Teladan dari Pak Guru

Posted on 13/09/2009

72


Guru, dalam bahasa Jawa biasa dipanjangkan menjadi “digugu lan ditiru” (diikuti dan ditiru). Sayangnya sering juga dipelesetkan menjadi “wagu lan kuru” (norak dan kurus), padahal hampir semua orang mengakui jasa guru, sampai-sampai negara pun menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. (doh)

Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kealpaan, tidak semua guru itu baik tapi bukan berarti semua guru itu jelek. Sebaliknya, tidak semua guru itu jelek tapi bukan berarti semua guru itu baik… Tidak semua guru mau disebut sebagai “digugu lan ditiru“, bahkan karena guru (di sekolah formal) berpijak di dua sisi, antara panutan dan profesi, ada juga pak guru yang sedemikian rendah hati, sampai-sampai menegaskan; “saya bukan guru (hanya bekerja sebagai pengajar)“.

Bicara soal guru yang menjadi blogger, banyak sekali contohnya dan terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

Kalau bicara guru yang secara sadar bermigrasi ke FOSS (free operating system anad software), itu baru menarik. Saya yakin, sebetulnya sudah cukup banyak, namun saya juga lebih yakin masih lebih banyak yang menikmati software bajakan, sama yakinnya bahwa cukup sedikit yang menggunakan OS legal yang kebanyakan bawaan dari komputer yang dibeli dari toko.

Pernah, beberapa waktu lalu saya sempat geli ketika tahu ada guru yang bersemangat pindah ke Linux padahal baru kenal Linux lewat sebuah seminar saja. Saking keladuk-nya sampai-sampai menjadi benci pada Microsoft. Wow…wow…wow… padahal bukan itu yang dimaksud (beruntung, guru keladuk itu sepertinya sekarang sudah sadar).

Pindah ke FOSS termasuk Linux artinya memerdekakan diri dari kungkungan yang membatasi kebebasan untuk menggunakan, menyesuaikan, bahkan mengubah software sesuai keinginan dan kebutuhan pengguna.
Menggunakan FOSS termasuk Linux artinya menghormati karya orang lain.
Menggunakan FOSS termasuk Linux artinya menghemat pengeluaran untuk pembelian software. Karena banyak software dihasilkan dari luar negeri sama saja dengan menghemat devisa.

igos+007 -kalau masih kecil, diajari apa aja ya oke-oke wae-Kembali ke pembicaraan semula, guru yang saya maksud adalah pak Sawali yang baru-baru ini pindah ke lain hati OS. Yang saya heran, pak Sawali menyebut bahwa saya termasuk salah seorang di antara banyak orang yang ngompori untuk pindah ke Linux. Mungkin yang saya sampaikan adalah biasa-biasa saja, namun kebetulan cukup mengena, dan saya teringat kembali kata-kata lama “semua ini hanyalah masalah moral“… Padahal sebetulnya bukan hanya masalah moral, juga kemauan.

Dari berbagai catatan bertemu banyak orang selama 2 tahun terakhir ini ketika berkunjung ke beberapa sekolah untuk berbagai keperluan yang kebetulan berhubungan dengan dunia perkomputeran, ketika saya berbicara masalah FOSS dan Linux, banyak orang enggan mendengarkan. Kesannya adalah sulit, tidak familiar, pakai yang umum-umum saja, dan berbagai alasan lainnya. Yang saya lihat justru adalah keengganan dan kemalasan untuk belajar sesuatu yang baru. Banyak guru TIK yang saya temui di beberapa daerah di Jateng dan Jatim, rata-rata mereka menutupi kekurangannya (keengganan dan kemalasan) itu dengan menjadikan siswa sebagai kambing hitam. Kasihan siswa kalau setelah melanjutkan nanti mereka mendapatkan pelajaran TIK yang hanya berjendela saja, demikian menurut mereka. Padahal, siswa diajari apa saja ya oke-oke aja lho!… Ah… sudahlah…

Yang jelas, saat ini saya merasa cukup senang, apalagi di belakang pak Sawali (saya yakin) akan ada beberapa guru yang “urut kacang” bermigrasi ke FOSS…

Kalau para guru sudah bersiap di depan, kita “tut wuri handayani” mengikuti para teladan…

(gym)

Selamat kepada pak Sawali yang telah bermigrasi ke Ubuntu, dan kepada sedulur sekalian, saya sampaikan selamat menunaikan ibadah puasa Romadhon… semoga di akhir Romadhon nanti sedulur meraih kemenangan sejati…

Posted in: Fren