Teh Susu

Posted on 19/07/2010

74


Bicara soal teh susu atau milk tea di sini bukan berarti membicarakan mbak Sisyseorang ibu yang still look good in jeans– pemilik Blog Secangkir Teh Susu. Bicara soal susu pun bukan pula berarti membicarakan susu dalam arti payudara, apalagi mengarah ke susu gede sebelah. Bicara soal teh susu di sini benar-benar menyoal minuman yang terbuat dari campuran teh dan susu yang merupakan minuman yang lazim di dalam berbagai kebudayaan terutama di Asia.

Di Hongkong teh susu biasa disebut susu stocking karena warnanya mirip warna kebanyakan stocking atau kaus kaki ketat yang biasa dipakai wanita. Di Taiwan ada teh susu mutiara yang terbuat dari campuran teh dan susu yang ditambahkan bola-bola tepung berukuran kecil yang terbuat dari tepung sagu, tepung aren, atau tepung tapioka. Masih banyak lagi berbagai varian teh susu. Tehnya bisa teh merah, teh hitam, atau teh hijau, tentunya kalau menggunakan teh hijau warnanya menjadi lebih pucat. Susunya pun bisa beraneka macam, bisa susu segar baik susu sapi, susu kambing, atau susu kuda. Bisa juga susu olahan seperti susu bubuk atau susu kental manis.  *susu manusia sepertinya tidak layak untuk dicoba diramu menjadi teh susu*… Orang Mongolia biasa menggunakan garam sebagai perasa, namun kebanyakan gula sebagai pemanis yang lazim digunakan, walaupun kadang-kadang ada pula yang menambahkan sedikit garam untuk menajamkan rasa gurih dari susu.

Jujur saja, masa kecil saya kurang akrab dengan susu kecuali susu ibu. Itu sangat dipahami karena budaya di Indonesia terutama di pedesaan pada masa dulu jauh dari susu. Berbeda dengan di Arab atau di Eropa atau di India yang sejak ribuan tahun lalu masyarakatnya sudah akrab dengan susu. Belakangan saya juga merasakan ketika pemerintah gencar-gencarnya mencanangkan empat sehat lima sempurna, ternyata pada saat itu sedang teken kontrak membuka kesempatan bagi investor asing yang bersemangat memasukkan susunya ke Indonesia –pantas saja, sekarang makin banyak orang buka-buka susu-. Budaya susu pun dikenalkan oleh pemerintah kita dengan dalih urusan kesehatan atau kesempurnaan asupan gizi. Padahal menurut pakar gizi, untuk urusan asupan pangan bergizi yang penting adalah tersedia air, mineral, zat tenaga yang terpenuhi makanan yang mengandung karbohidrat dan gula, zat pembangun yang terpenuhi dari makanan yang mengandung lemak dan protein, dan zat pengatur yang terpenuhi dari makanan bervitamin. Persepsi di jaman sekarang ini, kalau tidak bisa minum susu bisa-bisa dianggap kurang gizi… (haha)

Saya sendiri, soal makanan lebih akrab dengan telur ayam kampung atau telur bebek yang diceplok, juga akrab dengan tempe goreng berkawan dengan aneka sayuran ditambah bumbu sambal pecel atau sambal parutan kelapa. Kalau buah-buahan sih selalu saja ada kesempatan untuk mencuri dari kebun tetangga, entah mangga, jambu, nangka, rambutan, dan lain-lain.

Soal minuman, saya lebih akrab dengan air putih, kopi atau teh saja. Jarang sekali minum susu karena anggapan masa itu minum susu untuk anak-anak saja, setelah agak besar sedikit dan masuk usia sekolah, susu tidak lagi banyak dikonsumsi. Bilamana kebetulan minum susu, biasanya selain susu segar paling-paling susu kental manis. Campuran yang lazim adalah kopi atau coklat, jadinya adalah kopi susu dan susu coklat. (mmm) Sesekali waktu saya masih kecil dulu, bilamana bapak saya pulang dari kota seringkali membawakan beberapa botol air soda dan segera membuatkan soda gembirasusu dicampur sirup (favoritnya sirup merah) dan air soda serta ditambahkan es batu agar menjadi lebih segar– untuk anak-anaknya. Waktu itu masih belum mengenal teh susu.

Sampai saya beranjak dewasa, saya tetap masih belum mengenal teh susu walaupun sudah mulai mengenal produk-produk di pasaran dimana susu pun tetap enak ketika dicampur dengan aneka rasa buah-buahan. Baru ketika suka plesiran dan melakukan perjalanan ke ujung Sumatera melalui lintas timur bertahun-tahun lalu, saya mengenal teh susu. Suatu waktu malam-malam setelah menyeberangi selat Sunda, perjalanan naik bus dilanjutkan terus ke timur. Singgah di  makan malam di rumah makan Begadang entah berapa karena selanjutnya ada beberapa rumah makan berjudul Begadang, dan ketika esok harinya pagi-pagi menjelang masuk kota Kayuagung sebelum Palembang,  singgah lagi di sebuah rumah makan. Saya menyempatkan mandi, sarapan, dan pesan susu hangat.

Saya tak tahu mengapa, yang disajikan menemani sarapan adalah teh susu. Mulanya saya heran, dan mencicipi teh susu atau milk tea  itu berasa agak aneh di lidah. Belakangan saya baru tahu bahwa teh susu sudah lebih dulu dikenal di Indonesia-Jauh itu dibandingkan di wilayah-wilayah Indonesia-Dekat lainnya…😀

Sejak itu, saya menyukai teh susu apalagi bila disajikan hangat di malam hari yang sejuk…

Apalagi sejak kepindahan saya ke Kota Solo alias Surakarta yang dekat dengan Boyolali Kota Susu, kota kelahiran ibu saya. Di Solo banyak sekali warung-warung tenda yang berjualan susu segar. Tentu saja ada pilihan menu aneka rasa. Biasanya, warung tenda susu segar itu judulnya berawalan dengan SHE, misalnya She Jack, She Joli, She Kancil, dan she-she lainnya. Entah mengapa judulnya pakai SHE begitu, saya sama sekali tidak tahu.

Kedekatan saya sekeluarga dengan susu menjadikan saya sekeluarga juga lebih sering mengkonsumsi susu. Bahkan, saking sukanya sama susu, kami berlangganan susu segar. Seminggu tiga kali ada penjual susu yang mengantar ke rumah. Bila di hari lain dimana penjual susu tidak datang dan kebetulan ingin minum susu, hanya berjalan beberapa puluh meter saja sudah bisa ditemui warung tenda susu segar… Dan kegemaran saya akan teh susu pun semakin gampang terlampiaskan…

Apakah sedulur suka susu?

Posted in: Catatan Sela