dari Kassandra sampai ke Escrava Isaura

Posted on 23/05/2010

41


Kassandra dan Isaura adalah tokoh dalam telenovela yang dulu pernah menjadi acara unggulan di beberapa televisi di Indonesia. Saya bukan penyuka telenovela, hanya ingat ada nama-nama itu saja. Jujur saja, saya hanya suka cantiknya.🙂

Namun, dua nama itu selalu saja mengingatkan saya akan sebuah Distro Linux yang menggunakan nama-nama perempuan untuk menandai rilisnya. Tak lain dan tak bukan adalah Linux Mint.

Saya mengenal Linux Mint sejak versi 3.0 Cassandra yang dirilis 30 Mei 2007. Waktu itu saya menyuntikkan XFCE ke Cassandra karena versi Light-nya belum muncul. Masa-masa bersama Cassandra adalah masa sejenak melupakan Mandriva 2006 yang menjadi partner dualboot di komputer yang saya gunakan. Ketika versi sesudahnya muncul yaitu Linux Mint 3.1 Celena dan Linux Mint 4.0 Daryna, saya sama sekali tidak sempat mencobanya karena kembali bersama Mandriva Spring 2007. Demikian pula ketika Linux Mint 5 Elyssa dan Linux Mint 6 Felicia dirilis, saya sama sekali tidak sempat mencobanya. Waktu itu saya sudah terkompori oleh Abi Gamitra menggunakan Ubuntu 8.04 Hardy Heron yang berlanjut ke Ubuntu versi-versi sesudahnya sampai sekarang.

Baru ketika muncul Linux Mint 7 Gloria, Linux Mint 8 Helena, dan baru-baru ini Linux Mint 9 Isadora (18/05/2010), saya kembali menggunakannya walaupun tidak mesti menjadi OS utama di komputer yang saya gunakan. Justru Bu Nooribunya Diki dan Nanin-, yang lebih banyak menggunakannya Gloria dan  sekarang masih menggunakan Helena. Saking senangnya sama Linux Mint nama Bu Noor di Facebook pun ditambahi dengan Isadora (add friend ya! biar senang!).

Nama-nama cantik Linux Mint inilah yang mengingatkan kembali ke urusan telenovela jadul walaupun tidak sama persis –Isaura > Isadora-…😀

Nah… Ketika beberapa hari lalu Linux Mint 9 Isadora dirilis, jujur saja, saya agak kaget (18/05/2010 – 15:15GMT) karena rilis ini tergolong cepat dibandingkan rilis versi terdahulu yang mengikuti induknya –Ubuntu– kira-kira 30 hari sesudahnya. Isadora ini dirilis nyaris 20 hari sesudah Ubuntu 10.04 Lucid Lynx (29/04/2010).

Pucuk dicinta ulam tiba. Di saat hanya mendapatkan koneksi internet yang sangat terbatas, saya dimintai bantuan untuk membetulkan beberapa komputer di sebuah warnet di pedesaan. Koneksi yang bagus rasanya sayang sekali untuk dimubazirkan. Alhasil, dua hari sesudah rilis (20/05/2010 – 05:43GMT), file iso Isadora sudah berhasil saya donlut sinambi menggarap perbaikan komputer di warnet pedesaan itu.

File iso sudah tersimpan dan sudah dibuatkan startup disk. Malah jadi bingung karena nggak tahu akan diinstall dimana? Ah… Tenang aja! Ini spesial untuk Bu Noor yang ngebet ganti Isadora.

Dan ini sedikit cerita saya setelah berkali-kali mencoba Live USB yang telah saya buat:

Barangkali bagi pengguna di Indonesia, Isadora lebih ramah dibandingkan dengan induknya Ubuntu. Menunya yang rapi sangat friendly dan memudahkan. Gambar, musik, dan lagu juga bisa langsung diputar. Aahh, tak usah berpanjang lebar, ini saya sampaikan sebagian dari menu yang disuguhkan Isadora:

  • Graphics; masih ada GIMP 2.6.8, berbeda dengan Lucid Lynx yang tidak lagi menyertakan GIMP.
  • Internet; tetap menggunakan Firefox 3.6.3 + Thunderbird, juga masih ada Pidgin. Mengikuti induknya, ditambahkan pula Gwibber.
  • Office; menyesuaikan dengan yang terbaru yakni Open Office 3.2 dari Sun MicroSystem.
  • Sound & Video; masih tetap seperti versi sebelumnya, dan tidak menyertakan Pitivi yang ada di Ubuntu 10.04.

Yang menyenangkan, Isadora sudah menyertakan startup disk creator, padahal di induknya sudah ada sejak Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex.

Oke deh!… Sedulur yang ngebet ingin bercinta dengan Isadora, silahkan menuju ke http://www.linuxmint.com/blog/?p=1403.

Barangkali ada yang kurang dan sedulur berkenan menambahkan???