Anakronisme dan "Nuting Jaman Kelakone"

Posted on 12/06/2009

23


Serpihan keprihatinan terhadap “Cagar Budaya” di Surakarta :

Oleh : Ki Rekso Kanigoro

Sikap mental anakronisme adalah kebalikan dari sinkronisme atau sinergisme. Artinya, Anakronisme ini sebuah kalimat pelembut bagi orang-orang yang nggak menghargai sejarah. Mereka lahir dari system ‘The Time Tunel” (mak bedunduk-ujug2 lahir dari batu). Ini hanya suatu Ilustrasi dari pemahaman kita terhadap keberadaan kita sendiri. Di kota apa, di negara apa. Mau dibiarkan saja apa-apanya, dong. Menurut pandangan saya, siapa lagi yang mau ngebelain runtuhnya kultur kita jikalau kita semua pada apatis, kagak peduli, pada kotanya sendiri – bagian dari negeri tercinta NKRI? Solo, adalah sejarah ‘lajer-nya kekuasaan dan pemerintahan dan kultur rakyatnya- dari sejak ‘jo-mbejuja’. Minimal sejak jaman Kerajaan2 Majapahit-Demak-Pajang-KuthoGedhe-Plered-Kartosuro-Surokarto….. Artinya, kita harus ‘conserve’-berjaga-jaga- jangan sampai sadar nggak sadar-peduli nggak peduli– melakukan pembiaran tehadap terjangkitnya wabah ‘brainwashing’ kultural kita (meng-amputasi ingatan kolektif kita, agar kita kehilangan ingatan)— yang mungkin -bukan mustahil-memang diupayakan secara tersamar namun sistimatis – untuk dilakukan operasi DISKULTURISASI JAWA INDONESIA… Ini bukan soal ‘ewo’ margo kalangan -kalangan investor itu dho sugih. Tapi kita coba ingat Mengapa disekitar tahun 1990an di tengah -tengah kompleks bangunan Karaton Solo mau didirikan hotel pula? Sekitar tahun 1992, maka bangunan Pemajegan, Pekapalan, dan Balai Agung (bagian penting dari bangunan Karaton) telah digempur, untuk dijadikan Benteng Plaza… (yang waktu Solo ‘ber-Anoman Obong’ juga ikut terbakar) ? Di sekitar tahun itu juga telah dilakukan pembuatan kios-kios yang diskultur di salah satu bagian dari Masjid Agung Surakarta Hadingrat. Beberapa Tahun yang lalu, Gedung Putera di Jalan Slamet Riyadi juga digempur, dan sekarang sudah jadi mall. Di bagian utara Karaton – yang kalau mau memperhatikan UU. No. 5 Th, 92 tentang Cagar Budaya, maka lokasi tersebut sebenarnya masuk dalam kategori LINGKUNGAN BINAAN CAGAR BUDAYA – toh sekarang telah bertengger pula bangunan modern ya apalagi kalau bukan mall…(Pasar NON Tradisional) ————————-

ampyang gula kacang

Sebenarnya banyak bahan saya untuk bersama-sama ‘ngudoroso’ untuk ikut MENEGAKKAN UNDANG-UNDANG…. tetapi ini saya ngantuk. Jadi tak pulang dulu..kapan2 disambung lagi. Dibawah ini sekedar catatan2 [truncated], yang bisa dikembangkan sebagai materi diskusi…. Nuwun… [Ki Rekso Kanigoro]

Catatan Andy MSE:

  1. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
  2. Tulisan ini mungkin panjang sekali, ada bagian yang terpotong, karena Ki Rekso Kanigoro menitipkan tulisan ini di kolom komentar di blog ini dalam tulisan saya tentang Vastenburg. Semoga di lain kesempatan, Ki Rekso Kanigoro  (haryapr_rudy[at]yahoo.co.id) berkenan melanjutkannya.
  3. Gambar ilustrasi ‘ampyang gula kacang” sama sekali tidak ada hubungannya dengan isi tulisan di atas.
  4. Buat Ki Rekso; toss dulu deh! (drinking)
Posted in: Catatan Sela