Tiga Periode

Posted on 19/08/2010

58


Uhuk… Tiba-tiba saya tersedak ketika tangan kiri saya menyumpalkan cemilan buka puasa ke mulut sambil tangan kanan saya menari-nari di atas touchpad laptop. Beberapa situs sosial media yang saya buka penuh dengan pisuhan yang ditujukan pada Ruhut Sitompul alias bangpoltak.

Aahhh… Seharian berpuasa dan mengikuti sunnah tidur di siang hari membuat saya ketinggalan berita. Seketika adzan Maghrib dikumandangkan keras melalui TOA mushola, diledakkanlah emosi yang ditahan-tahan seharian. Es soda gembira segelas besar dan aneka penganan saya nikmati sambil membuka laptop bulukan yang terhubung ke internet melalui wvdial.

Topic menarik kemarin –walaupun bukan trending topic– adalah wacana demokratis manipulatif feodal yang dilontarkan #bangpoltak tepatnya #bangkoplak di media massa terkait dengan kepemimpinan negeri ini (presiden) yang telah memasuki periode ke dua. Dan wacana yang dilontarkan #bangkoplak adalah “lanjutkan” sampai 3 periode.

Sumpah! Bagi saya ini amat sangat koplak.

Beberapa kali amandemen Undang-Undang Dasar yang salah satunya berupaya membatasi periode kepemimpinan –tegasnya adalah masa jabatan presiden– tidak diperjuangkan dengan cara mudah. Memang sih, sebelum amandemen pun sudah jelas bahwa kekuasaan presiden adalah tidak tak terbatas. Namun, dalam kenyataannya Indonesia pernah mengalami masa kepemimpinan yang sangat panjang, sampai-sampai batas tidak tak terbatas menjadi semakin tak terbatas.

Memang tidak mudah, namun melihat prestasi tidak terselesaikannya banyak masalah di periode lalu dan periode ini dari aneka ledakan bom hijau sampai masalah eksistensi rasanya tidak bisa dijadikan alasan untuk melanjutkan. Anehnya, bangkoplak malah bangga saat wacana yang dilemparkannya menimbulkan pro-kontra.

Yeach… Sepertinya Ruhut Sitompul dan SBY sedang bersandiwara. Tak peduli banyak kata sinis terungkap di mana-mana yang bagi saya bukan hanya sinis melainkan membuat tertawa, misalnya: “Lama2 trik mendongkrak citra terbaca. Pagi hari badut dipaksa kentut, malam hari pendekar menebar aroma wangi. Trik preman tnhabang”… Atau menyindir bilamana anggota DPR/MPR disuap semilyar seorang agar bisa lakukan amandemen lagi, total setrilyun bukan harga yang mahal untuk melanggengkan kekuasaan seperiode ke depan.

Tidak semua salah yang di atas… Yan dibawah pun banyak yang bermental penjilat…  Menyebalkan!!!…

Suapan penutup buka puasa sambil menyimak akun twitter bohongan @Ruhutsitompul menjadikan perut kenyang sekaligus mulas kebanyakan tertawa. Namun di dalam hati saya tumbuh kesadaran baru. Baik atau buruk, inilah negara saya. Sayangnya, saya masih tidak bisa melakukan apa-apa…

Barangkali lebih baik menjadi Kumbakarna daripada menjadi Wibisana, apalagi Rahwana…

Posted in: Catatan Sela