Kontroversi Tai

Posted on 31/07/2010

33


Tai atau biasa ditulis tahi adalah sisa makanan yang dikeluarkan melalui anus. Karena tahi itu kotor, banyak orang menyebutnya kotoran bahkan banyak pula yang menggunakannya untuk berkata kotor. Tidak hanya orang Indonesia, bahkan orang berbahasa Inggris pun menggunakan kata tahi = shit untuk misuh-misuh. Bagi saya pribadi, orang yang suka berkata kotor atau misuh-misuh menggunakan kata tahi berarti pemahamannya terhadap tahi baru sebatas kotoran saja. Padahal, tahi adalah salah satu bagian dari kehebatan metabolisme organisme khususnya pada sistem pencernaannya (digestive system).

tahi yang membuat lebih manis adalah tahi lalat🙂

Barangkali sewaktu misuh itu sama sekali tidak terlintas di pikiran bagaimana hebatnya sistem pencernaan bekerja mengolah makanan yang masuk melalui mulut melewati saluran pencernaan (gastrointestinal tract) yang mengolah makanan dengan proses mekanis dan kimiawi sehingga sisa-sisanya terkumpul sebagai tahi yang akhirnya dikeluarkan dan dianggap sebagai kotoran.

Sebenarnya, tahi benar-benar hebat, sampai-sampai MUI pun mengeluarkan fatwa berkaitan dengan tahi. Tentunya bukan tahi sembarang tahi, juga bukan tahi lalat yang seringkali malah membikin manis penampilan seseorang, melainkan Tahi Luwak.

Kopi Tahi Luwak

Selasa, 20/07/2010 14:05 WIB
MUI: Kopi Luwak Halal Setelah Dicuci
Ari Saputra – detikNews

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengumumkan fatwa yang menyatakan kopi luwak halal setelah melalui proses pencucian. Meminum, memproduksi bahkan memperjualbelikan, diperbolehkan. ( aan / nrl )

Bicara soal Kopi Tahi Luwak tentunya harus ditarik dulu ke kopi dan tahi luwak. Bicara soal kopi, urusannya adalah kenikmatan. Bicara soal tahi luwak, urusannya ke soal kekotoran dan kenajisan yang bisa menimbulkan keharaman. Namun, hukum dasarnya tetap mengacu pada “semua itu halal kecuali yang diharamkan“…

Nah, sebelum saya menyampaikan pendapat saya sendiri, ada baiknya dibahas satu-persatu.

Kopi; Buah, Biji, dan Pengolahan

buah kopi (coffee berries). buah yang sudah matang dan berwarna merah lazim disebut red cheries

Ada baiknya sedulur membaca tulisan ini menikmati secangkir kopi. Ada banyak cerita soal sejarah dan asal muasal kopi sehingga bisa dinikmati sebagai minuman kopi yang nikmat. Dalam kaitannya dengan Kopi Luwak, soal sejarah dan asal muasal tidaklah penting, yang penting dibahas adalah anatomi buah kopi itu sendiri dan sedikit melirik proses pengolahan kopi pada umumnya.

Buah kopi terdiri dari bagian luar yang merupakan buahnya yang bila telah matang rasanya manis. Di dalamnya terdapat biji kopi yang dilapisi kulit ari (epidermis) yang terlindung oleh kulit tanduk yang keras. Dalam satu buah kopi, umumnya terdapat dua biji kopi yang posisinya menangkup berhadapan. Biji di bagian paling dalam inilah yang diolah menjadi minuman kopi setelah dihilangkan kulit buah dan kulit tanduknya dan melalui proses pengolahan awal sampai menjadi biji beras yang kekeringannya maksimal 13%,  dilanjutkan proses  penggongsengan (roasting) sebelum pada akhirnya dihaluskan menjadi serbuk kopi.

Proses pengolahan awal sendiri ada dua macam yaitu pengolahan kering (dry processing)  dan pengolahan basah (wet processing).

Pengolahan kering (dry processing) banyak dilakukan petani-petani kopi karena lebih mudah dan praktis. Biji kopi yang telah dipetik digiling untuk membuka atau memecah kulit buahnya agar lebih mudah dilakukan pengeringan. Setelah dikeringkan, biji kopi yang masih bercampur kulit buah dan kulit tanduk menuju ke proses selanjutnya yaitu penyosohan (hulling) untuk memisahkan biji kopi dengan kulitnya. Setelah dikeringkan lagi sampai  standar pasar (standar perdagangan internasional dan standar penyimpanan adalah max 13%), petani kopi biasanya langsung menjualnya ke pedagang, pengolah kopi (roaster), atau eksportir.

