Serasah

Posted on 16/03/2010

52


Beberapa tahun lalu, ketika saya dan keluarga untuk pertama kali pindah ke rumah baru di Solo, hampir-hampir tidak ada bagian tanah di halaman yang cukup subur. Perlu waktu lama untuk membuat tanaman-tanaman hias yang ditanam untuk tumbuh baik dan subur.

Sekarang, keadaan sudah jauh berbeda.

Ketika 3 (tiga) bulan terakhir ini saya lalai untuk membersihkan halaman, memangkas, merawat, dan mengatur letak tanaman, tiba-tiba saya menyadari bahwa halaman rumah saya sudah mirip dengan hutan. Meluangkan waktu di Hari Nyepi ini, saya pun bersih-bersih halaman. Ternyata lebih dari 2 (dua) kuintal hasil pangkasan tanaman liar yang ada di halaman rumah saya.

Sebetulnya saya sayang untuk membuangnya begitu saja. Itu adalah bahan kompos yang cukup baik… Tapi berhubung tidak mempunyai tempat untuk mengolah kompos ~walaupun secuil tempat untuk menimbunnya~, terpaksalah saya pasrahkan kepada pak tukang sampah untuk mengangkutnya.

Beruntung, saya masih melihat serasah-serasah di seputar tanaman-tanaman di halaman rumah saya. Cacing tanah dan aneka jasad renik bergabung dengan pembusukan yang terus berlangsung didukung oleh kelembaban yang cukup di akhir musim hujan ini, setidaknya masih meyakinkan saya bahwa topsoil masih terjaga dengan baik. Saya pun masih bisa berharap tanaman-tanaman saya  akan terus tumbuh subur menyongsong musim kemarau yang akan datang.

Sungguh menyenangkan masih bisa menyaksikan kehebatan alam mikro dengan siklusnya yang rumit dan menakjubkan… Namun, seringkali kita tidak menyadarinya bahkan mengabaikannya…

Catatan Andy MSE:

  1. Semangat bersih-bersih hari ini terpompa karena Bekasi Bersih Partisipasi Blogger
  2. Update 17/03/2010: Berhubung ada yang belum mengenal kosa kata “serasah”, dipersilahkan untuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring
  3. Semoga Bermanfaat
Posted in: Catatan Sela