WS Rendra Meninggal??

Posted on 06/08/2009

61


Belum kering makam Mbah “I Love You Full” Surip, Dunia Seni Indonesia kembali berduka. Tokoh teater modern Indonesia, WS Rendra, yang dikenal dengan julukan Si Burung Merak itu, meninggal dunia pada usia 74 tahun. Sejak beberapa waktu lalu memang dikabarkan di berbagai media bahwa WS Rendra mengalami berbagai gangguan kesehatan. Maklumlah, usianya sudah cukup lanjut. Berbagai media memberitakan bahwa WS Rendra meninggal di RS Mitra Keluarga, Depok, 06/08/2009 sekitar pukul 22.05 WIB. Beliau  disemayamkan di rumah Clara Shinta, yang berada di Kompleks Perumahan Pesona Kayangan, Depok, Jawa Barat.

Berikut saya kutipkan salah satu puisi favorit saya yang pertama kali saya baca saat kelas 2 SMP:

BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO (WS Rendra)

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang
Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri
Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.
—Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.
Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.
—Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Bedah perutnya atapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala
Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi reapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derinya dendam yang tiba.
Pada langkah pertama keduanya sama baja.
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.
Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta abulan, sorak sorai, anggur darah
Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.

Dan berikut ini adalah puisi yang sering digunakan untuk membakar semangat  pada demonstran (sangat terkenal di akhir dekade 90an):

KARENA KAMI KUCEL DAN KAMU GEMERLAPAN

Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu…
Karena kami hidup berhimpit-himpitan
dan ruangmu berlebihan.. .
maka kita bukan sekutu

Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu…
Maka kami mencurigaimu

Karena kami terlantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan…
Karena kami kebanjiran
dan kamu pesta di kapal pesiar…
Maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam
dan kamu nrocos bicara…
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan…
Maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami cuma bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
Maka air akan mengikis batu.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un…

Gambar pinjam dari Kang Kombor… Terimakasih setulusnya buat Kang Kombor… Simak pula karya sastra lainnya di Catatan Sawali Tuhusetya… (worship)

Posted in: Sundries