Pengolahan basah (wet processing) biasanya dilakukan di pabrik-pabrik yang memiliki perkebunan sendiri karena kopi yang diolah dengan metode pengolahan basah adalah kopi petik merah (red cheries). Proses pengolahannya, pertama-tama kopi petik merah direndam  dalam air selama beberapa waktu untuk memberi kesempatan biji kopi terfermentasi. Selain itu juga untuk memisahkan buah kopi berbiji bernas yang tenggelam dalam air. Buah kopi yang tidak tenggelam dipisahkan untuk selanjutnya diolah menggunakan metode pengolahan kering. Setelah cukup terfermentasi dan kulit buahnya menjadi cukup lunak digiling (pulping) menggunakan mesin pulper yang tujuannya menghilangkan kulit buahnya. Hasilnya, adalah biji kopi yang masih terbungkus kulit tanduk. Biji-biji kopi berkulit tanduk ini dikeringkan sebelum disosoh untuk menghilangkan kulit tanduknya. Kopi beras hasil pengolahan basah berkualitas lebih baik dibandingkan dengan hasil pengolahan kering karena hanya buah tua, dan bernas saja yang bisa dilakukan pengolahan basah. Di pasaran internasional (mengabaikan jenis kopi robusta atau arabika atau lainnya), biji kopi hasil pengolahan basah mendapatkan harga premium karena mempunyai rasa yang khas apalagi bila didapatkan dari daerah-daerah yang terkenal dengan kopinya.

Luwak; Tahi dan Kopi Luwak

selain musang, cowok yang suka gonta-ganti pacar juga disebut luwak

Adalah sejenis musang. Kebanyakan bersifat omnivora atau pemakan segala. Ada jenis tertentu yang suka makan buah-buahan. Pada saat musim kopi, buah kopi yang matang dan merah adalah salah satu makanan kesukaan luwak itu. Karena pencernaan Luwak yang tidak bisa mencerna kulit tanduk yang melindungi biji kopi, maka hanya kulit buah saja yang tercerna dan biji kopi berkulit tanduk dibuang bersama tahi/kotoran. Di pedesaan, sudah sejak dulu tahi luwak yang mengandung biji kopi dikenal dan dipercaya bila diolah akan menghasilkan kopi bubuk yang istimewa. Semasa saya kecil di desa, sering pula menemukan tahi luwak ketika mencari kayu bakar di hutan. Biasanya, penduduk pedesaan mencuci tahi luwak itu untuk memisahkan biji kopi dan kotoran lainnya sebelum mengeringkan, menumbuk untuk menghilangkan kulit tanduknya, dan selanjutnya digongseng dan dibubuk.

Menurut saya, keistimewaan kopi luwak  itu karena luwak hanya memilih buah kopi terbaik  yang telah tua dan matang. Artinya, luwak melakukan penyortiran secara alami. Beberapa kali saya mencoba kenikmatan kopi luwak. Ternyata ada kemiripan rasa dengan kopi wet process walaupun ada rasa khas yang lain. Bisa jadi karena proses fermentasi yang berbeda dimana pada kopi pengolahan basah fermentasi dilakukan dengan bantuan air, sedangkan pada kopi luwak fermentasi dilakukan oleh sistem pencernaan luwak. Proses selanjutnya setelah diperoleh biji kopi berkulit tanduk adalah sama saja alias sami mawon. Walaupun begitu, kopi luwak adalah kopi istimewa dan langka serta hanya terdapat di Indonesia saja.

Keistimewaan kopi luwak yang harganya super premium dan terkenal di dalam dan di luar negeri itu menjadikan banyak petani kopi melakukan rekayasa pembuatan kopi luwak dengan cara memelihara luwak yang diberi makan buah kopi. Kotorannya dikumpulkan dan diolah menjadi kopi luwak. Sayangnya, luwak-luwak di tempat pemeliharaan ini tidak mesti menghasilkan kopi luwak yang benar-benar berkualitas. Seperti halnya binatang peliharaan lainnya yang bisa dipaksa melakukan adaptasi makanan, luwak peliharaan juga bisa  diadaptasikan untuk memakan kopi yang tidak mesti bernas dan red cheries. Akhirnya, kopi yang dihasilkannya pun tidak sebaik dan seistimewa kopi tahi luwak liar yang selain makan buah kopi juga makan beraneka makanan alaminya sehingga proses fermentasi kopi di dalam pencernaan luwak semakin komplit.

