Seberapa banyak Temanmu?

Posted on 17/09/2010

34


Bisa jadi saya termasuk orang kuno. Saya pernah mengalami masa pacaran yang masih model surat-suratan. Saya juga pernah punya sahabat pena –urusannya masih berkaitan dengan surat-suratan juga-. Seiring kemajuan jaman, model surat-suratan pun tergeser teknologi. Termasuk urusan surat-suratan via pos, pun sudah banyak ditinggalkan –kecuali untuk urusan resmi, pengantaran dokumen, barang, dan lain sebagainya-.

Dengan dibukanya layanan seluler yang mulai marak pada pertengahan dekade 90-an, model pertemanan selanjutnya berkembang menjadi hubungan elektronik. Apalagi semenjak internet semakin mudah diakses, pertemanan berkembang lebih jauh lagi melewati batas ruangan.

Walaupun begitu, itu semua tidaklah berkembang serta-merta. Butuh waktu, sedikit-demi sedikit bertambah maju. Namun, bila dibandingkan tahun ke tahun, perkembangannya dapat dikatakan sangat pesat.

Beberapa tahun lalu masih nggaya bila saat berlebaran berkirim telegram indah. Tak berapa lama sudah digeser SMS. Itupun tak bertahan lama sudah digeser instan messenger dan sosial media. Anak-anak muda jaman saya, kalau berpacaran masih suka tukeran foto. Sekarang nggak perlu minta foto. Asal pegang alamat fesbuk-nya, langsung saja comot foto yang paling keren dan disukai. Kalau kebetulan disetel lebih privasi, ya tinggal add fren aja! (haha) Ini diuntungkan dengan masih banyaknya orang yang belum menyadari kalau mereka telah membuka urusan privasi di ruang publik.

Aktivitas dunia dalam jaringan ini bisa mendekatkan yang jauh, namun banyak orang juga merasakan menjauhkan yang dekat. Tiba-tiba saya pun menyadari bahwa dari aktivitas itu telah menambah sekian banyak teman-teman baru yang sebelumnya tidak dikenal sama sekali, bahkan ada di antara teman online yang sampai sekarang belum pernah bertemu. Saat bertemu nanti, pastinya akan jadi kopdar seru.

Jujur saja, tidak semua yang saya temui di dunia online yang tidak saya kenal ingin saya jadikan teman. Seringkali saya tidak merasa cocok sehingga ajakan pertemanan pun saya abaikan. Pernah dulu saya agak ceroboh menerima begitu saja ajakan pertemanan walaupun saya tidak kenal sama sekali pun tidak ada kesamaan minat atau kecocokan atas sesuatu. Jadinya akun sosial media yang saya ikuti tak ubahnya seperti tempat sampah. Ini menjadikan saya menyeleksi lebih hati-hati dan menghapus banyak pertemanan dari ribuan menjadi beberapa ratus saja. Itupun masih saja ada yang saya tidak tahu sama sekali.

Bukan berarti memutus silaturahmi, melainkan hanya lebih berhati-hati. Banyaknya teman di dunia online bukan ukuran. Aktivitas di dunia nyata harusnya lebih diutamakan…πŸ™‚

Tulisan ini juga sebagai ungkapan maaf sedalam-dalamnya atas berbagai ucapan lebaran di blog dan sosial media serta media online lainnya, yang karena terlalu banyak tidak bisa saya perhatikan satu per satu…

Posted in: Fren