Pemartisian saat Install Dual OS Windows-Linux

Posted on 23/09/2010

25


[…] lanjutan cerita sebelumnya tentang komputer rakitan si Diki…

Komputer yang sudah selesai dirakit Diki sudah lengkap di-install. Di Windows-nya, selain driver-drivernya juga diinstall aplikasi-aplikasi yang hampir semuanya menggunakan aplikasi bebas antara lain Open Office 3.3, GIMP, Firefox, dan lain sebagainya. Beberapa aplikasi berbayar masih dipakai, kebanyakan adalah games kesukaan Diki yang seringkali bisa menjadikan keasyikannya memencet joystick susah untuk diganggu…😀 Di Linux-nya, aplikasinya cukup lengkap untuk digunakan bekerja sehari-hari, namun butuh sedikit tambahan hal agar bisa digunakan untuk menyetel music, video, dan lain sebagainya.

Nah… Catatan Diki yang pertama adalah soal pemartisian pada saat instalasi dual OS.

Saya menyarankan, install Windowsnya dulu. Ini untuk menghindari kendala macetnya bootloader bilamana yang diinstall adalah Linux duluan, walaupun untuk mengatasi itu bukanlah hal yang rumit dan sulit. Sebagian besar distro Linux sudah sangat ramah terhadap operating system lain sehingga pada saat akan melakukan instalasi bootloader secara otomatis akan mencari tahu OS-OS lain yang sudah terinstall dan selanjutnya menderetkannya di pilihan yang disediakan pada saat booting.

alokasi partisi di hardisk komputer Diki

Di harddisk 320GB –kapasitas aslinya = 320071700316.16 B = 298.09 GB– yang terpasang di komputer Diki, pada waktu instalasi Windows disiapkan 39.06GB untuk Windows, 24.42GB untuk Linux, sisanya dibagi dalam dua partisi logikal masing-masing sebesar 97.65GB dan 136.96GB. Partisi-partisi itu diformat kecuali yang disediakan untuk Linux justru dihapus (un-alocated) sebelum melanjutkan instalasi Windows.

Catatan: untuk men-dualboot komputer yang sudah terinstall Windows, siapkan dulu partisi tersendiri bisa primer bisa logikal secukupnya. Saran saya setidaknya 10GB, dan bisa diletakkan di awal, di tengah, atau di akhir. Aturan baku tetap berlaku dimana partisi primer yang diperkenankan maksimal 4 partisi (termasuk extended), sedangkan partisi logikal di dalam partisi extended bisa lebih dari 4 partisi. Pemecahan partisi bisa dilakukan menggunakan aplikasi yang tersedia untuk Windows misalnya partition magic, dan lain sebagainya. Bisa juga pemecahan partisi ini dilakukan pada tahap pemartisian pada saat instalasi Linux, namun seringkali ada kekhawatiran pengguna pemula sehingga lebih nyaman bila partisi disiapkan sebelumnya. Jangan lupa diingat letak dan besarnya partisi ini agar tidak salah tempat nantinya. Untuk komputer Diki, karena sebelumnya harddisk masih kosong, sama sekali tidak ada kekhawatiran kehilangan data.

Setelah instalasi Windows selesai, selanjutnya diinstall Linux-nya. Pilihan Diki yang menggunakan Ubuntu 10.04 LTS Lucid Lynx cukup tepat karena Ubuntu yang menggunakan GRUB sebagai bootloadernya termasuk distro yang ramah dualboot. Tidak hanya ramah diinstall di partisi tersendiri (baik partisi primer maupun logikal), bahkan Ubuntu pun bisa diinstall di dalam Windows menggunakan wubi. Untuk distro Linux yang lain, caranya hampir sama, hanya kalimat pilihannya berbeda-beda.

Saat instalasi Ubuntu, pada saat masuk ke tahapan pemartisian, pilih pemartisian secara manual (advanced).

pilih "tentukan partisi secara manual"

Letakkan Ubuntunya pada partisi yang sudah disiapkan sebelumnya. Siapkan setidaknya dua partisi, yang pertama dengan titik kait (mountpoint) “/”, dan yang kedua untuk swap. Di harddisk Diki yang sudah disiapkan tempat sebesar 24.42GB  dimana untuk titik kait “/” disiapkan sebesar 19.56GB, dan swap sebesar 4.86GB.

Dan selanjutnya proses instalasi tinggal klik-klik-klik sampai selesai.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk Diki dan teman-temannya, karena walaupun Diki sudah mempunyai catatan oret-oretan sendiri ternyata masih kurang bisa mendokumentasikan dengan baik.

masih bersambung […]

Catatan Andy MSE:

Screenshot ke-2 hanya untuk menunjukkan pemilihan penentuan partisi secara manual di Ubuntu. Besaran partisi tidak bisa dijadikan rujukan. Gambar dari Blog Sugeng Harjono.