Anak Satu Seperti Enam

Posted on 02/04/2010

58


Renungan di Hari Peduli Autisme Sedunia

(dideklarasikan PBB 2 April 2008)

Hati ibu mana yang tak hancur saat mengetahui anaknya tak mungkin tumbuh normal seperti anak-anak lainnya? Catra didiagnosis autis, sebuah gangguan perkembangan yang masih asing pada masa itu. Di saat anak-anak lain mulai belajar berinteraksi, ia malah sibuk dengan dunianya sendiri, sebuah dunia yang tak bisa dimasuki orang lain, tak terkecuali ibu yang telah melahirkannya.
Benarkah harapan sudah sirna? Tidak, Catra harus bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya, sebuah keinginan yang tampak musykil kala itu. Namun, bersama uluran tangan sang ibu yang selalu siap memandunya keluar dari dunia soliternya, Catra menyingkirkan semua ketidakmungkinan yang membayang dan menggantinya dengan sebuah kebanggaan berbalut rasa syukur.

Dua alinea di atas adalah sinopsis buku “Tumbuh Di Tengah Badai” yang ditulis oleh : Herniwatty Moechiam, orang tua dari individu autistik dewasa yang saat ini menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri. Seorang ibu yang sangat luar biasa yang menceritakan suka dukanya mendampingi putranya yang terlahir sebagai individu autistik.

Lebih lanjut tentang Autisme:

Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:

  • interaksi sosial,
  • komunikasi (bahasa dan bicara),
  • perilaku-emosi,
  • pola bermain,
  • gangguan sensorik dan motorik
  • perkembangan terlambat atau tidak normal.

Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:

  1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
  2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
  3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
  4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
  5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

Diagnosa Perpasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme. [wikipedia]

Herniwatty Moechiam tidak sendiri. Masih banyak orangtua-orangtua luarbiasa yang mengasuh individu autistik.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang kawan saya semasa SMA. Dulu tidak begitu akrab. Tentu saja begitu karena dia seorang yang cerdas, berprestasi, jauh dengan keadaan saya yang sering menduduki posisi juru kunci. Pada waktu wisuda kelulusannya dari perguruan tinggi, kawan saya itu duduk di deretan depan, termasuk salah satu di antara 10 orang lulusan terbaik. Istrinya pun sama, cerdas dan berprestasi. Tak seorangpun menyangka dari individu-individu berkemampuan tinggi itu terlahir individu autistik. Anak pertama mereka (laki-laki) adalah individu autistik, sedangkan anak kedua (perempuan) tumbuh normal. “Rasanya seperti ada silet yang menghunjam ke dalam hati, saat mengetahui keadaan tersebut”, demikian penuturan kawan itu kepada saya suatu malam ketika saya berkunjung ke rumahnya membawakan sebonggol senthe wulung.

Ketika saya iseng menanyakan kepada istrinya mengapa si bungsu tidak mempunyai adik lagi, “Ah, mengasuh dua anak saja rasanya seperti mengasuh tujuh anak”… (woot)

Dengan segala hal yang dimiliki individu autistik, sepertinya benar juga bahwa mengasuh seorang individu autistik seperti mengasuh enam individu sekaligus. Lebih luarbiasa lagi, kawan saya suami-istri itu tidak hanya berjuang mengatasi segala kendala, hambatan, rintangan dalam mengasuh putra mereka, malahan mengelola Yayasan Yogasmara yang didedikasikan kepada individu dengan kebutuhan khusus termasuk autisma dan kepada seluruh anggota masyarakat pemerhati individu dengan kebutuhan khusus.

Ya… Autisme memang suatu keadaan yang tidak diinginkan siapa saja baik orang tua maupun anak autistik sendiri. Namun, keadaan itu tidak bisa dihindarkan ketika memang kita mendapat anugerah sekaligus cobaan dariNya. Masa-masa selanjutnya adalah masa Proses Perbaikan Yang Tak Menyenangkan. Hanya ada Ikhlas, Sabar, Tabah/Tawakal dan Selalu Mampu Bersyukur

Seorang kawan bernama Riwis Sadati menyampaikan pesan melalui sosial mediaTahukah kamu tgl 2 april adalah hari Autisme sedunia. Sudahkah kamu tidak menggunakan kata “autis” untk bercandaan sehari2?

Posted in: Catatan Sela