Dalil Pembenaran: Nadzar Seorang Kaya

Posted on 07/09/2010

49


Tersebutlah di sebuah negeri, seorang kaya raya yang sedang mengalami sakit parah. Dokter, tabib, dukun, ahli pengobatan alternatif, semua sudah angkat tangan. Menyerah untuk mengupayakan kesembuhan. Si orang kaya pun putus asa, belum ingin mati tapi sudah tak ada jalan keluar. Maka, berdoalah dia dan bernadzar, “Bila sakitku ini sembuh dan aku bisa sehat seperti sediakala, aku akan menjual satu di antara beberapa rumahku yang ada di ujung negeri dan menyedekahkan hasil penjualannya seluruhnya untuk anak yatim”… Tuhan Maha Pengasih, tak berapa lama sembuhlah si orang kaya raya itu.

Manakala teringat akan nadzarnya, si orang kaya raya itu pun berfikir untuk segera memenuhinya. Diundanglah seorang kolega dagangnya yang juga kaya raya. Kepada sang kolega, disampaikan bahwa ia bermaksud menjual sebuah rumahnya yang terletak di ujung negeri. Harganya pun murah, hanya satu juta rupiah (harga sebelum redenominasi). Akan tetapi, kepada koleganya dikatakan bahwa rumah itu harus dibeli berikut sebuah ranjang usang yang ada di kamar belakang. Sedangkan harga ranjang itu adalah 499 juta rupiah. Sang kolega yang menghitung-hitung keseluruhan jumlah dan merasa bahwa harga 500 juta untuk sebuah rumah mewah di ujung negeri termasuk cukup murah, segera menyetujui dan membayarnya.

Transaksi selesai. Si orang kaya raya pun segera menyedekahkan sejuta rupiah hasil penjualan rumah yang disalurkan melalui sebuah yayasan yatim piatu. Uang sejumlah 499 juta rupiah dimasukkan ke dalam rekeningnya karena itu adalah hasil penjualan ranjang usang, bukan termasuk penjualan rumah.

Cerita di atas adalah cerita lama yang sambung-menyambung ditularkan melalui berbagai macam media, berkembang menjadi beraneka varian namun intinya tetap sama. Transaksinya sah! Sedekahnya sah! Tapi si orang kaya raya itu dalam pemenuhan nadzar melakukannya berdasarkan dalil pembenaran, bukan dalil yang benar. Dia tidak tahu bahwa Tuhan mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya, apapun itu, termasuk di saat dia ingin menipu Tuhan sekalipun…

…bersambung […]

Subhaanal malikil quddus… rabbuna wa rabbul malaaikati warruh…
Maha Suci, Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih… Tuhan kami dan Tuhan semua malaikat dan ruh…

Posted in: Catatan Sela