Lulus 100%

Posted on 27/04/2010

44


Kemarin…

Tiba-tiba saya perjalanan saya berhenti setelah menerima notifikasi email penting via hape andalan. Saya harus membalas email itu dan mengirimkan sebuah attachment penting untuk sebuah institusi penting. Istirahatlah saya di pinggir jalan yang ramai di sebuah kota yang asing.

Netbuk dibukak byak, modem dipasang di port USB… clep.

Saat sedang konsen mencari-cari file penting itu, dari kejauhan ada sirine meraung-raung diikuti gemuruh knalpot bising.

Huasyem tenan… Ternyata ada anak-anak sekolah setingkatan SMA sedang konvoi merayakan kelulusan.

Baju, celana, bahkan rambut mereka penuh warna cat semprot. Mereka berteriak-teriak ramai diiringi hingar-bingar raungan knalpot. Beberapa tulisan yang sempat saya baca menunjukkan sekolah mereka LULUS 100%, entah berapa nilainya karena standarnya cuma empat koma beberapa dot.

Sumpah, dulu saya tidak begitu!

Saya lebih memilih pulang gasik dan tidur karena saya tahu bapak saya yang selalu pusing di pergantian tahun ajaran memikirkan biaya sekolah anak-anaknya. “Lulus itu hal biasa. Setiap tahun juga banyak kelulusan serupa. Berprestasi itu hal yang luar biasa, karena hanya segelintir saja yang bisa”. Demikian kata bapak saya.

———

Email penting beserta attachment penting telah terkirim di saat yang genting… Saya belum melanjutkan perjalanan melainkan merenung sendirian…

———

Jaman saya dulu, masih sering dijumpai beberapa anak yang sial atau super pekok yang nggak lulus dan harus ndongkrok… Mengulang setahun dan harus belajar keras selalu agar tahun depan bisa lulus tanpa malu.

Tahun-tahun kemarin, agak aneh ketika saya menjumpai anak-anak sekolah yang tidak lulus masih bisa melakukan ujian ulang (bukan ujian susulan yang diperuntukkan bagi mereka yang berhalangan)… Kalau masih saja tidak lulus mereka masih bisa memperoleh ijasah dari Kejar Paket yang juga berijasah sebagaimana sekolah reguler dan tetap sah.

Tahun ini masih juga ada yang namanya Ujian Ulang yang aneh itu.

Ditambah lagi keanehan lain dari pihak sekolah yang mengejar kum semata, entah bagaimana caranya berusaha murid-muridnya lulus 100% tanpa cela entah seberapa nilainya.  Mereka berkepentingan atas angka bergengsi agar tahun depan bisa mendapatkan murid sebanyak-banyaknya yang akan menghasilkan sebuah angka pemasukan sesuai prediksi. Sepertinya yang seperti itu justru didukung oleh berubah-ubahnya peraturan dari penguasa negara. Sepertinya negara pun berusaha mengalihkan tanggung jawabnya seperti dalam iklan menjelang pemilihan yang mengatakan bahwa “pendidikan tanggung jawab kita semua”, padahal yang terjadi hanya pengajaran saja, masih jauh dari pendidikan seperti yang seharusnya dilakukan…

Jaman telah berganti, semakin memprihatinkan dan menimbulkan lebih banyak pertanyaan dalam hati… Akan jadi apa anak-anak kita nanti???

gambar dari blog.kotareyog.com

Posted in: Catatan Sela