Secangkir Kopi

Posted on 04/12/2009

58


secangkir kopi godog BojonegoroKopi memang sangat akrab dengan kehidupan saya. Ada masa-masa sekitar 5 tahunan saya bergelut dengan kopi. Waktu itu saya bekerja di sebuah pabrik pengolahan biji kopi untuk dieksport. Perusahaan PMA di Jl Rinjani Semarang itu sedikit banyak membentuk karakter bekerja saya, juga memberi banyak pengalaman terutama tentang perkopian. Episode kehidupan setelah tidak bekerja karena pabrik mengalami kemunduran merupakan episode kopi pahit, -walaupun sekarang menjadi kenangan manis.

Tahun 2003, saya pernah menerima email dari teman saya yang berisi sebuah tulisan. -Teman saya itu memang penulis yang rajin mengirimkan berbagai tulisan ke teman-temannya termasuk saya. Tulisan yang menarik tentang kosa kata kopi pahit.

[HALAMAN GANJIL]:

Anwar Holid, 29 April 2003
Kosakata Kopi Pahit
================

When all I do is pour black coffee. Since the blues caught my eye…
– Burke & Webster, “Black Coffee”

Baru ketika memasuki masa aktif berorganisasi saat mahasiswa saja saya suka kopi. Bisa jadi dipengaruhi oleh kawan-kawan berkumpul, yang kebanyakan memadukannya dengan kesukaan merokok. Kata mereka, kawan terbaik kopi itu memang tembakau. Tapi karena tidak merokok, saya barangkali bisa agak berbeda menikmati kopi dibandingkan mereka. Bukan apa-apa, setiap kali menyajikan kopi buat teman-teman, kata mereka selera saya parah, tidak jelas, tidak padu, tidak pas. Kadang-kadang terlalu pahit, gulanya tak terasa. Di lain waktu terlalu manis, kata mereka itu adalah gula campur kopi. Akhirnya mereka sering nolak jika saya tawari, memilih membuat sendiri. Dalam istilah Sunda, kopi bikinan saya itu “cawerang”–barangkali padanan paling tepat untuk itu adalah hambar, atau bahkan nirasa. Saya sendiri akibatnya mulai mencoba mencari cara lain menikmati kopi, yakni menyereputnya pahit-pahit, apa adanya, tanpa tambahan apa pun selain siraman air panas.

