gOS -analogi pipis-

Posted on 17/09/2009

58


..::Tulisan ini ditulis dan diterbitkan pertama kali pada tanggal 23 April 2008::..

Kemarin, aku baru sempat membaca InfoLinux Edisi April 2008. Sebetulnya majalah itu sudah terbeli sejak awal bulan, tapi karena kesibukan dan kemalasan yang “ndilalah” sangat luar biasa, aku sama sekali belum sempat menyentuhnya sama sekali. Jadi, waktu aku membaca InfoLinux-nya sudah cukup lecek karena sudah didahului Diki. Hanya saja, dia tidak berani mencoba-coba sesuatu yang ada di 3 keping CD/DVD bonus-nya. Aku yang selalu menyediakan tempat kosong sebesar 11GB di harddisk yang siap dikorbankan untuk mencoba sesuatu yang baru yang didapat dari InfoLinux, segera mencoba satu per satu…

We.e.e.e.e.e… Mbah Darmo…. Mister X… We.e.e.e.e.e.e…

Ketemulah aku dengan gOS, distro Linux anyar keturunan Ubuntu yang sangat Green banget. Aku, seorang blogger anyaran yang suka pakai blogspot tentu saja senang (karena ada logo B di menu-nya).  Ditambah lagi desktop Enlightenment-nya yang mirip-mirip MacOS menimbulkan perasaan berbeda. Itulah Linux -kependekan dari GNU/Linux-. Tak lepas dari kelebihan dan kekurangan, selalu saja ada perasaan yang berbeda-beda saat menggunakan setiap macam distro-nya. Kalau pakai “jendela”, perasaan selalu biasa-biasa saja. Yang jelas, perasaan berbeda itu berikut perasaan tenang karena.. ya opensource itu, jadi bebas dicopy dan digunakan semaunya tanpa khawatir melanggar HAKI.

Tentang kelebihan dan kekurangan, ada cerita menarik sewaktu membeli InfoLinux di kios buku di lantai dasar SGM (Solo Grand Mall):

“Mbak, mau beli InfoLinux ada nggak?” tanyaku menyentak.

Si mbak yang cantik langsing nan seksi yang kupingnya tersumpal headset terkejut, rupanya dia sedang asyik mendengarkan musik dari HP-nya.

“Apa mas?”
“InfoLinux!”

“Oh.. ada!, Uh.. mas-e ini, bikin kaget aja”, rajuk si mbak sambil cengengesan agak genit. Mungkin berharap aku benar-benar beli majalah, tidak sekedar bertanya (dalam hati aku senang karena umur hampir empat puluh, anak sudah tiga tapi masih dipanggil ‘mas’).

“Berapa harganya mbak?”
“Emmh… empat puluh lima mas”
“Mahal banget!”
“Bonus CD-nya ada tiga lho mas”
“Oh ya?”
“Ya iya lah, masa ya iya dong”
“Hehehe…”
Aku ketawa sambil cengar-cengir sok pinter.
“Ya udah, beli itu saja”, kataku sambil mengulurkan lembaran limapuluh ribuan.
Sambil mengangsurkan majalah dan kembalian, mbak-e berkomentar,
“Mas kok suka Linux sih? Kan susah pakainya”.

Aku menahan diri untuk tidak menggaruk kepala, sebaliknya membusungkan dada, menyombongkan diri seolah pakar komputer yang paling jagoan. Sambil melirik paha seksi mbak-e yang terbalut blue jeans biru (eh.. sudah blue masih pakai biru), aku bertanya pada si mbak-e.

“Ummph… mbak suka pakai celana jeans atau pakai rok?”
Sebelum mbak-e menjawab, buru-buru aku lanjutkan.

“Yang biasa pakai rok, kalau pakai jeans akan mengeluh susah kalau mau pipis, yang biasa pakai jeans kalau pakai rok tentunya merasa nggak bebas kalau mau mencak-mencak”.

“Iya ya!” mbak-e seksi itu membenarkan.
Sambil sesekali melirak-lirik sekujur tubuh seksi mbak-e aku membalas;
“Ya iya lah, masa ya iya dong…”
Dan selanjutnya kami tertawa bersama.

Sambil berpamitan dan melempar senyum saat mbak-e mengucapkan terimakasih, aku berkata dalam hati, “Pakai jeans tapi gampang pipis juga bisa kok, pakai rok pun pengin bebas mencak-mencak juga bisa!”…

Catatan:

Tulisan ini telah dipublikasikan di blog-blog yang dikelola Andy MSE.