Kecil tapi Berdampak Sistemik

Posted on 04/03/2010

63


Rasanya cukup lama saya tidak menulisi sesuatu di blog ini, kecuali sekedar membalas beberapa komentar atau mengganti tagline. Bukan karena apa-apa, hanya ada sedikit hal kecil yang mengganggu dan berdampak sistemik.

Selama 5 (lima) hari saya terkena radang tenggorokan yang parah. Ini membuat saya menderita nyeri hebat saat menelan sesuatu bahkan menelan ludah sekalipun. Serasa ada bola bekel yang lengket dan menyumbat tenggorokan saya.

Lebih lanjut tentang Radang Tenggorokan:

Radang tenggorokan berarti dinding tenggorokan menebal atau bengkak, berwarna lebih merah, ada bintik-bintik putih dan terasa sakit bila menelan makanan.

Apa penyebab radang tenggorokan?

  • Virus, 80 % sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, dapat menyebabkan demam .
  • Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi.
  • Virus coxsackie (hand, foot, and mouth disease).
  • Alergi. Alergi dapat menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis (menetap).
  • Bakteri streptokokus, dipastikan dengan Kultur tenggorok. Tes ini umumnya dilakukan di laboratorium menggunakan hasil usap tenggorok pasien. Dapat ditemukan gejala klasik dari kuman streptokokus seperti nyeri hebat saat menelan, terlihat bintik-bintik putih, muntah – muntah, bernanah pada kelenjar amandelnya, disertai pembesaran kelenjar amandel.
  • Merokok.

Kebanyakan radang tenggorokan disebabkan oleh dua jenis infeksi yaitu virus dan bakteri. Sekitar 80% radang tenggorokan disebabkan oleh virus dan hanya sekitar 10-20% yang disebabkan bakteri. Untuk dapat mengatasinya, penting untuk mengetahui infeksi yang dialami disebabkan oleh virus atau bakteri streptokokus.

Infeksi virus biasanya merupakan penyebab selesma (pilek) dan influenza yang kemudian mengakibatkan terjadinya radang tenggorokan. Selesma biasanya sembuh sendiri sekitar 1 minnu begitu tubuh Anda membentuk antibodi melawan virus tersebut.

Pengobatan dengan antibiotik tidak akan efektif untuk mengobati infeksi virus. Sebaliknya, pemberian antibiotik dapat menimbulkan resistensi atau kekebalan kuman terhadap antibiotik. Saat kuman telah kebal terhadap antibiotik tersebut, bila antibiotik kita gunakan, akan tidak ampuh lagi dalam membunuh kuman. Akibatnya, penyakit yang diderita tidak akan sembuh.

Kenali gejala umum radang tenggorokan akibat infeksi virus sebagai berikut:

  • rasa pedih atau gatal dan kering.
  • batuk dan bersin.
  • sedikit demam atau tanpa demam.
  • suara serak atau parau.
  • hidung meler dan adanya cairan di belakang hidung.

Infeksi bakteri memang tidak sesering infeksi virus, tetapi dampaknya bisa lebih serius. Umumnya, radang tenggorokan diakibatkan oleh bakteri jenis streptokokus sehingga disebut radang streptokokus. Seringkali seseorang menderita infeksi streptokokus karena tertular orang lain yang telah menderita radang 2-7 hari sebelumnya. Radang ini ditularkan melalui sekresi hidung atau tenggorokan.

Kenali gejala umum radang streptokokus berikut:

  • tonsil dan kelenjar leher membengkak
  • bagian belakang tenggorokan berwarana merah cerah dengan bercak-bercak putih.
  • demam seringkali lebih tinggi dari 38 derajat celsius dan sering disertai rasa menggigil
  • sakit waktu menelan.

Radang streptokokus memerlukan bantuan dokter karena bila penyebabnya adalah kuman streptokokus dan tidak mendapat antibiotik yang memadai maka penyakit akan bertambah parah dan kuman dapat menyerang katup jantung sehingga menimbulkan penyakit Demam Rhematik. (sumber: http://www.medicastore.com)

Sama halnya bila terkena sakit gigi, hal yang seolah kecil dan sepele itu membuat aktivitas drop total. Bisa jadi, kalau sakit gigi, dampak sistemik-nya lebih parah lagi. Secara kasat mata, seringkali seringkali orang yang terkena sakit sepele itu kelihatan segar bugar. Namun rasa sakit yang diderita membuat segala hal yang dilakukan serba tidak nyaman. Jangankan melakukan aktivitas, mendengar suara keras saja bisa menyulut emosi yang tak terkendali.

Ya… walaupun kecil dan kelihatan sepele, berbagai macam sakit seperti sakit gigi, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan lain sebagainya ternyata tidak bisa disepelekan.  Benar-benar berdampak sistemik

Tapi, membahas yang kecil ini tidak berarti saya membuat analogi serta melakukan pembelaan terhadap Century yang kecil itu bilamana tidak di-bailout akan berdampak sistemik… Itu hal lain karena menurut saya Century itu seharusnya cukup dibina saja, tepatnya dibinasakan… (lmao) Sedulur pun tentu  tahu bahwa akhir-akhir ini semenjak Kasus Century menyeruak di berbagai media, frasa “berdampak sistemik” pun ikut naik daun, terkenal, dan digunakan di berbagai hal (walaupun tidak mesti tepat). Saya tidak akan memaparkan definisi “berdampak sistemik” itu… Saya cuma ingin bilang bahwa saya pun ketularan menggunakan frasa itu, bahkan ada kejadian menarik tentang frasa itu.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti rapat rutin dua bulanan di Rukun Tetangga (RT) di tempat tinggal saya. Salah satu yang dibahas adalah meja pingpong milik RT yang selama ini ditempatkan di kebun kosong milik salah seorang warga. Sayangnya, meja pingpong itu jarang sekali dimanfaatkan warga, padahal pemilik kebun kosong itu sudah bela-belain menebang beberapa batang pohon pisang demi meja pingpong itu. Kata pak RT, nganggurnya meja pingpong itu bisa berdampak sistemik, karena bila nganggurnya meja pingpong itu mencapai 8 (delapan) bulan, sama saja menyiakan satu musim tanam pisang. Lain halnya bila meja pingpong itu dimanfaatkan sebagaimana tujuan semua sebagai arena olahraga warga RT.

Busyet… Pak RT juga ketularan pakai frasa “berdampak sistemik”… (lmao)

Catatan Andy MSE:

  1. Mohon maaf, tulisan ini tanpa gambar ilustrasi karena saya kesulitan untuk memotret sendiri tenggorokan saya yang bengkak…
  2. Frasa “berdampak sistemik” dalam tulisan ini hanya olok-olok saya saja, nggak usah dipikirkan secara serius… (lol)
  3. Secara khusus, ~tanpa mengecilkan komentator yang lain~ di tulisan ini saya ingin berterimakasih kepada mas Sriyono Wong Semarang yang setia menghajar komen di blog ini (backlink untuk komentator lain masih dalam antrian menunggu momen terbaik)…
Posted in: Catatan Sela