Secangkir kopi pahit
Awalnya, beberapa kawan tentu saja merasa aneh atas perilaku saya, sebab kopi seperti itu seakan-akan menawarkan kegetiran atau keputusasaan. Pahitnya kadang-kadang membuat lidah langsung merasa terkejut begitu mencecapnya. Tapi justru di sanalah intinya: kita tahu bahwa rasa kopi yang sejati ada pada kepekatannya. Ada yang harum, tapi tak begitu pahit. Ada yang pahit, tapi begitu menyegarkan saat kita mencicipinya. Ada yang kepekatan warna hitamnya sangat kelam, sehingga kita pun selalu bisa mengaca setiap kali akan meminumnya. Kopi memang pahit, tetapi pahit yang berbeda dengan kina atau obat, misalnya. Aneh bukan? Secangkir kopi yang saya minum ternyata mampu mengantarkan khayal atau imajinasi pada banyak hal, menemani kesendirian, setia sampai batas antara dedek (ampas) dan airnya tak jelas lagi. Ketika itulah saya sendiri bertanya-tanya, kenapa sampai menyukai dia sampai seolah-olah begitu akrab dan jadi sukar dipisahkan.
Barangkali karena usianya yang sudah begitu tua, kita tak lagi pernah mendapati kontroversi “penerimaan” pada kopi, meskipun hal serupa kadang-kadang masih tersisa pada tembakau (i.e. rokok) atau ganja. Padahal menurut Katib Chelebi, seorang penulis-penikmat kopi Turki abad ke-17, kopi pada awal ditemukannya mengundang banyak perdebatan, baik di kalangan agama maupun pemerintahan Islam. Di dalam buku terakhirnya, yaitu Mizan al-Haqq (Perhitungan Kebenaran), dia menulis sejumlah essay tentang masalah-masalah yang masih kontroversial itu, salah satunya adalah kopi. Tentu saja dia termasuk orang memihak pelegalan kopi, sebab pada 1657 ternyata dia ditemukan meninggal dunia ketika tengah menikmati secangkir kopi.
Menurut dia, kopi aslinya berasal dari Yaman, yang oleh orang setempat dinamai qalb wabun, dari pohon tertentu yang buahnya bulat-bulat kecil. Sejumlah syaikh, yang hidup bersama para darwisnya di gunung-gunung, memakan kopi dengan cara menggorengnya terlebih dahulu, membubukkannya, kemudian meminum airnya. Kopi adalah “makanan kering dingin, cocok untuk kehidupan zuhud (asketik) dan merupakan penawar/penenang nafsu syahwat atau berahi.” Orang Yaman saling tahu akan hal itu, sementara para sufi, syaikh, dan lainnya menggunakannya. Dari sana kopi menyebar ke seluruh dunia, tiba ke Asia Kecil pada 1543-an. Kopi kemudian menjadi komoditi, diproduksi, dikembangkan, menjadi bagian peradaban manusia. Jika Anda mau sedikit bergaya, di kota-kota seperti Jakarta atau Bandung, kini kopi bisa disajikan dengan penuh keistimewaan, dilengkapi sebagai gaya hidup dan diolah dengan berbagai cara dan rasa.
Jika kita mau sedikit awas, ternyata ada banyak turunan yang berasal dari kata “kopi” yang tentu saja memiliki makna khasnya sendiri-sendiri. Itu menandai bahwa kopi memang sudah begitu dalam berpengaruh pada kehidupan manusia ini. Dalam bahasa Inggris, “coffee” berasal dari qahweh, sebuah kosakata Turki. Mereka kemudian mengenal kata coffee table, coffee break, coffee cake, coffee house, coffee shop, coffee mill (coffee grinder), bahkan coffee-table book. Kamus elektronik Merriam-Webster’s Unabridged Dicitionary saja memuat sekitar 50 lema yang memiliki hubungan dengan kata coffee. Sebanyak itu! Dalam bahasa Indonesia, muncul antara lain kata kopi andelan, kopi gelondong, kopi pahit, kopi susu, kopi pekat, dan bisa jadi “kopi darat.” Dalam bahasa Sunda ada kata kopi careuh, kopi tubruk, juga uang kopi. Dari ranah musik dangdut Fahmi Shahab dulu sempat jadi fenomena karena menciptakan lagu yang sangat rancak, yaitu “Kopi Dangdut”–meskipun iramanya ternyata hasil bajakan.
Kata bentukan itu tentu saja khas budaya masing-masing penghasilnya. Orang Barat tentu tak bakal mau meminum kopi careuh, yang kata orang Sunda itu adalah jenis kopi terbaik, meskipun berasal dari tinja careuh (binatang sejenis kucing). Sebaliknya kita rasanya tak mengenal coffee house dan sejenisnya, sebab kopi di sini kebanyakan disajikan alakadarnya di warung-warung kopi (warkop) sederhana, sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja tanpa arah selain demi mengeratkan keakraban, dalam istilah singkat “ngopi”. Istilah ini mencakup banyak hal: bersantai-santai menikmati hidup, mungkin sambil makan kudapan atau merokok, membicarakan apa saja yang ke luar dari dalam hati, membicarakan kejadian-kejadian yang terlintas di dalam kehidupan. Itu berbeda dengan gaya hidup kaum intelektual dan kelompok penggemar lain di Barat yang menggunakan coffee house sebagai tempat pertemuan favorit pada abad ke-18 untuk mendiskusikan politik, sastra, dan topik lainnya. Begitu seriusnya obrolan di tempat minum itu, hingga pada 1675-an, Raja Charles II di Inggris diperingatkan oleh para intel agar berhati-hati terhadap kemungkinan adanya makar yang direncanakan dari warung kopi itu. Akibatnya warung kopi mendapat tekanan tinggi, salah satunya adalah dengan memungut pajak sangat tinggi terhadap penjualan kopi. Anda boleh percaya jika Jean-Paul Sartre, eksponen eksistensialis paling terkenal, sering berdiskusi tentang masalah serius di tempat seperti itu di Paris. Kini langkah itu dipraktikkan Christopher Phillips, seorang peminat filsafat, untuk mendiskusikan filsafat, pemikiran, juga kehidupan bersama banyak orang di dalam klubnya yang dia namai Socrates Cafe. Menurut Ali Audah, penulis novel legendaris Mesir Naguib Mahfouz juga sangat kerap nongkrong di warung kopi, menyapa dan ngobrol apa saja dengan kawan akrab atau kenalan baru. Hasilnya adalah serentetan karya yang sarat dengan realisme sosial masyarakat Mesir.
Apa kita benar-benar tak bisa membicarakan masalah serius di suatu warkop? Tanyai mereka yang mendatangi kafe-kafe itu, apa yang mereka bincangkan. Apa membicarakan hubungan antarpersonal, sebal pada seseorang, jenuh pada suasana kantor, bisa dikategorikan serius dan penting bagi kelangsungan moral manusia? Budaya dan adat kita memang berbeda dengan kebiasaan masyarakat Barat itu. Bisa jadi minum-minum kopi di kafe sejauh ini masih merupakan gaya hidup yang harus dibayar sedikit mahal, sementara kita juga belum bisa berharap terlalu banyak mendapatkan sesuatu dari obrolan itu. Dulu di saat awal krisis moneter, ada sekelompok kawan di Bandung yang pernah bikin kafe dengan niatan sebagai wadah untuk ngobrol-ngobrol secara menarik dan tajam, dalam suasana yang menyenangkan…. tapi nyatanya tidak berhasil. Barangkali karena merasa janggal, tempat seperti itu kok digunakan untuk ngobrol sesuatu yang malah bikin mumet. Bukannya orang datang ke sana untuk santai, meregangkan rutinitas, dan menikmati hidup? Tentu saja karena kenikmatan aroma, rasa, dan pengaruhnya, maka kopi menjadi kecintaan banyak orang, diminum ketika bersama-sama, merupakan bagian dari pergaulan, menjadi barang berharga, dicari-cari–selain karena secangkir sajiannya mampu memberi kenikmatan lebih pada kehidupan. Sebagaimana kata Katib Chelebi, kopi tidak memberi dampak buruk, bahkan dalam beberapa hal membantu orang, misalnya untuk menolak kantuk, melancarkan buang air, dan menyegarkan tubuh. Baru jika malah membuat seseorang sukar tidur atau gelisah, minum kopi dianjurkan dicampur dengan sedikit gula. Pada dasarnya Katib Chelebi menyarankan untuk minum kopi pahit.
Padanan kopi pahit dalam bahasa Inggris adalah “black coffee”, kebetulan juga merupakan salah satu judul lagu jazz standar favorit saya yang dinyanyikan ulang oleh Sinead O’Connor, ciptaan Burke & Webster. (Ada yang tahu nama lengkap mereka?) Lagu itu memang tentang kegetiran perempuan menunggu kekasihnya di rumah–sambil minum kopi pahit dan menghisap nikotin. Tapi di Bandung ada sebuah kelompok seni rupa bernama sanggar “Kopi Pahit”, yang dimotori salah satunya oleh Iwan R. Ismael. Sementara itu beberapa waktu lalu saya menerima email dari seorang kawan cyber, di awalnya dia sudah menulis, “Hei, kamu dapat kopi pahit ya?” Tahu sebabnya? Hahahaha, gara-garanya saya mendapat kecaman dari seseorang setelah mengedarkan tulisan tentang Noam Chomsky. Tahulah bahwa istilah itu memang memiliki beberapa konotasi. “Kopi pahit” dalam konotasi negatif tampaknya juga lazim kita alami dalam kehidupan sehari-hari, bukan?
Jadi saran saya: silakan buat secangkir kopi pahit dalam hidup Anda. Sesekali saja. Kapan saja Anda suka; entah pagi, sambil membaca koran atau sarapan roti. Siang ketika bosan pada panasnya matahari. Atau ketika malam sambil menikmati kesunyian. Tentu selain karena bukan perokok, minum kopi sambil merokok tidak saya anjurkan, sebab asap atau abunya bisa jadi mengganggu orang sekeliling. Hidup juga perlu sesekali terasa berbeda bukan? Rasakanlah bahwa pahit itu bukan sekadar getir, melainkan memberi nuansa tersendiri dalam keseluruhan jiwa kita. Barangkali Anda bisa mendapatkan sesuatu dari sana.[]wartax@…

