Rambutan

Posted on 10/02/2010

57


Proyek perumahan yang saya kerjakan sekarang ini terletak di bagian barat daya Kota Semarang. Ketinggiannya yang kurang-lebih 200-400 meter dari permukaan laut, membuat suasana tidak sepanas di kota bawah*. Kecamatan Mijen, tempat proyek saya itu, adalah salah satu sentra durian dan rambutan. Bahkan, saking terkenalnya, di Mijen ada pasar krempyeng yang biasanya ramai setiap kali musim buah. Namanya Pasar Ace, mengambil nama dari rambutan (Nephelium lappaceum) yang bahasa Jawanya adalah ace.

[Lebih Lanjut Tentang RAMBUTAN]:

Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae, berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Kata “rambutan” berasal dari bentuk buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut.

Rambutan banyak terdapat di daerah tropis seperti Afrika, Kamboja, Karibia , Amerika Tengah, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Sri Lanka.

Tumbuhan ini menghasilkan bunga setelah 7 tahun jika ditanam dari biji, namun pada usia 2 tahun sudah dapat berbunga jika diperbanyak secara vegetatif. Rambutan biasanya berumah dua, tetapi bersifat androdioecious, ada tumbuhan jantan dan tumbuhan banci. Tumbuhan jantan tidak pernah bisa menghasilkan buah.

Pembungaan rambutan dipengaruhi oleh musim atau ketersediaan air. Masa kering tiga bulan menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembentukan bunga. Di daerah Sumatera bagian utara, yang tidak mengenal musim kemarau rambutan dapat menghasilkan buah dua kali dalam setahun. Di tempat lain, bunga muncul biasanya setelah masa kering 3 bulan (di Jawa dan Kalimantan biasanya pada bulan Oktober dan November).

Rambutan Unggul
Varietas unggul rambutan yang sudah dilepas Departemen Pertanian Republik Indonesia hingga 2005 adalah
1. ‘Rapiah’ dari Pasarminggu,
2. ‘Bahrang’ dari Langkat,
3. ‘Lebakbulus’ dari Pasarminggu,
4. ‘Sibatuk Ganal’ dari Sungai Andai, Kalimantan Selatan,
5. ‘Nona’ dari Kampar, Riau,
6. ‘Binjai’ dari Pasarminggu
7. ‘Antalagi’ dari Sungai Andai, Kalimantan Selatan,
8. ‘Sibongkok’ dari Sungai Luhut, Kalimantan Selatan,
9. ‘Garuda’ dari Sungai Andai, Kalimantan Selatan
10.’Tangkue Lebak’ dari Kecamatan Maja, Kalimantan Selatan,
11.’Narmada’ dari NTB,
12.’Kundur’ dari Riau

Selain itu, dikenal pula beberapa ras lokal yang juga dikenal baik untuk keperluan terntentu, seperti ‘Sinyonya’ dan ‘Sitangkue’ yang dianjurkan untuk digunakan sebagai batang bawah dalam okulasi. (wikipedia)

Sayang sekali, karena sekarang ini hampir tiap kepala keluarga mempunyai tanaman rambutan sendiri, seolah-olah rambutan di daerah Mijen tidak ada harganya. Banyak sekali dijumpai pohon rambutan yang penuh bergelayutan buahnya sampai merah merona tidak kunjung dipanen, karena biaya untuk panen tak seimbang dengan hasil yang didapatkannya.

Entahlah, mengapa bisa sampai seperti itu??? Padahal, rambutan di Mijen hampir semuanya adalah rambutan berkualitas… Bagi saya pribadi, sayang untuk dilewatkan…. dan… sudah dua minggu ini, selama saya di proyek perumahan, tak ada hari yang tak terlewatkan tanpa makan buah rambutan… GRATISSS… (mmm)

*) Semarang adalah kota yang unik karena terbagi menjadi kota atas dan kota bawah. lebih lanjut silahkan baca di sini

Posted in: Cangkrukan