Faktanya emang begitu…

Posted on 11/08/2010

50


Lha wong bulan Puasa, tapi pengeluaran koq malah membengkak? wots wrong..??” demikian kata xitalho di plurk

Jujur saja saya ikut tersentil karena memang kenyataannya pengeluaran (keuangan) keluarga saya setiap bulan Ramadhan pasti lebih besar dibanding bulan_bulan lainnya. Budaya di masyarakat sangat mempengaruhi pembengkakan pengeluaran itu. Itu hal yang lumrah.

Saat orang berpuasa, apalagi berpuasa beramai-ramai sebulan penuh, ada yang karena badan terasa lemas menjadi malas memasak dan memilih cara gampang dengan membeli masakan untuk keperluan sehari-hari. > Pengeluaran akan bertambah…

Yang suka memasak pun akan memasak yang lain dari pada hari-hari biasa karena menginginkan kenikmatan lebih saat sahur dan berbuka puasa. Alasan lain adalah menjaga asupan gizi agar saat berpuasa tetap dalam kondisi fit. Ini juga lumrah, dan > Pengeluaran akan bertambah…

Setelah bulan puasa usai nanti, akan ada hari kemenangan walaupun tidak semua yang merasa menang benar-benar memperoleh kemenangan… Menang atau tidak yang penting bergembira. Puasa tidak puasa yang penting saat lebaran ikut bersuka-ria… Ini lumrah saja, dan karena terpesona oleh hari kemenangan yang nggak jelas itu sebagian orang malah sudah memikirkan lebaran di saat puasa pun belum dimulai. Ini manusiawi… dan > Pengeluaran akan bertambah…

Jadi masalahnya itu apa to?

Sederhana saja!… Perilaku menambah komsumsi di bulan Ramadhan itu yang menambah pengeluaran keuangan. Tentu saja tidak hanya itu. Kalaupun semua dilakukan dalam tingkatan yang wajar atau hanya sedikit berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa, tentu saja hanya sedikit perbedaannya. Cilakanya, perilaku ini dilakukan berjamaah secara makro, sehingga yang tidak menambah konsumsinya pun terkena imbasnya.

Kok bisa begitu?

Ya bisa saja! Saya rasa semua sudah paham soal invisible hand –tangan yang tak kelihatan– yang secara otomatis mengatur korelasi permintaan, penawaran dan harga. Bila konsumsi rumah tangga di saat bulan Puasa pun ditahan agar tidak serta merta mengalami kenaikan, masih banyak acara-acara khas bulan Ramadhan yang berpotensi menaikkan konsumsi misalnya tajilan bareng, buka bersama, pengajian-pengajian, dan lain sebagainya yang secara makro meningkatkan angka permintaan barang konsumsi.

Dalam situasi yang normal dan etis, itu tidak akan banyak berpengaruh. Lagian yang puasa pun sudah bersiap sebelumnya. Jadi secara umum semua akan baik-baik saja. Cilakanya, banyak pihak yang menangguk di air keruh, mulai dari mengedarkan daging busuk, daging glonggongan, ayam tiren, makanan kemasan yang sudah kadaluwarsa, dan lain sebagainya. Perilaku ekonomi yang secara empiris sudah mendapat stigma kenaikan setiap puasa dan lebaran menjadikan para penyedia barang dan jasa serta merta menaikkan harga walaupun permintaan belum mengalami kenaikan. Istilah Jawanya “Uwis dititeni yen  reregan ana undhakan“… Ditambah lagi ada kepercayaan dalam agama akan keutamaan meningkatkan amal ibadah dan sedekah. Khusus yang terakhir seringkali terhubung dengan urusan konsumsi.

Jadi harus bagaimana nih?

Tenang coy! Konsentrasi saja pada ibadah! Soal konsumsi ya biasa sajalah… Ini nggak berlaku pada saat puasa saja, namun juga menjelang lebaran nanti. Puasa dan Lebaran intinya bukan konsumsi saja!

Sedulur setuju pendapat saya? Atau ada tambahan yang mencerahkan? Silahkan!…

Gambar dari Neo Renggana

Posted in: Catatan Sela