Pengolahan tahi luwak di peternakan luwak biasanya hanya dikeringkan, diretakkan/dihancurkan agar gumpalan tahi luwak kering pecah dan menjadi mudah disosoh menggunakan mesin huller sehingga diperoleh berasan kopi luwak murni.

Tahi dan Tahi Luwak

Tahi manusia adalah benda najis, karena itu bila tersentuh akan menimbulkan hadas. Karena najis, menjadi haram dimakan.

Bagaimana kalau tahi binatang?

Banyak pendapat berkaitan dengan najis tidaknya tahi binatang (batasannya adalah tahi dalam bentuk asli baik basah maupun kering sebelum terjadi perubahan misalnya berubah menjadi pupuk kompos atau berubah menjadi tanah dan lain sebagainya). Ada pendapat yang mengatakan najis, ada yang menajiskan tahi binatang tertentu, dan yang paling rendah adalah menganggap bahwa tahi binatang tidak najis. Akan tetapi, dari pendapat-pendapat tentang najis tidaknya tahi binatang, semua sepakat bahwa tahi binatang adalah benda kotor yang tidak bisa menyucikan. Bilamana diambil pendapat yang terendah yaitu tahi binatang termasuk tahi luwak tidak najis yang bila tersentuh pun tidak menimbulkan hadas,  tetap saja dianggap bahwa tahi luwak adalah benda kotor. Tentu saja bila akan diambil sesuatu dari tahi (dalam kasus ini adalah biji-biji kopi yang terdapat dalam tahi luwak), ya harus dibersihkan terlebih dahulu. Dalam urusan thaharah, benda yang paling utama untuk menyucikan sesuatu adalah air.

Oleh karena itu saya sepakat dengan Fatwa MUI. Ingat! Yang diambil dan dimakan dari tahi luwak adalah benda-benda tertentu yang terdapat dalam tahi luwak sehingga tidak berarti memakan tahi tersebut.

Menyusul pengumuman tentang fatwa tersebut, banyak pula simpang siur pendapat, di antaranya fatwa MUI tersebut konyol karena pencucian tahi luwak menggunakan air tidak efisien dari segi proses produksi dalam arti menambah tahapan proses dan biaya proses produksi kopi luwak. Pendapat ini sepertinya mengacu pada produksi kopi luwak yang dihasilkan peternakan luwak.

Saya pribadi tidak sepakat dengan adanya peternakan luwak. Selain perekayasaan yang bisa menurunkan kualitas kopi luwak, bagi saya luwak adalah binatang liar yang seharusnya tetap berada di alam liar. Mencukupkan diri pada memungut hasil dari alam liar bukan mengeksploitasi justru akan semakin membuat kopi luwak melejit semakin tinggi baik dari segi kualitas maupun harga.

Mantan boss saya di tempat saya bekerja dulu menuturkan via SMS (01/08): “Setelah beberapa tahun ini kita berhasil menjual Kopi Luwak Arabica ke Eropa, akhir-akhir ini pihak pembeli berbicara lain bahwa yang dibeli adalah Kopi Luwak ex Wild Cievet (luwak liar), sedangkan yang diternak dicap sebagai pemaksaan terhadap luwak dan saat ini mulai kurang diminati”…

Pemikiran ini (tentunya bukan semata-mata pemikiran saya sendiri) menginspirasi kawan-kawan di Sekolah Rakyat untuk menambah paket minum kopi luwak di desa yang menjadi bagian dari Wisata Pedesaan di Desa Wisata Konservasi Limbangan, Kendal.

Pada saatnya nanti, bila musim kopi tiba dan luwak-luwak sibuk mencuri red cherries, penduduk desa akan memungut tahi-tahi luwak yang ditinggalkan di hutan, di pinggir sungai dan di kebun-kebun. Para pegiat Sekolah Rakyat akan mengolahnya menjadi Kopi Luwak berkualitas tinggi dan menyerahkan kembali kepada penduduk desa untuk menjualnya kepada para wisatawan.

Sedulur suka Kopi Luwak??? Tunggu undangannya, nikmati Kopi Luwak sambil menikmati Wisata Pedesaan. Harganya pun cukup terjangkau…

Mari ngopi! (coffee)

Tulisan tentang kopi didasarkan pada pengalaman beberapa tahun bekerja di eksportir kopi. Tulisan yang berkaitan dengan keagamaan didasarkan pada studi literatur. Gambar dari Google.

Send from my CoffeeBerry@31072010 23:31 (coffee)

Posted in: Sundries