LMDE: Linux Mint Debian Edition

Posted on 13/10/2010

17


Maaf… Saya terlambat mencoba.

Itu karena rilis baru dan fenomenal dari Linux Mint yang diluncurkan pada 7 September 2010 ini baru saya ketahui pada 20 September 2010. Itupun bukan dari situs aslinya atau dari distrowatch dan sebangsanya melainkan dari sedulur blogger Rangga Aditya. aka gadgetboi. Disebut fenomenal karena bisa jadi Linux Mint Debian Edition ini menjadi tonggak sejarah bagi pengembang Linux Mint karena versi ini dibangun bukan lagi berbasis Ubuntu (turunan Debian) melainkan berbasis langsung pada Debian testing. Rilis ini memberi alternatif lain kepada penguna Linux Mint yang juga menunggu-nunggu pengembangan Linux Mint 10 yang saat ini sudah mendekati final.

Bagi saya, ini merupakan kejutan lain di tahun ini setelah BlankOn (juga turunan Ubuntu bin Debian) mengembangkan repository-nya sendiri, walaupun bagi “sekedar pengguna” seperti saya ini tidak berpengaruh signifikan. Yang penting bagi saya adalah, saya menggunakan free open source software sehingga saya pun merasa merdeka dalam menggunakannya.

Nah, kembali ke LMDE, saya pun akhirnya bisa mendapatkan ISO file-nya pada awal Oktober ini, beberapa hari sebelum rilis Ubuntu 10.10. Godaan untuk mencoba Ubuntu 10.10 Maverick Meerkat sementara menyingkirkan minat saya untuk mencoba Linux Mint Debian Edition. Jujur saja, di komputer-komputer lain yang bermesin lebih terkini misalnya Core2Duo, I-3 termasuk komputernya si Diki -anak saya- yang ber-Intel Atom D410, saya sangat menikmati Ubuntu 10.10. Akan tetapi di Seleyon Travelmate2420 yang saya gunakan sehari-hari saya agak kecewa. Bukan soal Ubuntu yang versi barunya jelas lebih canggih, namun soal kekuatan mesin jadul yang saya gunakan. Sebetulnya ada banyak cara untuk memperingan kinerja mesin agar tetap bisa menggunakan OS-OS terkini khususnya Linux, namun tetap saja tidak memberi kepuasan pada diri saya. Alhasil Ubuntu 10.10 hanya bertahan 2 (dua) hari saja di travelmate kuno itu dan segera digantikan oleh LMDE. Berikut ini ceritanya:

Kendala:

Linux Mint Debian Edition ini datang dalam bentuk iso file yang berjudul linuxmint-debian-201009-gnome-dvd-i386.iso. Namun, walaupun judulnya DVD, ukuran file-nya tidak besar. Hanya 874.6MB, sedikit lebih besar dibandingkan kapasitas maksimal sebuah CD sehingga masih cukup bila diumpankan ke sebuah flashdisk berkapasitas 1GB saja. Sayangnya, seperti Ubuntu 10.10 yang iso-file-nya ngadat ketika diumpankan ke USB Startup Disk, LMDE ini pun mengalami kejadian yang sama. Sialnya saya sedang tidak punya persediaan CD Blank. Beruntung saya mendapatkan share pengalaman empiris dari Andi Felani di sebuah komentarnya, dimana beliau juga mengalami kejadian sama saat membuat USB Startup Disk untuk Ubuntu 10.10.  Akhirnya beliau sukses mengumpankan Ubuntu 10.10 ke flashdisk menggunakan Unetbootin 494.

Saya meniru cara yang sama, dan….. BERHASIL…

Install:

Setelah bisa boot menggunakan flashdisk, live-nya dicoba dulu. Sumpah! Dari tampilannya hampir-hampir tidak bisa dibedakan ini Linux Mint yang berbasis Debian atau Linux Mint yang berbasis Ubuntu. Saat mencoba menginstall, barulah terasa ada perbedaan walaupun pada intinya tetap sama saja. Silahkan menyimak skrinsut step-by-step install LMDE yang telah saya buat namun telah dipublikasikan duluan oleh si Diki.

Finishing:

Setelah install selesai dan dilakukan reboot, ketahuan bahwa LMDE ini menggunakan grub 1.98 dan kernel 2.6.32-5-686. Barangkali karena menggunakan kernel dengan versi terdahulu dibandingkan Ubuntu 10.10 yang menggunakan yang lebih baru, laptop jadul saya lancar diumpani LMDE ini. Sedikit oprekan lain hanyalah mengurangi aplikasi-aplikasi yang dijalankan pada waktu boot melalui preferences > startup applications.

Finishing lain adalah soal touchpad tidak bisa digunakan untuk ngeklik. Ini karena settingan default-nya saja. Cukup lakukan setting pada preferences > mouse.

Hanya saja, saya tidak bisa menginstall WVDIAL menggunakan simpanan paketan wvdial yang saya ambil sejak menggunakan wvdial untuk Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope (Ubuntu sebelumnya masih ada wvdial dalam paket perdananya). Tak kurang akal,  menggunakan cara berbagi koneksi dial-up saya install wvdial melalui synaptic… Sebetulnya bisa juga melalui terminal/konsol, namun skrinsut ini tetap saya tampilkan sekedar untuk menunjukkan bahwa paket-paket yang tersedia di synaptic di LMDE tidak lagi berlogo Ubuntu melainkan berlogo Debian.

Yeach… selesai sudah…

Saya tidak tahu apakah akan bertahan cukup lama menggunakan Linux Mint Debian Edition yang ternyata lebih cocok dibandingkan menggunakan Ubuntu 10.10 yang telah dicoba kemarin…  Semoga saja iya karena akhir tahun ini masih akan diramaikan oleh rilis-rilis distro besar yang menggoda untuk dicoba.

Catatan:

Linux Mint Debian Edition ini bersifat rolling release dimana selain menyediakan update, iso file-nya juga akan terus menerus diperbaharui. Lebih lanjut silahkan menyimak situs resmi Linux Mint. Untuk review yang lebih lengkap, saya mereferensikan  Review Lengkap yang satu ini. Ada 7 (tujuh) halaman di sana yang mengulas secara menyeluruh, walaupun ada sedikit kekaprahan yakni LMDE ini bukan Linux Mint 9 Debian melainkan Linux Mint Debian versi 1.😀