Reyog dalam Pandangan Saya

Posted on 12/08/2009

42


logo1th-kotareyog-copyNonton Festival Reyog Mini di Alun-alun Kab. Ponorogo 08/08/2009 sungguh mengasyikkan. Yang jelas, tidak perlu beli tiket karena sudah diurus oleh Blogger Warok.

Pada saat akan berangkat ke alun-alun, dan diberitahu bahwa yang akan ditonton adalah Pagelaran Reyog Mini, saya tidak begitu kaget. Dalam pikiran saya, pastilah ukuran barongan tidak sebesar yang digunakan pada Pagelaran Reyog Nasional. Benar saja, ternyata saya tidak keliru. Barongan dadak merak yang digunakan di festival itu kira-kira hanya selebar satu meter lebih sedikit, jauh berbeda dengan barongan dadak merak yang sebenarnya yang lebarnya sampai 2 meter lebih. Namun, saya tetap tercengang juga ketika melihat dengan mata kepala sendiri kemeriahan Festival Reyog Mini ke-7 ini. Ternyata, yang tampil di Festival Reyog Mini itu adalah anak-anak dan remaja usia SD-SMP.

festival reyog mini ke 7 2009 di ponorogo

gambar dari http://yudi.blog.uns.ac.id (applause)

Sesungguhnya saya tidak mengerti sama sekali mengenai kesenian Reyog Ponorogo. Saya juga tidak berusaha mencari referensi mengenai apa itu reyog, bagaimana sejarahnya, alur ceritanya, filosofinya, dan lain sebagainya. Saya bukan seniman atau budayawan, namun saya justru berkeinginan untuk menuliskan sesuatu tentang Reyog Ponorogo dalam pandangan awam seperti saya.

Musik pengiring. Hanya ada beberapa peralatan sederhana untuk mengiringi Reyog yaitu, kendang, gong, kenong, angklung,  dan suling. Tadinya saya sempat terkecoh, suara suling tadi saya kira suara rebab. Maklum bukan pemusik dan bukan pemain musik, apalagi pengamat musik, jadi pendengaran saya kurang jeli membedakan jenis suara yang keluar dari alat musik. Keterkecohan saya tadi karena bunyi suling yang hampir_hampir tidak terputus. Tentunya untuk membunyikannya seperti pada saat mengiringi Reyog, harus menggunakan teknik tertentu. Di samping peralatan musik, juga ada serombongan paduan suara yang bertugas mengisi dialog, menyanyikan beberapa lagu, juga peneriak “senggakan” hokya…hokya… hokya… dan sebagainya.

Pakaian dan aksesoris. Melihat gemerlapnya kostum yang dipakai para pemain Reyog, saya hanya berfikir, biaya untuk membuat seperangkat pakaian untuk kesenian reyog mestinya sangat besar sekali. Apalagi untuk membuat topeng raksasa “singa ber-dadak merak” itu.  Kalau dibuat dengan bahan-bahan asli dari bulu burung merak dan kulit singa atau harimau, pastilah akan berurusan dengan Kementrian Lingkungan Hidup. Mungkin saja sekarang masih ada yang asli, bisa jadi peninggalan jaman baheula pada awal-awal diciptakannya kesenian reyog. Yang sekarang ini, saya yakin itu terbuat dari bulu merak imitasi.

Yang agak aneh, kok bisa-bisanya ada singa, padahal singa itu binatang asli dari benua Afrika? (thinking)

Sendratari. Sebagai penonton awam yang tidak tahu apa-apa mengenai kesenian reyog, tentunya saya asyik-asyik saja menyaksikan keriuhan pemain yang mempertontonkan kepiawaiannya. Ada beberapa kelompok pemain. yang pertama tentu saja warok, yang sepertinya menggambarkan sekelompok prajurit yang sakti. Yang kedua seperti warok juga namun sudah tua, barangkali mereka adalah guru dan penasehat. Yang ketiga adalah satu peleton prajurit kavaleri berkuda. Yang keempat adalah sekelompok monyet yang pethakilan. Yang kelima adalah raja yang juga bertopeng. Dan yang terakhir adalah singa berdadak merak itu.

Selain dari pakaiannya yang berbeda, masing-masing kelompok/komponen pemain mempunyai ciri sendiri-sendiri. Warok berciri tegap dan gagah, warok tua terlihat alim dan berwibawa, pasukan kavaleri selalu rapi dalam bergerak, monyet pethakilan tentu saja selalu bergerak kesana kemari tidak aturan mempertontonkan kelincahan tubuhnya, dan Sang raja terlihat anggun berwibawa. Yang paling berat perannya tentu saja penari topeng raksasa “singa berdadak merak” itu. Bisa dibayangkan, menari menggunakan topeng kecil saja rasanya sumpek, apalagi menggunakan topeng raksasa yang tentunya sangat berat. Begitupun, pemeran singa itu seringkali menunjukkan kepiawaiannya memainkan gerakan-gerakan yang bagi orang biasa tentunya sangat sulit.

gambar dari http://yudhiapr.blogdetik.com/2008/12/24/sejarah-reyog-ponorogo-antara-mistis-dan-seni-budaya/ klik pada gambar!

Setiap pementasan tentunya bebas-bebas saja mengadegankan sesuatu peristiwa atau cerita walaupun ada pakem yang harus ditaati. Namun, saat menyaksikan Festival Reyog Mini 08/08/09 kemarin, saya merasakan ada alur yang generik. Sepertinya saya menyaksikan suatu gelar pasukan. Silih berganti masing-masing komponen reyog memamerkan kepiawaiannya. Tentu saja, warok tuwir hanya berjalan hilir mudik mengawasi yang lain. Hanya sesekali saja mereka unjuk kebolehan. Menjelang akhir gelar pasukan itu, Singa Barong datang mengganggu, istilah saya, si singa itu ngisruh. Sekelompok demi sekelompok maju melawan Singa Barong itu, tentu saja tidak ada yang menang. Akhirnya Rang Raja pun turun tangan sendiri bersenjatakan pecut sakti dan berhasil mengalahkan singa barong.

Yeach… itulah apresiasi saya terhadap Reyog Ponorogo. Benar atau tidak, sedulur sekalian janganlah memberikan koreksi, karena apresiasi itu kan harusnya bebas sebebas-bebasnya. Koreksi anda akan mengganggu kenikmatan saya!

Posted in: Cangkrukan