Ngundhuh Wohing Pakarti

Posted on 09/06/2010

56


Sederhananya, peribahasa Jawa itu setara lah dengan Hukum Karma. Tepatnya, dapat diartikan sebagai menuai atau memetik hasil perbuatan. Dalam bahasa Indonesia, ada peribahasa yang senada; tak ada asap maka tak ada api. Dalam Fisika, ada Hukum Aksi-Reaksi.

Sebagai orang Jawa —walaupun asal-turunnya entah dari mana–, juga sesuai agama yang saya anut, saya sangat percaya pada ngundhuh wohing pakarti itu.

Orang bijak selalu bertindak hati-hati, berfikir jauh ke depan jika akan melakukan suatu pekerti, karena mereka yakin, apa yang mereka lakukan akan kembali pada diri sendiri. Jika melakukan pekerti yang baik maka akan mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya jika melakukan pekerti yang buruk juga akan kembali pada diri sendiri. Jika melakukan pekerti yang merugikan orang lain pun suatu saat diri sendiri yang akan merugi.

Menurut petuah religi, hanya pada umat terdahulu wohing pakarti akan diberikan serta-merta. Pada umat terkini, akan hanya sebagian kecil diserta-mertakan dan sebagian besar ditunda hingga akhir zaman.

Barangkali karena itulah umat terkini semakin tidak semena-mena. Berbuat apa saja sekehendak hatinya tanpa sadar bahwa wohing pakarti pasti akan dituai nantinya.

Berita-berita korupsi, mutilasi, aksi tipu-tipu, politik main kayu, mengumbar nafsu, dan lain-lain keburukan pekerti bertebaran di mana-mana setiap hari.

Akuntan yang baik dan tak mau curang pastinya akan dimusuhi, sebaliknya penggelap pajak dan pemalsu bukti transaksi akan dianggap berjasa bagi institusi.

Pengebor lumpur yang menyengsarakan ribuan orang di Porong pastinya masih tegak berdiri bahkan memperoleh posisi pada sebuah koalisi. Doa korban teraniaya tak akan terdengar karena merasa pasti wohing pakarti tak mempan sampai kini.

Orang alim beristri dua seperti Aa Gym nyatanya semakin dijauhi, namun Peterporn yang –katanya– kehilangan eksternal harddisk berisi 30an klip video mesum bersama dua lusinan perempuan, hanya berubah sedikit personal-brandingnya. Para perempuannya yang saat ini malu diri, pastinya akan muncul tak lama lagi. Polisi pun sedang menggebu-gebu mencari siapa yang pertama kali mengedarkannya karena merekalah yang dianggapnya paling bersalah, bukan para pelaku sejati.

Orang yang membela keyakinannya bisa jadi dianggap ekstremis atau teroris. Penindas yang sesungguhnya tak akan tersentuh karena terlindung secara sistemis.

Para penggelembung suara pemilu dan penjilat-penjilatnya dan penyebar uang pembeli suara bisa jadi akan berhasil memperoleh kedudukan bergengsi dan seolah berwibawa. Tak sadar bahwa mereka bagaikan duduk di atas bara.

Ya… Begitulah adanya… Barangkali sedulur punya cerita senada???

Dunia hanya sementara, sedulur!!!… Ingatkan saya untuk tidak menghakimi, karena suatu saat nanti kita semua akan ngundhuh wohing pakarti

gambar dari http://www.arcadja.com

Posted in: Catatan Sela