Dalam perjalanan baru-baru ini melewati jalur tengah Jateng-Jatim,  dari Semarang menuju ke Purwodadi-Blora-Cepu-Bojonegoro-Lamongan-, rasanya sayang kalau saya melewatkan warung-warung kopi, terutama di wilayah Jawa Timur. Maklumlah, orang Jatim kebanyakan suka ngopi. Tiba-tiba saya teringat episode kopi dan kopi pahit.

Banyak macam kopi telah saya nikmati, dari gongsengan lokal di Indonesia sampai kopi bungkusan instan, bahkan berbagai minuman kopi di cafe  mahal ala Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur. Pernah pula saya menikmati kopi dari Blue Mountain Tanzania -kopi Arabika dari lereng Kilimanjaro. Namun, saya lebih suka kopi lokal, mungkin saja karena cocok dengan lidah Indonesia saya -walaupun sebetulnya kopi bukan asli Indonesia. Walaupun bukan asli Indonesia, beberapa jenis kopi Indonesia misalnya dari Gayo, Takengon, Toraja, -dan masih banyak lagi-, adalah kopi premium di pasar komoditi internasional.

kopi godog, sekali penyajian sekali godogan

Ada beberapa macam minuman kopi lokal yang saya suka. Kopi tubruk, kopi cong, kopi godog yang di Jawa Timur bagian selatan sering disebut kopi kotok, dan aneka kopi-kopi lokal lainnya. Cara pengolahan biji kopi bisa bermacam cara. Cara penggongsengan dan penggilingan bisa bermacam cara. Ada pula yang ditambah dengan bermacam campuran, misalnya dicampur beras, kelapa, jagung, dan lain-lain. Cara penyajian juga bermacam cara pula, ada yang digodog dalam panci besar sehingga kopi selalu panas dan mendidih, ada pula yang sekali penyajian sekali godogan -sehingga pinggir panci kecil yang digunakan berlepotan sisa kopi yang menambah aroma khas karena sebagian ada yang terbakar,- dan banyak cara lain, dan banyak pula yang asal tuang saja.

Namun, apapun kopinya, bagi saya yang paling nikmat bilamana saya bisa memilih biji , menggongseng, menggiling, dan menyeduhnya sendiri. Ada kepuasan tak terkira. Bagaimana dengan sedulur sekalian???

Gambar diambil di warung kopi di Lamongan, Jatim…

Tagged: ,
Posted in: Plesiran