Selokan Mataram (Bag-2)

Posted on 14/06/2009

28


Baca dulu: Selokan Mataram (Bag-1)

Menyusuri Selokan Mataram Bag-2

Melanjutkan perjalanan menyusuri Selokan Mataram, saya beristirahat karena terhalang Kali Krasak. Terpaksalah memutar jalan agak jauh ke sisi kiri (selatan) melewati jalan beraspal. Ada jembatan di depan, ahaaa… itu pasti yang menyeberangi Kali Krasak. Ops, begitu menyeberangi jembatan, saya tertegun, ternyata saya keluar dari wilayah DIY Yogyakarta dan memasuki Kabupaten Magelang.

Tidak begitu lama mencari Selokan Mataram, ketemulah saya pintu air yang tadi saya lihat dari hilir selokan di seberang Kali Krasak. Dari situlah ternyata air masuk ke dalam terowongan yang ada di bawah dasar Kali Krasak. Sungguh bangunan air yang menakjubkan.

Lepas dari pintu air ini, saya kembali tidak bisa menyusuri jalan inspeksi (lagi-lagi jalan tanah), karena terhalang selokan melayang terbuka yang tidak bisa diseberangi. Saya kembali memutar jalan, namun kali ini tidak jauh dari selokan. Hampir sejajar dan tanggul selokan masih terlihat jelas. Di selokan melayang selanjutnya, terpasang sebuah kincir air yang menggerakkan turbin pembangkit listrik mikro hidro.

Dari sini, jalan inspeksi kembali nyaman dilalui. Memandang ke arah hulu, tidak jauh di latar belakang terlihat perbukitan Menoreh, sepertinya perjalanan menuju ke hulu sudah tidak begitu jauh lagi.

Tak jauh dari selokan melayang berkincir, saya sampai di Pintu Air Pembagi (mohon maaf, gambar diambil dari arah hulu untuk memberi gambaran yang jelas). Pintu air ini membagi selokan menjadi dua, ke arah kanan (selatan) adalah Selokan Vanderwijk yang memberi pengairan sampai ke daerah Sedayu, Yogya bagian barat. Sedangkan yang ke arah kiri (timur) adalah Selokan Mataram yang memberi pengairan daerah Sleman, Yogya, dan berhilir di Kali Opak. Menurut penuturan orang-orang tua -penduduk sekitar selokan-, dulu, pintu pembagi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah hulu. Dulu, sebelum dibangun Selokan Mataram (pada awal dibangun namanya adalah Kanal Yoshiro), sudah ada Selokan Vanderwijk (dulu  dikenal dengan nama Kanal Vanderwijk)  yang dibangun pada masa penjajahan Belanda satu rangkaian dengan pembangunan bendungan di Kali Progo. Dengan demikian, hulu sebenarnya dari Selokan Mataram adalah pintu pembagi ini. Namun, arsitektur sekarang justru menunjukkan bahwa Selokan Vanderwijk-lah yang berhulu di Selokan Mataram.

Perjalanan menyusuri Selokan Mataram sesudahnya, mengambil sisi kanan setelah melewati bekas-bekas Pintu Air Pembagi ke Selokan Vanderwijk semula. Sisi kiri tidak bisa dilewati karena jalan inspeksi buntu terhalang tebing yang cukup terjal. Di sini, saya sudah memasuki Desa Bligo Kec. Ngluwar, Kab. Magelang. Namun, tiba-tiba selokan yang saya susuri menghilang di terowongan di bawah tebing persis sebelum memasuki perkampungan Desa Bligo.

Saya kebingungan. Hampir setengah jam lamanya saya berputar-putar di perkampungan, mencari-cari dimana hulu selokan yang tiba-tiba menghilang itu…

..::bersambung::..

Posted in: Plesiran