Makanan Pokok Saya; Nasi, bukan Gandum

Posted on 04/07/2009

41


Makanan pokok adalah makanan yang menjadi gizi dasar. Makanan pokok biasanya tidak menyediakan keseluruhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, oleh karenanya biasanya makanan pokok dilengkapi dengan lauk pauk untuk mencukupkan kebutuhan nutrisi seseorang dan mencegah kekurangan gizi.
Makanan pokok berbeda-beda sesuai dengan keadaan tempat dan budaya, tetapi biasanya berasal dari tanaman, baik dari serealia seperti beras, gandum, jagung, maupun umbi-umbian seperti kentang, ubi jalar, talas dan singkong. Roti, mi (atau pasta), nasi, bubur, dan sagu dibuat dari sumber-sumber tersebut.
Suku bangsa yang secara tradisional merupakan pemburu seperti orang Eskimo menjadikan daging dan ikan sebagai makanan utama. Wikipedia

Saya pemakan nasi bukan pemakan gandum dan produk olahannya, atau yang lainnya. Itu karena saya lahir dan dibesarkan di Pulau Dewi Sri di Indonesia. Jadi, makanan pokok kebanyakan orang di lingkungan saya adalah nasi dari beras yang diolah dari gabah yang dipanen dari tanaman padi. Di tempat berbeda bisa jadi makanan pokoknya berbeda pula. Di  beberapa daerah kering di Jawa dan Nusa Tenggara, ada yang menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Ada pula yang menjadikan olahan singkong sebagai makanan pokok. Di Indonesia Timur lainnya, ada pula yang makanan pokoknya papeda -semacam bubur- yang merupakan olahan tepung sagu. Ada pula yang lebih cocok makan ubi sebagai makanan pokoknya.

claire panen padi

Di belahan dunia yang lain, banyak yang menggunakan olahan gandum misalnya roti atau mie sebagai makanan pokok. Di beberapa wilayah di Afrika, makanan pokoknya adalah fufu dan akpu, yang merupakan olahan dari singkong. Ada pula yang  memakan semovita dari tepung beras.

Kembali ke nasi sebagai makanan pokok saya, banyak teman-teman saya yang mengatakan perut saya tidak modern. Memang sih, kalau belum makan nasi rasanya kok belum marem. Walaupun begitu, daya survival saya termasuk tinggi. Saya sangat adaptif terhadap berbagai macam makanan pokok. Bahkan pernah beberapa bulan tidak makan nasi, hanya roti , kentang, dan noodle. Namun itu sekedar untuk bertahan hidup, bukan untuk urusan kemareman. Pokoknya belum lega kalau belum makan nasi.

Pemerintah Indonesia juga sudah bertahun-tahun mempromosikan keberaneka-ragaman makanan pokok. (woot) (bigeyes)

Mungkin karena khawatir akan kemampuan lahan menyediakan gabah, karena lahan persawahan banyak tergusur oleh perkebunan dan ekspansi kawasan pemukiman, sedangkan perluasan lahan pertanian tidak segampang yang diperkirakan. Apalagi ternyata Revolusi Hijau dengan jargonnya yang terkenal Panca Usaha Tani setelah melewati beberapa dasawarsa terbukti tidak berhasil dijadikan pegangan jangka panjang, justru malah merusak struktur tanah, juga budaya pertanian. Inovasi-inovasi di bidang pertanian tidak musti dapat langsung digunakan. Beberapa inovasi, karena tidak dilakukan oleh petani melainkan oleh badan usaha swasta yang mematenkan hasil produksinya, justru menjadikan petani semakin terpuruk. Petani tetap lemah di tengah pusaran kapitalisme dan HAKI. (baca juga kasus lama; petani dibui karena membuat bibit jagung sendiri, antara lain di: sini, sini, dan sini, dan masih banyak tulisan lain yang memberitakan hal serupa)… Inovasi yang akhir-akhir ini terkenal justru karena telah menghasilkan varietas padi teladan yang belakangan diketahui hanya mainan. Pantas saja, namanya saja Super Toy, hasilnya super letoy… Apakah yang begini ini yang akan diLANJUTKAN??? Ah sudahlah…

Dalam soal makanan pokok, saya justru berpandangan sebaliknya… (thinking)

Saya tetap makan nasi. Ketika saya pergi ke tempat yang makanan pokoknya bukan nasi, saya tetap mencari nasi sebagai makanan saya. Di luar negeri pun, saya tetap mencari nasi. Makanan lain hanya subtitusi bilamana nasi terlalu sulit atau tidak bisa ditemukan. Saya berkhayal, bilamana orang se-Indonesia seperti saya, pasti produksi padi secara otomatis digenjot terus. Bila kelebihan produksi, tentunya akan di-ekspor ke luar negeri, sehingga orang Indonesia yang ada di luar negeri tidak kesulitan mencari makanan pokoknya.

Bukan sebaliknya… Gandum yang di-impor ke Indonesia, sehingga bule dan cina gampang saja cari makanan pokok mereka di sini… (doh)

Tulisan ini sekaligus permintaan maaf kepada para pendukung INDOMIIIII… PRESIIIDENKUUUUU… Jujur saja, saya tidak bermaksud melecehkan, hanya ungkapan rasa geli yang tersumbat dan butuh pelepasan.

Posted in: Catatan Sela