Bulldozer dan Excavator di Tepi Telaga Cebong

Posted on 05/08/2009

63


Tulisan ini sebetulnya diberi judul Wisata Blogger 2009: Appendix-2 | Bulldozer dan Excavator di Tepi Telaga Cebong, namun berhubung ada beberapa di antara pembaca yang konfius dengan istilah usus buntu, maka judulnya terpaksa diganti…

😀

Mungkin tidak banyak yang menaruh perhatian pada dua unit alat berat yang diparkir di tepi Telaga Cebong (bukan Cebong Ipiet) di Dataran Tinggi Dieng pada Minggu pagi 25/07/2009 yang sedang ramai dikunjungi peserta Wisata Blogger 2009. Mungkin juga sudah banyak yang bertanya-tanya dalam hati tentang keberadaan bulldozer dan excavator itu. Saya juga bertanya-tanya…

Namun, berbeda dengan sebagian peserta Wisata Blogger 2009 yang menjadikan alat berat itu sebagai obyek berfoto-ria yang menarik (karena alat berat tidak musti dilihat setiap hari, apalagi dinaiki), saya meneruskan pertanyaan dalam hati ke mulut dan saya sampaikan kepada operator alat berat yang  –di pagi yang dingin padahal matahari sudah meninggi itu– sedang menyiapkannya untuk bekerja.

Ternyata, alat berat itu digunakan untuk mengeruk telaga yang makin lama luasnya makin  menyempit. Pengerukan itu dilakukan sampai batas tepi air telaga kembali ke posisi semula, entah menurut catatan tahun berapa. Yang jelas, semakin hari semakin deras laju pengikisan tanah dari bukit-bukit di sekeliling telaga. Menyalahkan berkurangnya tanaman keras tentu saja tidak bisa dilakukan begitu saja. Maklumlah, di dataran setinggi Dataran Tinggi Dieng, juga di puncak-puncak gunung yang tinggi, memang biasanya hanya terdapat sedikit tanaman keras. Biota dan ekosistem di gunung dan dataran tinggi jelas berbeda dengan dataran yang lebih rendah yang lebih memungkinkan tanaman keras tumbuh dengan subur.

Panorama Telaga Cebong -gambar dari Panoramio oleh Aganto Seno

Ditengarai, laju erosi yang tinggi itu berkaitan dengan pengolahan lahan untuk keperluan pertanian. Areal yang sebelumnya penuh tertutup rerumputan, semak belukar, perdu, dan sedikit tanaman keras yang secara alami memperlambat laju erosi, ketika dialih-fungsi menjadi lahan pertanian mau tidak mau dibersihkan. Pasti ada jeda di sela musim tanam dimana dilakukan pengolahan tanah yang menjadikan lahan dalam keadaan terbuka. Bila pada saat itu turun hujan, dipastikan erosi merajalela…

Pendapat saya, sepertinya, hal itulah yang mempercepat pengendapan yang memperdangkal serta menyempitkan telaga. Langkah preservasi yang diambil pemerintah setempat untuk menyelamatkan keberadaan telaga dengan pengerukan itu merupakan langkah yang cukup baik dan sementara ini tepat. Namun, untuk menuju  ke titik permasalahan sebenarnya yaitu dengan “mengusik” pertanian, sepertinya “bagai makan buah simalakama”. Banyak kepentingan ekonomi di sana, banyak kehidupan bersandar dan bergantung padanya.

Apa pendapat saudara???

=========>>

Catatan Andy MSE:

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. (Wikipedia)

Biota adalah keseluruhan kehidupan yang ada pada satu wilayah geografi tertentu dalam suatu waktu tertentu. Pembatasan luas wilayah geografi atau cakupan waktu dapat bersifat lokal atau sesaat hingga keseluruhan planet atau rentang waktu yang panjang. (Wikipedia)

bulldozer and excavatorBulldozer atau Crawler adalah alat berat yang digunakan untuk mengeruk dan meratakan lahan. Ciri khas: mempunyai sekop lebar untuk mengangkat, mendorong, dan memindahkan material.

Excavator atau Digger adalah alat berat yang digunakan untuk mengeruk dan menggali. Ciri khas: walaupun tidak termasuk bangsa gajah, excavator mempunyai belalai yang digerakkan secara hidrolis dimana di ujung belalai itu terdapat sekop pengeruk untuk memindahkan material.

Gambar “mejeng di alat berat” diambil dari Facebook Emi Fa

Simak pula: Launching Blogger Wonosobo dan Rusaknya Lingkungan Dieng

Posted in: Cangkrukan