Dalil Pembenaran: Saling Memaafkan

Posted on 10/09/2010

46


Ramadhan telah usai. Saatnya lebaranberasal dari kata lebar yang artinya selesai-. Banyak orang bergembira dengan caraya sendiri-sendiri. Ada yang menyambut dengan menggemakan takbir, ada yang tedurmemukul bedug dan kentongan di masjid bertalu-talu berirama-, ada yang menyiapkan masakan istimewa, ada yang menyiapkan pakaian baru yang istimewa. Banyak orang merasa lebih nyaman bila merayakan bersama anggota keluarga sehingga bagi yang hidup di perantauan pun berkeinginan kembali ke kampung halaman (baik desa maupun kota). Karena anggapan bahwa orang yang merantau di kota itu asalnya dari desa atau udik, disebutlah mudik. Entah sejak kapan tradisi mudik dimulai, yang jelas sejak ada orang yang merantau. Di Jawa, istilah mudik juga mengalami kekaprahan karena dipakai untuk menyebut orang yang kembali dari ibukota. Bisa jadi karena pemudik terbanyak dari sana… (haha)

Kekaprahan lain adalah tradisi mengaitkan Hari Raya Idul Fitri -yang biasa disebut lebaran-  itu dengan perilaku saling memaafkan sehingga terkesan bahwa Idul Fitri adalah hari spesial untuk bermaafan. Sejatinya, Idul Fitri adalah perayaan kemenangan setelah 1 bulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu. Tentu saja bagi yang telah berjuang melawan nafsu, yang enggak berjuang ya biasa sajalah, nggak usah sok menang…😀 Bukannya nggak boleh saling memaafkan sih, tapi seharusnya saling memaafkan itu kan dilakukan kapan saja segera setelah berbuat kesalahan, ya to? Ada juga tradisi lain yang mengikuti perilaku orang orang sholeh terdahulu yaitu bersilaturahmi untuk meminta maaf menjelang masuk bulan Ramadhan dengan maksud agar jiwa menjadi lebih lapang pada saat beribadah di bulan suci itu. Itu sah-sah saja!

Anjurannya, pada Hari Raya Idul Fitri merayakan kemenangan dengan saling mengucapkan taqabballahu minna wa minkum -artinya: semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian-, yang dibalas dengan ucapan taqabbal yaa kariim -artinya: terimalah ya Yang Maha Memberi-. Ucapan taqabbalallahu minna wa minkum biasa diucapkan Rasulullah kepada para sahabat. Beberapa sahabat menambahkan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.

Ada juga yang memberi ucapan minal ‘aidin wal faizin. Yang ini tidak pernah  dicontohkan. Namun sepertinya ucapan ini didasarkan pada anggapan bahwa mereka yang telah meraih kemenangan pada Idul Fitri ini dalah kembali ke fitrah, kembali menjadi bersih karena telah tersucikan noda-nodanya. Secara harfiyah minal ‘aidin wal faizin artinya bagian dari yang kembali dan menang, secara maknawi: semoga kita termasuk golongan yang kembali (maksudnya kembali pada fitrah) dan semoga kita termasuk golongan yang meraih kemenangan. Ini juga sah-sah saja! Kekaprahannya karena ucapan minal ‘aidin wal faizin biasa diikuti dengan kata maaf lahir batin sehingga terkesan itu adalah arti dari minal ‘aidin wal faizin padahal sama sekali bukan itu artinya.

Nah… apapun ucapan-ucapan pada Hari Idul Fitri ini, semuanya baik dan bermaksud baik. Mangga kersa bagi siapa saja yang ingin sesuai anjuran ataupun berimprovisasi sendiri. Tidak perlu dalil pembenaran atas ucapan-ucapan yang baik karena yang terpenting adalah keikhlasan dari diri kita masing-masing.

Akhirnya, saya dan keluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri 1431H/2010M, taqabballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin… Komplit kan???😀

Posted in: Catatan Sela