda-beda, dan diskusi mencari komprominya bisa sangat lembam. Saya terkejut membayangkan pemulung yang masih mencari rezeki di awal malam, tapi mungkin bagi dia itu biasa saja. Dia sekadar melakukan yang harus dilakukannya untuk hidup, membiayai keluarga, memenuhi kebutuhan, melangsungkan hidup. Mungkin dia keberatan, tapi tak ada alternatif lain. Itu yang sedikit membedakan orang seperti itu dengan kita. Kita bisa dengan gagah atau sedikit arogan bilang ada pekerjaan yang pantas untuk dilakukan, dan lainnya tak layak. Kita bisa menolak pekerjaan yang terasa menurunkan gengsi, meski konsekuensinya tak mendapatkan upah, dan istri atau anak bisa marah-marah karena kebutuhannya berantakan. Seorang direktur merasa pantas memerintah, tabu menyapu ruang kerjanya, meski itu bisa dilakukannya segera. Dia akan lebih memilih meminta pembantu, meski harus dicari-cari. Kita sering merasa hina bila dalam posisi kerja sebagai buruh, yang melaksanakan, bukan yang menentukan; padahal rasanya basis seluruh kerja sekarang adalah layanan, alias service.

Pekerjaan, profesi, mata pencaharian, sedikit-banyak membentuk diri seseorang, sebab dia terus berinteraksi dan bergumul dengan persoalan di dalamnya. Itulah kerja yang membiayai kehidupan dan napasnya. Tapi fakta di balik sebuah pekerjaan kadang-kadang mencengangkan. Seorang penjual nasi Padang pernah bilang, mereka harus bangun sekitar pukul 01.00 dini hari untuk menyiapkan segala masakan agar bisa dipajang dan dimakan pada sekitar pukul 09.00, ketika orang kemungkinan membeli untuk sarapan. Itu artinya, mereka harus segera tidur begitu jam sembilan malam tutup. Begitu seterusnya. Terganggu sedikit saja, masakan itu tak akan siap pada waktunya, dan pelanggan akan lari ke warung nasi lain. Sopir taksi harus tidur dalam mobil tengah malam, dengan posisi tubuh meringkuk memegalkan, terkantuk-kantuk mencari penumpang, dan bisa jadi penumpangnya adalah pelacur yang kita bicarakan tadi. Saya pernah ngobrol dengan sopir taksi yang kalau malam sangat sering mengantar pelacur bersama pelanggannya, entah menuju hotel, apartemen, diskotek, tempat kos, atau rumah bordil. Dalam ironi itu, dia bilang, “Saya ngambil sisa-sisa rezeki dari pelacur itu. Dikumpulkan, disetor, buat majikan dan istri-anak. Saya tahu mereka zina, tapi gimana lagi; yang saya bisa hanya nyopir. Mungkin uang itu sedikit kotor, tapi saya tak bisa hidup kalau nggak begitu.” Dia bilang, kebersihan rezeki itu penting, karena itulah yang menghidupi tubuh anak dan istrinya. Dia tak mau memberi makan dari uang yang haram. Apa Anda berani berspekulasi bahwa uangnya itu bersih? Bagaimana dengan uang yang diperoleh dari mata pencaharian melacur, menipu, menjual janji palsu, dan sebagainya yang kita bicarakan tadi?

Memikirkan seperti itu, kadang-kadang kepala saya mau pecah. Apalagi realitas dalam pandangan sesaat bentuknya bisa sangat kasar. Sopir angkot bisa berkelahi karena rebutan penumpang, seseorang bisa memaki sangat kotor bila merasa terhambat datang ke kantor atau terdesak hendak menemui klien. Tapi sebaliknya, kita bisa juga dengan agak lega melepaskan pekerjaan nyaman bergaji besar, di sebuah lembaga industri yang mapan dan sedikit bisa menjadi masa depan pendapatan, dengan sedikit abai berkata, “Gue nggak cocok kerja di tempat seperti itu. Kurang tantangan, terlalu formal.” Atau karena merasa tak merdeka, secara struktur ada di bawah sebayanya, seseorang bisa menolak pekerjaan, “Gue nggak mau disuruh-suruh.” Selama bisa memilih, kita tak akan pernah berhenti menentukan target baru. Kita ingin bebas, meski begitu memilih, langsung terikat kembali, maksudnya agar konsisten atau lebih bertanggung jawab. Benar? Maka bila tiba-tiba diminta pinjam uang oleh orang tak dikenal, saya tak bisa menjelaskan. Andaikata akhirnya memberi, itu adalah bentuk kebingungan apakah perbuatan itu bisa masuk dalam kategori kebaikan atau malah dimaksudkan sebagai buang sial karena jarangnya melakukan amal baik. Dari kejadian seperti itu ada saatnya ternyata mata pencaharian bisa melemparkan manusia ke sudut terjauh dari kewajaran umumnya. Umumnya orang tentu bekerja dari pagi hingga sore—efektif atau tidak tak perlu dimasalahkan. Tapi ada yang bekerja tidak seperti itu; mungkin masih wajar, tapi mungkin tidak lazim. Ada sopir yang kerjanya dua hari tanpa henti, setelah itu dia istirahat sehari penuh, untuk di hari kemudian menganggur, karena mobil terlalu sedikit dan sopir terlalu banyak. Anda bisa bayangkan kondisi tubuhnya. Sebaliknya ada orang yang masa kerjanya sama dengan orang kebanyakan, namun yang didapatnya tidak kira-kira—untuk hal seperti itu, kita tak bisa lain harus bisa maklum, sadar pastilah yang dialami atau ditentukan untuk setiap orang berbeda-beda. Kalau tidak, kepala kita bisa pecah. []wartax@… | 08156140621 | 2:00 AM 7/16/04

=====
Whereof one cannot speak, thereof one must be silent. © Ludwig Wittgenstein (from Tractatus Logico-Philosophicus)

gambar dari http://halamanganjil.blogspot.com/

Posted in: Fren