Cabe Rawit

Posted on 30/01/2010

50


Kecil dan pedas, itulah  cabai rawit atau cabe rawit (Capsicum frutescens)… Kalau di tempat saya namanya lombok rawit. Kalau di tempat Estiko yang punya Jimbun di Banyumas sana, namanya lombok cengis… Sama saja! Apapun sebutannya, lombok rawit yang pedas itu cocok sekali sebagai teman makan tahu serasi, tahu petis, tempe mendoan, combro, dan aneka gorengan lain. Juga menambah lezat pecel, mie ketoprak, tahu kupat, acar, oseng-oseng, dan aneka masakan lainnya. Bagi penggemar pedas, pas juga langsung diuleg menjadi sambal korek, sambal terasi, dan aneka sambal lainnya.

Saking pedasnya, muncul peribahasa “kecil-kecil cabe rawit“…🙂

Sore tadi, sepulang melanglang buana, saya melihat serumpun cabe rawit yang penuh berbuah di pojok depan rumah saya. Oh… rupanya dari situlah asal cabe rawit yang selama beberapa hari ini selalu tersedia di meja makan…

Cabai  kecil pedas sejenis ini memang bisa berbuah banyak dan bisa tumbuh dalam jangka waktu yang cukup lama, jauh lebih lama dibandingkan cabai merah. Ada juga jenis cabai rawit lain yang berwarna putih, tapi saya kurang suka, lebih suka lombok rawit yang hijau segar itu.

Aaaahhh… melihat rimbunnya si cabe rawit, juga rerumputan liar di sekelilingnya, saya baru sadar bahwa selama beberapa waktu ini saya disibukkan oleh urusan saya sendiri, sampai-sampai tidak bisa meluangkan waktu membersihkan halaman. (doh) Langsung saja saya berteriak, “Dikiiii! Besok bersih-bersih halaman!!!”… Dari dalam rumah Diki menyahut, “Okelah kalau beg beg gitu!”… (lmao)

Posted in: Sundries