Komputer Rakitan Diki

Posted on 20/09/2010

57


Diki, anak saya sekarang sudah kelas 1 SMK di SMKN 2 Surakarta Jurusan TKJ (Teknik Komputer & Jaringan). Tentunya, ini jadi sesuatu yang menyenangkan bagi saya karena saya bisa menularkan sedikit pengetahuan yang menjadi hobby saya dan kebetulan berkaitan erat dengan jurusan yang Diki ambil di sekolahnya. Sebetulnya sih dulunya Diki ingin mengambil jurusan mesin, namun saya menyarankan agar mengambil jurusan lain. Bukan apa-apa sih! Beberapa kali Diki saya ajak bongkar pasang mesin motor, kadang sekedar melakukan perbaikan ringan motor atau mobil, ternyata tangannya tidak cocok.  Jari-jari tangannya terlalu lentik untuk memegang peralatan teknik mesin apalagi yang berat dan butuh tenaga kuat, lebih cocok bila memegang peralatan elektronik. (haha)

Beruntung Diki menuruti saran saya. Sebagai ungkapan kegembiraan, saya dan ibunya membelikan sebuah komputer baru yang saya beli dalam keadaan terurai belum dirakit secara utuh. Pelajaran praktek pertama yang saya berikan adalah merakit komputer itu, melakukan pengecekan, dan menginstall operating system beserta aplikasi-aplikasinya.

Keseluruhan komputer itu dirakit oleh Diki, sedangkan saya hanya mengawasi dan melakukan pengecekan akhir saja. Ini dia komputer rakitan Diki yang pertama:

Spesifikasinya cukup sederhana:

Mobo menggunakan Intel Desktop Board D410PT dimana processornya (Intel Atom D410) terpasang secara onboard. Sengaja saya pilih ini karena processornya yang hemat energi cukup menggunakan heatsink saja tanpa kipas. Lagipula processor yang terpasang onboard tanpa socket mengurangi sedikit kerumitan perakitan. Lain kali Diki akan saya coba untuk merakit board yang processornya dipasang pada socket dan mengunakan heatsink serta kipas pendingin, atau bahkan yang lebih rumit lagi.

Melengkapi mobo itu, terpasang memory DDR2 berkapasitas 2GB, DVD Rewriter Double/Dual Layer yang bisa melakukan baca tulis pada cakram sampai kapasitas 8.5GB, dan  dua buah harddisk masing-masing berkapasitas 320GB –sementara ini dipasang satu saja-. Keseluruhannya terpasang pada casing yang cukup baik —belakangan saya baru menyadari bahwa power supply yang sepaket dengan casing itu ternyata kurang stabil sehingga saya ganti yang berkapasitas sedikit lebih tinggi. Setelah saya oprek sendiri dengan mengganti kapasitor dan beberapa komponen lain, bisa saya gunakan dengan baik di komputer lain–.

Setelah selesai dan disambungkan dengan monitor lcd murahan, keyboard, dan mouse, komputer rakitan Diki siap dipasang operating system. Yang pertama adalah Windows XP Home yang tadinya digunakan di laptop lama yang sudah rusak dan beruntung masih bisa diaktivasi ulang sehingga tidak perlu membayar lisensi lagi… (haha) Operating system yang lain tentu saja adalah Linux dan pilihan Diki jatuh pada Ubuntu  10.04 LTS Lucid Lynx.

Sebetulnya saya ingin juga memasang  distro lain yang bisa dipilih saat booting antara lain OpenSUSE 11.3, Fedora 13, Linux Mint 9, BlankOn Ombilin, Debian Lenny, dan Zenwalk.  Namun, karena tidak ingin mengganggu kesenangan Diki, OS lain saya siapkan di harddisk satunya dan saya gunakan saat perlu saja.

Sebetulnya cerita serunya bukan soal merakit komputer dan menginstall operating system. Sudah umum diketahui bahwa menginstall Windows jauh lebih menyebalkan karena harus menginstall driver-driver, juga aplikasi-aplikasi lain. Ini berbeda dengan kebanyakan distro Linux yang datang dalam paket yang cukup lengkap. Bilamana kurang komplit pun gampang dicari di internet. Satu yang terpenting yang menjadi catatan Diki adalah saat melakukan instalasi operating system secara dualboot, titik krusialnya hanya pada pemartisian. Begitu hal itu terlewati, semuanya lancar jaya. Justru yang seru adalah saat pertama kali melakukan koneksi internet. Lebih banyak catatan-catatan soal itu, dan akan saya ceritakan lain kali saja. 😀

bersambung […]

Advertisements