Deadlock

Posted on 14/12/2009

34


deadlock-deadlockTadi malam saya mengikuti Rapat RT. Bukan di RT tempat tinggal saya, melainkan di sebuah RT di Kota Solo bagian timur, tempat proyek perumahan dimana saya menjadi pelaksana proyeknya. Sudah menjadi kebiasaan pelaksana-pelaksana proyek sebelumnya yang selalu diundang bilamana ada kegiatan RT setempat, saya pun menyempatkan hadir pada rapat RT itu, sekaligus menyampaikan sumbangan dari pengembang perumahan yang rutin dilakukan setiap ada pembangunan rumah baru.

Selain rapat rutin, malam tadi juga diadakan Pemilihan Pengurus RT karena pengurus sebelumnya telah habis masa jabatannya. Sebagai pihak yang netral, saya pun membantu beberapa hal yang bersifat netral pula misalnya penghitungan suara, penyaksian, dan lain sebagainya.

deadlock-rapat-rt

Ternyata, demokrasi di tingkat paling bawah yang merupakan ujung tombak pemerintahan sekaligus ujung tombok itu tidak selalu berjalan mulus. Pemilihan RT tadi malam, tidak memilih kandidat tertentu karena tidak ada yang mau mencalonkan diri sebagai pengurus RT. Disepakati, kandidat pengurus RT bersifat bebas, dimana setiap warga bisa mencalonkan siapa saja untuk diusulkan menjadi pengurus RT. Yang mendapat suara terbanyak itulah yang mendapat amanat untuk menjadi pengurus RT periode mendatang. Pada sesi penghitungan suara, muncul 13 nama yang diusulkan warga. Dari 165 warga yang hadir, karena sebagian telah pulang, hanya ada 112 yang mengikuti pemilihan. Dikurangi 4 suara abstain dan rusak, tinggal 108 suara sah. Calon terbaik mendapatkan 40 suara, di bawahnya ada 30 suara, dan sisanya terbagi untuk 11 calon lain yang diusulkan warga dengan selisih cukup banyak.

Permasalahannya, warga yang dicalonkan dan mendapatkan suara terbanyak MENOLAK menjadi pengurus RT. Yang mendapatkan suara di bawahnya pun tidak mau menjadi pengurus RT dengan alasan bukan dia yang memperoleh suara terbanyak. Saya tidak ikut campur dan tidak membahas lebih lanjut untuk menjaga kenetralan saya…

DEADLOCK!!!…

Sebagai jabatan sosial, menjadi pengurus RT lebih terasa sebagai beban dibandingkan amanah dan kehormatan. Bisa jadi karena tidak ada penghargaan yang cukup layak untuk pengurus RT, padahal beban pekerjaannya cukup lumayan.  Dan pikiran saya pun berkecamuk, membandingkan dengan pemilihan-pemilihan di tingkat yang lebih tinggi. Dari pemilihan kepala desa, bupati – walikota, gubernur, wakil rakyat, sampai pemilihan presiden, selalu saja banyak calon yang berebutan bahkan sering dijumpai uang bermain di belakangnya. Amanah telah tersingkir oleh kehormatan semu dan materi yang mengiming-imingi di setiap jabatan yang diperebutkan (belum lagi, selalu saja ada yang tertarik melihat peluang untuk korupsi)…

Bagaimana menurut sedulur sekalian???

Posted in: Cangkrukan