Kisah 9 huruf S

Posted on 26/10/2009

127


Nama saya diawali dengan huruf S.

Dulu, saya pernah bekerja di sebuah perusahaan S yang merupakan anak perusahaan dari sebuah perusahaan asing S. Waktu itu saya sempat mengajak beberapa orang dari sekitar tempat tinggal saya untuk bekerja di tempat saya bekerja. Salah satunya adalah Solichun Firmansyah.

Sayangnya hanya berlangsung selama beberapa tahun saja dan akhirnya saya tidak bekerja lagi di perusahaan itu. Kondisi moneter yang tidak baik juga membuat hampir semua karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja termasuk Solichun. Namun hidup harus jalan terus. PHK tidak membuat semuanya berhenti. Saya pun beralih pekerjaan menekuni berbagai bidang di antaranya mendirikan sebuah jasa pengetikan komputer di sebuah desa yang indah di lereng barat gunung Ungaran. Selama beberapa bulan saya melatih Solichun dari tidak tahu sama sekali menjadi ahli. Jadilah dia seorang pengetik cepat. Untuk mempromosikan kecepatan mengetiknya, unit usaha kecil itu diberi nama SPEED.

Jasa pengetikan ini sudah 3 kali berpindah-pindah kontrakan. Semua masih di lingkungan Desa Limbangan, Kec. Limbangan, Kab. Kendal. Di tempat ini saya seringkali menularkan berbagai hal kepada siapapun yang berkunjung ke sana. Seringkali beberapa orang ingin belajar Linux, lain waktu ada pula yang belajar nge-blog dari yang gratisan sampai cara mengelola domain, hosting dan CMS sendiri (juga menggunakan domain dan hosting gratisan). Ada yang ingin belajar mengetik, internet, atau belajar bongkar pasang PC, dan banyak pula yang nongkrong untuk nge-game atau sekedar ngobrol-ngobrol saja. Tidak disadari, tempat usaha kecil itu menjadi sebuah community center yang menjadi tempat banyak anak-anak muda belajar berbagai hal. Saking bebasnya belajar di SPEED itu, tak jarang membuat heran. Min Ngadiyono seorang buruh pemanen padi atau Pardi yang penyadap nira Aren tiba-tiba dijumpai sedang mengetik atau mengedit beberapa lembar surat untuk keperluan pelanggan, padahal pengetik sesungguhnya (Solichun) sedang ada keperluan di ibukota kabupaten. Banyak orang tiba-tiba memiliki kemampuan di luar dugaan. Tiba-tiba banyak yang mempunyai akun Facebook, tiba-tiba ada beberapa orang yang hobbynya membaca di internet. Beruntung karena tempatnya sedemikian terbuka, tidak ada yang berani membuka-buka gambar Maria Ozawa aka Miyabi.

Dan ketika ada beberapa orang yang mengenal suatu blog komunitas bernama Solve With IT, seminggu kemudian gambar di depan tempat usaha itu sudah berubah…

solve-with-it

Rupanya selain mencomot logo “S” itu dari tempat Solichun pernah bekerja dulu, “solve with it” juga menginspirasi… Yeach… walaupun itu mungkin saja melanggar hak cipta, saya hanya bisa berharap semoga pemilik logo “S” tidak tahu… Kepada pemilik solvewithit.com, saya juga mohon kelapangan hati agar kata-kata itu diperbolehkan menjadi penyemangat.

Oh ya, tempat jasa pengetikan itu berdampingan dengan sebuah warung makan milik  sang empunya rumah,  yang terkenal masakan belut panggangnya yang pedas. Di sebelahnya lagi juga terdapat tempat jualan pulsa, hp, dan aksesorisnya yang kebetulan juga anak lelaki dari pemilik rumah. Sedangkan di tempat jasa pengetikan itu, Solichun ditemani Hendra, seorang pehobby oprek-oprek motor yang nyambi jualan bensin.

Oops… nama pemilik rumah yang dijadikan tempat aneka usaha itu adalah pak Sukri yang punya anak perempuan yang akhir-akhir ini agak dekat dengan Solichun… Namanya Sri.

Syukurlah!…

Bila sedulur suka tulisan ini, silahkan berbagi melalui ikon di bawah ini!

Posted in: Aeng-aeng