Catatan Hati Seorang Istri

Posted on 20/04/2010

82


Bukan… bukan… Ini bukan soal buku Catatan Hati Seorang Istri yang ditulis oleh Asma Nadia. Saya bukan penggemar buku itu, pun belum membaca semuanya, hanya sebagian kecil saja. Kalau istri saya sih penggemar berat, jadi hampir semua buku Asma Nadia  sudah dibaca sampai tamat.

Catatan Hati Seorang Istri yang menjadi catatan saya berkaitan dengan  Hari Kartini -21 April 2010- kali ini adalah kumpulan surat-surat R.A. Kartini kepada teman-teman Eropa-nya yang belakangan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Walaupun saya belum pernah membaca keseluruhan buku R.A. Kartini itu, menyimak beberapa suratnya, saya menangkap bahwa perempuan Mayong-Jepara itu adalah seorang yang cerdas, pandai berbahasa termasuk berbahasa asing, suka menulis (banyak tulisan Kartini dimuat di koran jaman itu -de Locomotief terbitan Semarang-), dan mempunyai  perhatian yang tinggi pada masalah-masalah sosial. Tak heran bilamana R.A. Kartini pun dianggap sebagai pelopor Emansipasi Wanita Indonesia.

Catatan Hati Seorang Istri Ke-Empat (Kartini adalah istri ke-4 Bupati Rembang) yang banyak berisi tentang ungkapan keprihatinan atas kondisi soaial perempuan tahun 1900-an yang mengalami kemunduran itu tentu saja berbeda dengan Catatan Hati Seorang Istri yang ditulis Asma Nadia yang berisi dialog hati, pertanyaan dan ketidakmengertian tentang isi kepala dan sikap laki-laki. Asma Nadia masih jauh kelasnya (setidaknya beda kelas) dibandingkan R.A. Kartini…

Begitupun, saya masih menyayangkan, Kartini yang mati muda itu kok lebih banyak menyimak buku-buku Eropa, Multatuli, Louis Coperus, Van Eeden, Augusta de Witt, Ny Goekoop de-Jong Van Beek, Berta Von Suttner, dan lain-lain. Seandainya beliau juga menyimak sejarah 300 tahun sebelumnya dimana seorang Grande Dame MalahayatiLaksamana Perempuan Pertama di Dunia– menghabisi Cornelis de Houtman, mungkin saja Kartini tidak sekedar menulis surat saja.

OOT:

Kalau jaman sekarang, barangkali Kartini kelasnya cuma nge-blog… (haha)

Walaupun begitu, dalam tataran yang berbeda-beda, ketiga perempuan di atas adalah perempuan luar biasa… Dan walaupun sama luar biasanya, -jujur saja- saya bingung dengan kelas perempuan yang gambarnya menjadi penutup tulisan ini… (thinking) Yang jelas, dalam segala aspek,  sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya, perempuan pada gambar terakhir ini tidak layak disandingkan dengan ke-tiga perempuan di atas.

Ini juga emansipasi??? (woot)

Posted in: Catatan Sela